Ramadhan Terakhir

Faisal Amri
Karya Faisal Amri Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 23 Mei 2016
Ramadhan Terakhir

Grabag, 29 Ramadhan 1434 H

Hari ini hari terakhir puasa Ramadhan. Jalan utama Grabag sudah mulai ramai. Lalu lalang kendaraan seolah tak pernah putus, ramai sekali. Sesekali terlihat orang berboncengan sepeda motor dengan membawa ketupat. Ada juga beberapa orang membawa dua sampai tiga kantong plastik, terlihat pulang dari pasar. Toko-toko pakaian di sekitarku juga sudah mulai diserbu pembeli, datang-pergi silih berganti. Counter handphone juga tidak kalah ramainya.

Satu-dua orang juga sudah mulai berdatangan ke toko buah milik orang tuaku ini. Kebetulan, setiap pagi hingga menjelang Dzuhur adalah jadwalku untuk melayani para pembeli. Bukan di pasar, tetapi di depan rumah. Rumah kami terletak sekitar dua ratus meter dari pasar, di jalan utama Grabag. Kulirik ke jam tangan Casio-ku. Jam Sepuluh lebih sepuluh menit. Alhamdulillah, jam segini sudah laku keras. Semangka Dragon laku delapan biji,  Semangka Kuning tujuh biji, Semangka Merah sepuluh biji, Melon enam biji.

Assalamu’alaikum.”

Berdiri tegap di depanku seseorang. Ia memakai sandal gunung Eiger. Celana hitam di atas mata kaki. Berbaju kemeja lengan pendek kotak-kotak biru. Berpeci putih.

Wa alaikumussalam wa rohmatullah,” jawabku sambil melihat wajah orang tadi. Oh rupanya Khalid, teman SD-ku dulu. Sekarang ia mengajar di sebuah pondok pesantren di Garut, Jawa Barat. Ia adalah seorang hafidz Al-Quran. Dan juga juara nasional dalam lomba tahfidzul quran setahun silam. Bacaannya merdu sekali, meniru suara Syaikh Abu Bakar As-Satiri.

Kami pun saling bersalaman dan berpelukan layaknya dua sahabat yang sudah lama terpisah. Khalid memang jarang pulang ke Grabag, hanya setahun sekali yaitu libur ‘Iedul Fitri. Itupun hanya dua minggu saja. Saat aku memilih nyantri di Al-Mu’min Ngruki dari MTs hingga Aliyah, kami jadi jarang bertemu. Ia bersekolah di Garut hingga Aliyah juga. Aku mengajar di Grabag, ia mengajar di Garut.

“Gimana Hid, kabar antum sehat kan?”

Alhamdulillah sehat, lha antum kok makin subur aja nih badan, he..he..”

“Iya nih, di Garut jadi tambah gemuk, mungkin karena banyak makan he..he..” jawab Kholid.

“Ibu bapak sehat juga kan Hid? Lama sekali aku tidak bertemu mereka.”

“Iya, mereka sehat, tuh lagi di belakang. Aku panggilkan ya.”

Nggak usah Hid, lagian aku juga buru-buru, habis ini langsung ke pasar, mau beli ketupat buat besok. Oh iya, Semangka Kuning satu kilonya berapa?” Tanya Kholid padaku.

“Satu kilonya empat ribu, setiap biji rata-rata ada empat kiloan,” aku menjawab sambil menunjuk ke arah semangka-semangka kuning itu.

“Carikan yang tiga kiloan saja, yang siap santap buat besok.”

Aku cari semangka yang terbaik. Kulitnya cerah, bentuknya bulat tidak penjol. Segera aku bungkus dengan plastik hitam. Kemudian aku bergegas menuju sepeda motornya. Aku taruh semangka tadi di atas Mio maticnya.

“Sudah bawa saja semangkanya.”

“Lho.. lho.. Hid.. Hid.. aku mau beli nih, kalau kamu nggak mau dibayar malah aku nggak jadi beli lho,” kata Kholid.

“Sudah-sudah, anggap saja ini hadiah dari seorang sahabat kepada sahabat lamanya, jadi jangan antum tolak Lid.”

“Wah, aku jadi nggak enak, hampir tiap kali beli di sini pasti nggak mau dibayar.”

“Sudah-sudah.”

Syukron Hid. Sekalian aku mau pamit, lagi buru-buru, ditunggu orang rumah.”

Kami bersalaman. Kholid menaiki sepeda motornya.

Assalamu’alaikum,” ucap Kholid sambil menstater sepeda motornya.”

Wa alaikumus salam wa rohmatullah, hati-hati jangan terburu-buru.”

Kholid memacu sepeda motornya menuju ke arah pasar Grabag. Aku kembali ke dalam toko. Aku lihat ada buku saku kumpulan Hadist Arbain Nawawi terjatuh di depan meja toko. Aku ambil buku itu, kuamati dengan seksama. Di sampul buku tertulis nama Kholid As Saif. Rupanya buku Kholid terjatuh. Pikirku, nanti saat ia lewat depan rumah lagi, biar ku suruh mampir. Baru sekitar satu menit setelah Kholid pergi tiba-tiba….

Duarr……

Terdengar suara keras dari arah Timur. Sontak orang-orang keluar, melihat apa yang terjadi. Aku pun keluar dari toko, melihat ke arah sumber suara. Di depan toko roti Mari, jatuh terkapar dua orang dengan dua sepeda motornya. Aku berlari kecil menuju ke tempat kejadian. Sudah lumayan banyak orang yang mengerumuni. Sebagian orang menggotong seorang perempuan yang menjadi korban tabarakan, sementara sebagian yang lain menggotong korban yang satunya. Ku amati dengan teliti si korban laki-laki, sepertinya aku kenal. Laki-laki bersimbah darah di kepala, dengan mata terpejam itu. Sandal Eiger yang masih terpasang di kaki kirinya, baju kemeja pendek kotak-kotak biru. Innalillah, itu sahabatku Kholid. Aku terus mendekati tubuh yang terkapar di trotoar jalan depan toko roti Mari itu.

“Mas Zahid kenal orang ini?” tanya salah seorang kepadaku.

“Kenal, dia sahabatku, barusan, satu menit yang lalu ia membeli semangka di tempatku,” jawabku.

Terdengar samar-samar dari mulut Kholid  yang terus mengucurkan darah itu, lantunan ayat suci Al-Quran. Ia tidak sadarkan diri, matanya terpejam, terjadi pendarahan hebat di kepala, darah mengucur menganak sungai. Tetapi mulutnya terus melantunkan ayat suci Al-Quran. Sebagian penggotong atau yang memapah Kholid takjub bukan main. Mereka menggotong korban tabrakan luka berat yang terus melantunkan Al-Quran. Dengan sigap aku meminjam sepeda motor. Aku dan salah satu warga mengantar Kholid ke Puskesmas Grabag. Sementara dua orang lain juga mengantar korban tabrakan yang satunya.

*******

Sesampai di Puskesmas, Kholid dan korban perempuan tadi di bawa ke UGD. Dokter mengatakan bahwa mereka sudah angkat tangan. Kholid tidak bisa diselamatkan, sementara si perempuan masih kritis. Akibat tabrakan hebat tadi.

“Nak Zahid, kami sudah usaha maksimal namun Allah berkehendak lain, Allah ambil nyawa temanmu. Tetapi saya dan segenap perawat begitu takjub. Sebelum temanmu meninggal, ia terus melantunkan ayat suci Al-Quran,” kata dokter Soleh yang merupakan tetanggaku.

Fiktif belaka...

  • view 95