Kerinduanmu di Rumah Pertamamu

Faisal Amri
Karya Faisal Amri Kategori Renungan
dipublikasikan 15 Agustus 2016
Kerinduanmu di Rumah Pertamamu

Berapapun banyaknya kota rantau yang pernah kau singgahi. Sebanyak apapun itu. Sehingga mungkin jari-jemari pun tak dapat menghitungnya. Mungkin beberapa dari nama-nama kota, kau bisa terlupa. Tapi tidak untuk kota pertamamu, tempat kelahiranmu, tempatmu dibesarkan dengan keringat nafkah bapak-ibu, tempatmu bermain dengan suka cita. Ibaratnya, dalam alam bawah sadarmu masih tersimpan kuat dan tetap tersimpan kuat. Hingga terbawa mimpi dan mengigau saat tertidur.

Atau mungkin saat kau tersadar dari lamunan, kemudian melihat sekilas sebuah bus malam. Terpampang di kaca depan nama kotamu. Maka kerinduanmu seketika tumpah, bahkan mungkin air mata rindu mengalir secara perlahan. Dan saat bus itu jauh meninggalkanmu, maka seakan-akan harapan pulang kampungmu pupus seketika.

Sehingga kau buka kalender di kamarmu itu. Kau tengok sekarang tanggal berapa, bulan apa. Kau hitung dengan cermat. Kau lingkari sebuah angka dengan spidol warna. Tertulis di dalam lingkaran itu: Mudik.

Senyummu kian melebar ketika harimu sekarang dengan lingkaran tadi berdekatan. Tinggal menghitung hari. Menghitung dengan jari.

Mungkin, kau pasang status di jejaring sosialmu. H-sekian. Sebelum kau berangkat ke sebuah pusat perbelanjaan. Untuk berbelanja berbagai kebutuhan. Sarung yang indah dan adem untuk bapak. Atau baju gamis anggun untuk ibu. Baju sepak bola terbaru untuk adik-kakak. Kau bawa kantong-kantong belanjamu dengan riang gembira. Membatin sejenak,” Pak, Bu, Mas, Dek, sebentar lagi aku pulang.”

Tak terasa saat kau terbangun pagi buta. Semangatmu tak seperti biasanya. Pagi-pagi itu kau bersihkan kamar kosmu. Menyetrika beberapa baju dan celana. Memasukkannya ke dalam tas ransel besarmu. Tak lupa, beberapa oleh-oleh kemarin itu. Sembari menelepon untuk beberapa saat,” Bu, nanti sore aku berangkat dari Jakarta, besok Shubuh sampai insya Allah.”

Perjalanan safar yang tak ringan kau lalui dengan semangat 45. Capeknya perjalanan jauh tak terasa di badan. Beberapa kota kau lewati dengan mengingat-ingat khas bangunan alun-alunnya. Udara dingin yang kian menusuk, semakin menambah kerinduanmu dengan kota kelahiran.

Hingga terakhir, kau ketok perlahan pintu rumahmu. Terlihat asing memang, namun langsung terasa akrab bahwa itu rumahmu, itu kampung halamanmu.

Pintu dibuka perlahan-lahan, sosok teduh muncul dengan air mata bahagia. Kau kecup tangan ibu, ibu membalas dengan pelukan hangat, pelukan erat, pelukan kasih sayang seorang ibu. Muncul di belakang sosok berwibawa, kau disambut dengan perlakuan sama juga, dialah ayah. Adik-adik dan kakak-kakakmu juga sama. Sambutan yang begitu mesra, sambutan dari saudara, saudara kandung dan juga saudara seiman.

 Senin, 12 Dzul Qo'dah 1437 H

  • view 188