Full Day Santri

Faisal Amri
Karya Faisal Amri Kategori Lainnya
dipublikasikan 15 Agustus 2016
Full Day Santri

Ini mungkin judul Insya’ (Pelajaran Mengarang) santri baru, jika diinggriskan. Kira-kira seperti ini terjemahan Indonesia-nya:

(Part 1)

Dinginnya udara pegunungan menusuk hingga ke tulang-tulang. Adzan jam 3 pagi terdengar begitu merdu. Aku kenal betul suara adzan itu, muadzin yang tidak asing. Putra muadzin tadi adalah seniorku di sini, alumnus ma’had ini. Yang menerima setoran hafalan Al-Qur’an setiap ba’da Maghrib, dan mengajari kami tahsin ba’da Shubuh dua hari sekali. Kini seniorku sedang menempuh studi di LIPIA Jakarta.

Sebagian santri masih terlelap. Aku mencoba bangun melawan kantuk. Ku lawan udara dingin yang kian menusuk. Lumayan. Masih ada sekitar waktu satu setengah jam sebelum adzan Shubuh. Untuk bertahajud menghambakan diri dan menghafal beberapa ayat Al-Qur’an.

Alhamdulillah. Tiga perempat halaman Al-Qur’an sudah ku hafal. Adzan Shubuh berkumandang. Kini giliran seniorku yang melantunkan seruan sholat itu. Tabaarokarrohmaan, suaranya persis sekali dengan adzan Shubuh Masjidil Haram Makkah.

Dalam hitungan menit, para santri sudah berdatangan. Dua alumni lain juga terlihat mulai memasuki masjid. Oh iya, mulai tahun ajaran ini ada jadwal tidur pondok untuk alumni. Salah satu tugas mereka adalah membangunkan Shubuh para santri. Dalam sehari ada dua alumni yang tidur di pondok.

Tak akan ku ceritakan secara mendetail. Gambaran ringkas saja dari Full Day kami.

Usai shalat Shubuh berjamaah yang diimami oleh mudir pondok. Kami bergegas menuju ke kelas masing-masing. Mengambil mushaf yang ada di meja-meja dan rak buku. Aku santri baru. Dua hari sekali ada jadwal tahsin, diampu oleh dua alumni. Biasanya kami memanggilnya dengan “Syeh”. Katanya sih panggilan itu sudah turun-temurun. Sebagaian dari kami diajar oleh Syeh Nuril, sang putra muadzin. Sebagian yang lain diajari oleh Syeh Kharis, alumnus angkatan pertama pondok ini. Sementara santri lama langsung menghafal Al-Qur’an secara mandiri.

(Part 2)

Pukul enam bel tanda berkumpul berbunyi. Kami bergegas berbaris rapi di halaman pondok. Ada tausiyah pagi secara bergilir dari santri. Sekaligus pemberian kosa kata baru, bahasa Inggris dan Bahasa Arab.

Alhamdulillah, kami sudah bisa curi start. Sekolah luar mungkin jam segitu baru berangkat ke sekolah. Ada yang nongkrong dulu mungkin. Ini ni’mat dari Allah. Jika pukul tujuh mereka-mereka baru masuk kelas dan mungkin belum dapat apa-apa, kami sudah dapat banyak point plus-plus. Sembahyang Shubuh berjamaah, ada pula yang Tahajjud, menghafal beberapa ayat Al-Qur’an, mendapat siraman rohani di tausiyah pagi, mendapat kosa kata baru Arab dan Inggris. Dan tambahan hafalan matan Al-Ajurumiyyah, ‘Imrithi, en Alfiyah ibn Malik.

Alhamdulillahiladzi bini’matihi tatimush shoolihaat.

(Part 3)

Ada waktu untuk MCK dan sarapan sekitar setengah jam. Pukul tujuh tiga puluh bel tanda masuk berbunyi lagi. Kami bersegera masuk ke kelas masing-masing. Menambah ilmu-ilmu baru dan melepaskan dahaga kami akan pengetahuan-pengetahuan yang belum kami dapat. Sesuai jadwal masing-masing. Entah itu Matematika, Fisika, Kimia, Bahasa Inggris, Nahwu, Bahasa Arab, dan lain sebagainya.

(Part 4)

Tak terasa matahari pun kian terik. Adzan Zhuhur terdengar melengking tinggi. Suara yang tak asing juga. Itu suara adzan anak kecil, sepupu dari Syeh Nuril. Baru menginjak kelas 6 MI, namun rajin ke masjid plus jadi muadzinnya.

