ULASAN NOVEL "PUYA KE PUYA"

Faisal Syahreza
Karya Faisal Syahreza Kategori Buku
dipublikasikan 28 Januari 2016
ULASAN NOVEL

?

?

Kepercayaan kepada surga adalah hal yang terasa murahan semata, Puya ke Puya tak memberi garis benang merah yang pasti untuk sampai surga lewat agama, adat-istiadat dan cinta.? Puya sebagai surga di sana, jauh tak dimiliki orang-orang yang di kepalanya disesaki keruwetan beragama, zona teritorial tradisi yang ketat sampai pengagum cinta buta (mirip representasi negeri kita akhir-akhir ini). Hal-hal tentang tempat yang agung untuk menjadi mulia sebagai tujuan akhir sangatlah mahal harganya. Tradisi sama dengan kaku, agama sama dengan musuh alamiah manusia, dan cinta melulu soal kekalahan artifisial, yakni tak jadi saling memiliki.

Sinisme anak muda dengan benalu masa lalu pada diri Allu, rasa bersalah arwah terkandung Rante, pasrah dan penerimaan kekalahan sosok Tina, kasih tak sampai cinta belia arwah pada Maria, berahi murni dan banal ?sosok Siti, penggila harta ?Marten, tipu muslihat ?Malena, dan tokoh-tokoh kuasa seperti Ibu Pohon dan Pemilik Modal Tambang Nikel semua berputar sekaligus bertukar posisi. Mereka; gambaran kita yang pernah dilakoni sebagai kemunafikan hidup ?mengharap surga dengan gemar bertahan dalam kelakuan penghuni neraka.

Faisal Oddang menempuh berbagai kemungkinan dalam menulis novel Puya ke Puya; dari sudut penceritaan, pergeseran keyakinan tokoh, warna konflik yang ekstrim sampai kejutan-kejutan ekstra dalam cerita.

Untuk memutuskan penceritaan dari tiga sudut pandang tokoh berbeda saja, Faisal Oddang sebenarnya mengambil resiko. Narasi leluhur yang dihadirkan sebagai petunjuk jalan misalhnya juga ikut meramaikan. Dasar anak muda! Bagi saya, Oddang memang dalam godaan tingkat tinggi untuk terus bereksplorasi, seterjal apapun dan kalau bisa kental malahan.

Krisis tokoh Allu sebagai mahasiswa Jurusan Sastra, mungkin ia bisa menghadapinya, dikarenakan temuan lapangan minimal referensi dalam dirinya sendiri.

Berberda pada tokoh Rante yang menjalani prosesi ?mayat sakit? dan Maria, arwah bayi yang mencapai dewasa dalam dunia (kuburan) Pohon, Faisal Oddang mengandalkan usaha dirinya dalam ber-kontemplatif. Maksudnya, antara subjek dan objek tokoh dibiarkan membaur. Tak memiliki peranan pasti, pasif akan takdir dan nasib yang terus ikut mengawal alur cerita. Satu sisi, Rante berhutang pada keluarganya atas segala kesalahannya dalam memenuhi sisi material semasa hidup, satu sisi tuntutan hasrat yang dibawa mati (yang mana arwah di sini masih membawa sifar manusianya) memenuhi perjalananya sampai ke Puya. Maria pun sama, sebagai arwah ia memiliki sifat manusia pada umumnya, yakni jatuh cinta.

? Tidak ada surga yang diceritakan dalam Puya ke Puya, semuanya hanyalah chaos persepsi antara agama, adat-istiadat dan cinta. Saling menggugurkannya satu sama lain, karena kepentingan mendadak dan tiba-tiba mendesak untuk segera dipenuhi. Toraja sendiri bagi saya, sudah sampai pada tahapan budaya yang laku dijual. Dianut untuk dipertontonkan sebagai barang pasar lembaga pemerintahan, pariwisata. Mulai dari letak geografi yang laku, sampai kekhasan yang sengaja dijaga demi tampak asing di tengah hausnya masyarakat dunia atas spiritual.

Sayangnya, pemenuhan nilai spiritual ini bukan untuk menjadi tolak ukur hidup, tapi sebagai ?mainan? baru dri sebuah warisan masayarakat, anggap saja penyelematan kesadaran pemeliharan. Begitulah kiranya, saya menepuk pundak saya sendiri ketika selesai membaca novel Puya ke Puya. ???

? Seberapa pentingnya surga mengundang hasrat manusia untuk mau memeluk agama? Seberapa kuatkan manusia harus patuh dan taat pada warisan leluhur sehingga tak ditolak di surga? Seberapa berhargakah keyakinan akan adanya surga, kalau cinta sendiri di dunia dengan mudah rasanya mencampakan kita ke bagian neraka sudah ada jadi bagian hidup kita?

Itu awalan saya dalam mengintip Puya ke Puya, sebagai sebuah novel yang dibaca dari kacamata orang di luar Toraja. Saya sendiri tidak ingin melarat mengatakan Toraja soal kerbau belang yang mahal secara harganya, soal batu yang harus ?diturun-gunungkan? dengan berbagai resiko, tentang patung yang dipahat untuk sang mayat, tentang mengangkut peti berat untuk sampai ke tebing, tentang kuburan bayi di Pohon Tarra, dan tentang selagi bekabung tak semestinya berpesta.

