Kesabaran Baja

Faisal Amri
Karya Faisal Amri Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 08 Agustus 2016
Kesabaran Baja

Sungguh kesabaran para al-kiraam ini bukan kesabaran biasa. Kesabaran yang disertai dengan niatan tulus lillah, untuk mendidik generasi penerus. Kalau tanpa niat yang tulus mungkin mereka sudah “mandek” di tengah jalan.

Porsi bercengkerama dengan keluarga harus mereka bagi dengan porsi mengurusi generasi penerus ini. Adzan Shubuh segera beliau bangunkan anak dan istri. Kemudian segera bergegas menuju tempat yang sering disebut dengan penjara suci. Dengan ketelatenan, beliau bangunkan Shubuh para generasi penerus. Yang mudah bangun itu Alhamdulillah, yang dibangunkan “ping seket buntet” belum bangun juga, maka dibutuhkan kesabaran baja. “Mas, bangun Mas sudah adzan Shubuh.”

Ada sebentuk kesabaran yang lain. Saat para generasi penerus ini memang sedang masa-masanya mencari jati diri mereka. Yang patuh itu Alhamdulillah, yang sedikit mbeling maka beliau-beliau ini hadapi dengan kesabaran baja.

“Maafkan kami yang sering membuat antum-antum menjadi berpikir ekstra. Atas kenakalan kami. Ketidak patuhan kami terhadap peraturan. Atas keseringan kami dalam membolos. Main-main kami, dan malah tidur pulas saat antum-antum menjelaskan pelajaran dengan lugas. Banyak dari tugas-tugas yang sering kami sepelekan, kami pandang sebelah mata.”

“Kami sungguh kagum dengan kesabaran antum-antum  yang begitu luar biasa. Membalas kenakalan dan ketidak patuhan kami dengan do’a-do’a kesuksesan. Baarokallahu fiik, buurika fiik, ma’akumun najaah, dan do’a-do’a lainnya.”

Kesabaran baja dan ketelatenan dalam mengajarkan Haadzaa Kitaabun, Haadzihi Misthorotun, mampu mengantarkan beberapa dari generasi penerus ini dalam memahami kitab-kitab klasik. Seperti Audhoh Al-Masaalik Ilaa Alfiyah Ibn Maalik.

Kesabaran baja dan ketelatenan dalam mengajarkan Cermin Cekung, Cermin Cembung, mampu mengantarkan beberapa dari generasi penerus ini untuk lebih mendalami ilmu Fisika, di universitas-universitas.

Kesabaran baja dan ketelatenan dalam mengajari Asam Sulfat, H20, dan kawan-kawannya. Mampu mengantarkan beberapa dari generasi penerus untuk lebih mendalami ilmu itu. Kimia murni, Farmasi, dll.

Kalau boleh mengibaratkan, antum-antum sebagai pandai besi dan kami-kami ini sebagai besi panasnya. Kalian tempa kami dengan keringat bercucuran, tak peduli capek menghadang, untuk sebuah alat yang berkualitas. Pisau yang tajam, golok yang mempan, sabit yang indah mirip bulan sabit.

Semoga sedikit cahaya kesuksesan yang sudah mulai terpancar dari para generasi penerus ini, mampu mengukirkan senyum di wajah antum-antum.

Coretan ini teruntuk semua yang pernah dididik oleh pahlawan tanpa tanda jasa (guru, ustadz, ustadzah, dll).

  • view 151