Demi memenuhi seruang itu. Pelajaran ditutup. Santri berhamburan keluar, ada yang segera ke masjid ada juga yang “kosek-kosek ndikik”.

Jadwal memurojaah hafalan dan menghafal harus kami buat sendiri. Rata-rata santri usai shalat qobliyah Zhuhur dan menanti iqomah, mereka ambil mushaf masing-masing. Membaca ayat demi ayat. Suara syahdu bersaut-sautan di dalam masjid. Menjadikan masjid kian hidup dengan hidangan langit itu.

Usai shalat ba’diyah Zhuhur. Kami juga langsung segera mengambil mushaf. Mengaji, memurojaah, menghafal. Terserah masing-masing.

(Part 5)

Jam makan siang tiba. Santri-santri keluar masjid dengan tertib. Menuju ke dapur. Bau harum masakan begitu menggugah selera. Perut kami semakin gaduh ketika kami mengantri. Oh, iya budaya antri adalah budaya santri.

Suap demi suap nasi kami santap dengan lahap. Sebagai tambahan energi untuk pelajaran selanjutnya, pukul satu hingga pukul dua siang. Biasanya dua atau tiga santri “tertahan” di dapur sekitar sepuluh menit. Jadwal bersih-bersih dapur, mencuci alat-alat masak, dan kawan-kawannya. Wah, rajinnya mas santri ini, akhwat mana yang tidak klepek-klepek coba. Hihihi….

Capek juga nulis. Tetap semangat, Mat! Oh, tadi belum ta’arufan ya. Namaku Rahmat Hidayat, asli Ngapak, santri baru Pondok Kliwon.

(Part 6)

Wah-wah tak terasa sudah pukul dua siang. Pelajaran siang ditutup. Kami pulang ke kamar masing-masing. Bukan ke rumah lho. Hehehe…. Istirahat siang. Untuk memulihkan tenaga, menjaga stamina agar tetap fit, dan juga agar punggung bisa tegak saat Tahajjud nanti malam.

Ada yang mendengkur keras, ada yang panas-panas gini pakai selimut, pokoknya tidur mereka berbagai macem dah.

(Part 7)

Speaker masjid ada yang ditaruh di dekat kamar asrama. Cukup ampuh lah untuk membangunkan kami-kami yang tertidur pulas. Satu-dua-tiga santri terbangun, turun ke lantai dasar untuk mengambil air wudhu. Sebagian lain membangunkan teman-teman,” Ashar… Ashar… Ashar.” Ada juga yang saat iqomah Ashar baru terbangun. Berjalan setengah berlari, takut telat.

(Part terakhir ku gabung-gabung saja)

Wuh, cepat sekali hari ini. Sudah sore lagi. Beberapa santri keluar dari masjid, setelah membaca Al-Qur’an sekitar lima belas menit. Ada pelajaran sore hingga pukul lima. Semangat, Mat!!! Lillahmu dalam belajar berbonus jannah Allah insya Allah.

Ada waktu sekitar setengah jam untuk melepas penat, seba’da pelajaran sore. Yang mau unjuk kebolehan tiki-takanya boleh, yang mau berlari sekencang Messi juga boleh. Sepak bola sore.

Lima jam kemudian. Beberapa sudah mulai menahan kantuk. Waktunya tidur malam. Ku tulis karangan ini dengan septong-sepotong dalam part-part hehe…. Ketika dini hari ku tulis, masuk kelas ku tulis, mau tidur siang ku tulis, mau tidur malam ku tulis, dan sehabis pelajaran malam. Ada yang terlupa, setoranku dengan Syeh Nuril ba’da Maghrib tadi banyak salahnya dan tidak lancar. Sekarang saatnya tidur. Besok bangun awal. Melancarkan hafalan yang tak lancar tadi.

Rahmat Hidayat

Santri baru Pondok Kliwon

*Karangan Insya’ ini hanya fiktif belaka, apabila ada kesamaan tokoh, nama tokoh, dan cerita. Faisal mohon maaf yang sebesar-besarnya. Mohon maaf juga jika sudut pandang tokohnya “ghoiru wadhih” dari Aku berubah menjadi Kami, menjadi Mereka, dsb. Syukron.

Senin, 12 Dzul Qo'dah 1437 H

  • view 180