Gambaran Toraja yang tadi saya sebutkan adalah simulasi atas perangkat yang berjalan sudah ratusan tahun diagungkan. Berulang-ulang, demi masih dikatakan murni atau paling tidak mirip dengan apa yang pertama kali diciptakan. Padahal di luar ?bahkan bisa jadi sampai sudah ke dalam lingkaran masyarakat Toraja-nya sendiri, gemik-gemik itu mulai pudar dihantam agama yang datang, berkuasa dan merebut perhatian lebih keterpaksaan. Iman dalam agama disetir dari memaksa ke pasrah. Sehingga hal itu menimbulkan pertanyaan; Puya dulu atau surga yang agama janjikan yang lebih diciptakan? Puya atau surga dulu, atau cinta yang jelas-jelas lebih mudah dirasakan? Puya atau surga menurut agama atau cinta yang akan lebih menghidupkan manusia lebih layak?

Ini gagal paham dari putusnya rantai pemaknaan sebuah tradisi yang berhadapan dengan kemajuan jaman, kecepatannya di luar perkiraan manusia memang. Puya ke Puya, memiliki ?kecenderungan mengakali tradisi dengan nalar, agar ketimpangan tetaplah menjadi sebuah cerita di balik nurani manusia terdalam.

Bicara soal di luar tema cerita besar yang dikandung Puya ke Puya, saya sendiri menangkap Oddang memiliki gelagat ?pencuri? adegan. Kisah-kisah yang meminjam lensa dari mata leluhur, arwah sampai manusia merupakan intrik tersendiri bagi ia. Bergeser dan bergerak tapi tidak begitu kentara. Hanya tokoh dihadirkan lebih berkuasa atas dunia yang meruanginya saja. Selebihnya mereka semua tak memiliki hak untuk mengubah alur dan jalur ceritanya, selain penulis sendiri hati-hati menyembunyikan kejutan agar tampak kisah berangakat bukan dari ruang kosong.

Tiga tokoh yang diberi tanda bintang |*|, masing-masing ada yang satu untuk Rante, dua untuk Allu dan tiga bintang untuk Maria, adalah tanggung jawab Oddang agar pembaca tidak kebingungan saja. Penuturan Rante dititik-beratkan atas penyesalan-penyesalan dan rasa bersalah kebingungan arwah. Kesadaran Rante akan tubuhnya, tidak detail atau berani diekspos hingga keluar. Pada Allu, Oddang lebih bermain, berani menyalakan gairah anak muda, penguatan karakter yang hidup serta pergesaran dramatis dari ideologi pikirannyanya. Pada Maria penuturan menjadi kembali tertekan, penuh pertimbangan agar tetap lugu sebagai arwah bayi yang dewasa di dunia Indo Pohon-nya. Kedua arwah, Rante dan Maria tidak bersentuhan. Tidak saling menopang, kecuali hanya ada ikatan firasat dan emosional sesaat dari seorang ayah kepada anaknya.

Adegan dari percintaan Allu menjadi bumbu, pemantik masalah kronis yang menjangkit keluarganya. Dendam di masa lalu, menjadi dendam masa kini yang baru. penghalalan cara menyetujui adat yang awalnya ditentang menjadi enteng dijalankan.

Deskripsi latar tempat, tongkonan hanya digambarkan sebagai rumah besar warisan suku dari kayu-kayu, dan berkolong. Tapi bagaimana dengan eksotismenya? Ini agak luput dari Oddang. Tambang nikel yang selalu didatangi Maria, hanya juga bersuasana pekerja sibuk, istirahat dan ruang kantor. Selebihnya berdebu dan bising. Untuk kuburan pohon, memang Oddang cukup konsen dan memainkan instuisi untuk membangunkan visual lebih terasa. Persoalan getah pohon itu susu, ijuk itu jendela, dan gelagat daun gugur dan ranting bergoyang adalah isyarat keberadaan Indo Pohon menampilkan kepiawaian Oddang.

Dialek dalam dialog dalam novel Puya ke Puya sebagai sebuah bangunan memang menurut saya sudah berusaha larut dan cair, sehingga lancar dan mudah sampai sebagai informasi yang utuh. Istilah untuk upacara tradisi denan sendirinya, Oddang siasati jelaskan memang membantu, tanpa catatan kaki sekalipun. Beberapa teks tradisi lisan, dengan sendirinya ditafsir-bebaskan sedemikian tanpa menghilangkan esensi bisa jadi Oddang mengusahakannya.

Alhasil, Puya ke Puya bukan lagi berbicara tempat awal dan tujuan, melainkan proses pengamatan dari munculnya masalah dalam diri tokoh untuk masing-masing ditaklukan tanpa membebani pembaca mencari jalan keluar. Jangankan ke surga, Oddang, di mana Puya saja masih dipertanyakan untuk apa diciptakan. Begitu.

  • view 702