RESENSI "SUARA TIKAMAN ANAK PERANTAUAN"

Faisal Syahreza
Karya Faisal Syahreza Kategori Buku
dipublikasikan 28 Januari 2016
RESENSI

Judul ? ? ? ? ? ? : Kelana Anak Rantau

Penulis ???????? : Frans Ekodhanto Purba

Penerbit ? ? ? ?: Koekoesan, Depok

Isi ? ? ? ? ? ? ? ?: 90 Halaman

?

Hampir tak bisa dipungkiri lagi, gerak hati Penyair Frans Ekodhanto Purba dalam Kelana Anak Rantau ialah mencoba mendesak dada pembacanya memenuhi rasa iba pada sesuatu yang jauh namun tersemai di hati. Suasana kerinduan sebagaimana jalan pilihan Frans mengolah kata-kata menjadi serbuan kegelisahan sebagai diri seorang perantau. Frans tak menginginkan puisi yang menjebak dirinya dalam keganasan eksplorasi tema yang beragam, melain hanya pada beberapa titik acuan, di antaranya ialah kampung sebagai kekangenan dan daerah perantauan sebagai refleksi kehidupan. Kedua memiliki arti yang sama-sama saling mengenangkan tentang keluarga, menegaskan maut dan menegangkan perasaan kasih yang luput.

Kelana Anak Rantau merupakan himpunan antologi puisi pertama Frans Ekodhanto yang menandai jejaknya sebagai penyair. Ada 63 puisi yang terdapat di sana, ditulis sang penyair sekitar tahun 2010 sampai dengan tahun 2013. Buku antologi puisi itu terbelah menjadi dua bab yang saling rapat dan terjalin, pertama ?Bab Mazmur Perjalanan? dan ?Bab Hikayat Kehidupan?.

Rasa iba akan sesuatu yang sudah terlanjur jauh, ialah kampung halaman. Kampung halaman yang bukan semata-mata berwujud fisik, melainkan juga bersifat spiritual. Terkadang lokalitas dimunculkan dan tampak menggurat di diksi-diksi puisi yang sedang coba ditaklukan oleh Penyair Frans.

Kita petik saja, puisi berjudul ?Ulos? yang berkisah kemurnian dalam jiwa seseorang ialah berada di dalam dan dasar nuraninya. Sebagai seorang perantau, Frans tak pernah canggung mencemplungkan dirinya pada penegasan identitas budaya lokalnya.

?

sementara, di seberang kenyataan

serentang ulos di bentangkan

diantara kedua pundak kemuliaan

tampak kehormatan

memancar bagai puisi

: berkilat-kilatan

?

(Ulos, 2012)

?

Penyair meyakini realitas yang dihadapinya senantia menyentuh lubuk hatinya sebagai penjalanan menemukan pencerahan. Puisi di sana, diangkat juga sebagai lambang penemuan dengan perayaan cahaya yang berkilatan. Artinya, Frans menanggapi setiap kejadian dengan puisi demi menghormati apa yang ditinggalkannya yakni, kampung halaman demi menyempurnakan kerinduannya.

Ada juga dalam antologi puisi Kelana Anak Rantau, puisi-puisi yang menyoroti gesekan sosial, ini mungkin karena penyair banyak memetik kenangan dirinya dalam bergesekan dalam aktifitas sebagai wartawan dan bahkan referensi sejarah yang penah dibaca sebagai pengalaman masa dulunya.

Pada ?Bab Hikayat Kehidupan? Frans sengaja banyak mencatat dan memunculkan persepsi-persepsi kegetiran. Apakah penyair memang mencintai setiap kerinduan, dendam, maut bahkan hal-hal lain berbau kehidupan begitu satir? Bisa jadi memang. Namun Frans tak menjadikan setiap diksi dalam puisi-puisi sebagai alat nyinyir. Ia masih kalem, lembut dan percaya dengan ?kebaruan? menempelkan kosa kata di tiap-tiap larik yang dibentuknya.

?

?

kini, semua hanyalah amsal masa lalu

bisa dikenang, tak bisa dirasa

dan penyesalan

adalah harga mati

harus dilunasi

?

(Amsal Masa Lalu, 2012)

?

Puisi ?Amsal Masa Lalu? menyimpan dan memosisikan kenangan sebagai sumber dari pusar dan pusat puisi. Kegelisahan seseorang yang jauh dari tanah dan negeri yang melahirkan, ia gambarkan dengan citra alam, seperti ladang, kebun dan ruang-ruang keluarga dalam rumah yang sederhana.

Penulis kira, puisi-puisi Frans Ekodhanto ialah usaha mengunggah kalbu agar tak terus ?melukai? diri atas nasib buruk, melainkan mengajak menari dan berdendang tak peduli suara hati itu sumbang sekalipun. Puisi-puisi yang banyak memberi hikmah ketimbang asyik berdandan, menikam sekaligus terasa bagai cengkeraman anak perantauan. Salam damai di langit dan damai di bumi, semoga.

  • view 263