Sahabat

Faiq Teen
Karya Faiq Teen Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 18 September 2017
Sahabat

Sahabat
Aku mempunyai teman dekat yang aku anggap sebagai sahabatku, namanya Iklil Asiyah. Sebelum aku mengenal sahabatku ini, banyak sekali informasi informasi jelek yang kudapat mengenainya, aku bukan tipe orang yang mudah mempercayai informasi begituan. Ketika aku mulai dekat dengan iklil, kupikir semua informasi yang bergentayangan itu hanya dusta belaka. Karena bagiku, iklil orangnya baik dan juga taat beribadah. Memang sih dulunya kata dia, dia banyak memiliki mantan, namun sekarang sudah beda. Aku mulai dekat dengan Iklil ketika aku duduk di bangku Aliyah tepatnya pada saat kelas dua Aliyah di jurusan IPA. Aku sering main ke rumahnya, ngerjain tugas bersama-sama dan kemana-mana aku dan dia sering bersama. Dia memang sahabat terbaikku, begitu pula keluarganya.
Ketika kami telah selesai berada di masa putih abu-abu, kami ingin melanjutkan kuliah di tempat yang sama. Kami mendaftar bersama dan kami pun lulus. Namun takdir berkata lain, dia tidak di izinkan kuliah di tempat yang sama denganku. Akhirnya kami pun terpisah dan jarang ketemu namun komunikasi tetap berjalan lancar.
Singkat cerita…
Pada saat kakak teman kami, kak Iis melangsungkan pernikahan. Aku dan Iklil pun datang keresepsi pernikahan tersebut. Namun kami ke acaranya tidak datang bersama karena aku ada urusan terlebih dahulu, jadi Iklil datangnya lebih awal dibanding aku.
Setibanya disana, betapa terkejutnya aku ketika melihat style fashion iklil sekarang berbeda dengan yang aku kenal dulu. Sekarang dia mengenakan pakaian muslimah, dengan jubah panjang dan kerudung setengah pinggang. Aura dan pesonanya sangat berbeda. Karena dulunya kami hanya mengenakan rok panjang dengan baju atasan lengan panjang dan berkerudung yang intinya menutup aurat saja.
“wihh sekarang kamu mengenakan pakaian muslimah yah iklil. Apa yang membuatmu berubah seperti ini? tapi kamu beneran lebih cantik dengan style fashion sekarang deh” pujiku padanya,
“hhehe iya nih aku lebih merasa nyaman dengan mengenakan pakaian seperti ini” jawabnya dengan senyum manisnya yang tambah membuatnya lebih mempesona.
“apa yang membuat kamu bisa berubah seperti ini sahabatku” tanyaku dengan wajah penasaran.
“nanti aja ya aku ceritain, kita kesana dulu yuk gabung sama teman-teman” jawabnya memotong pembicaranku.
“ahh kamu gak asyik deh, aku kan penasaran” kataku cemberut.
“iya nanti aku ceritain di rumahku yah sahabatku sayang, kita gabung sama teman-teman dulu yah” pintanya kepadaku.
“oke deh, janji yah. awas aja kalau kami ingkar janji”, ancamku padanya dengan bercanda.
Sepulang dari acara resepsi pernikahan kak Iis, ternyata Iklil ditelepon sama teman kampusnya ada acara mendadak di kampus. Wajar saja, aku dan Iklil adalah mahasiswi aktivis di organisasi. Kami banyak mengikuti organisasi-organisasi yang kami anggap bermanfaat di kampus kami masing-masing. Jadi, waktu untuk bertemu sangatlah susah ditentukan. Mengingat kesibukan kami masing-masing. Namun sesekali aku sempatkan main ke rumahnya sekedar mempererat tali silaturahmi kami. Karena panggilan telepon dari temannya tersebut, aku pun jadi gagal mendengarkan ceritanya. Aku pun memutuskan untuk langsung pulang ke rumah saja, mungkin dilain waktu aja aku main-main ke rumah Iklil sebagai wartawan yang sudah menyiapkan beribu pertanyaan untuknya. Hhehe…
Seminggu kemudian barulah aku main ke rumah Iklil dengan siap meluncurkan beribu pertanyaan yang sudah kurancang dan aku siapkan tempo hari.
“silahkan masuk ukhty Faiz yang cantik!” sambutnya dengan penuh kelembutan.
Yaa namaku Faizah AzZahra, sering dipanggil Faiz.
“iya ukhty Iklil yang imut imut kaya marmut, hhehe” candaku pada Iklil.
“silahkan duduk ukhty, bentar yah aku ke dapur dulu ngambil minuman sama cemilan buat nemenin kita” kata maulidia.
“oke ukh, gak usah repot-repot” balasku.
Aku pun duduk-duduk sesekali memainkan handphone untuk membuka sosmed ku, dipertengahan aku asyik memainkan handphoneku, iklil pun datang, langsung aja deh aku luncurkan pertanyaan-pertanyaan ku, namun sebelum itu aku buka dengan cerita-ceritaku yang panjang kali lebar kali tinggi, ups kaya rumus luas persegi panjang aja yah hhehe. Setelah aku selesai bercerita barulah aku yang bertanya dengannya.
“gimana kuliahmu disana Iklil,” tanyaku basa basi.
“Alhamdulillah menyenangkan ukh, kalau ukhty Faiz gimana?” tanyanya balik.
“wahh kalau aku gak usah ditanya lagi, kan kamu udah tau dimanapun aku berada aku selalu riang gembira” timpalku dengan canda tawa.
“ohh iya kita langsung to the point aja ya, kamu masih ingat kan pertanyaanku waktu itu, apa yang menyebabkan kamu bisa berubah seperti ini?” Tanyaku mulai serius.
“waktu itu kan aku membaca Al-Qur’an dengan terjemahannya. Ketika aku membaca potongan ayat yang mengatakan bahwa Allah Swt tidak akan mengubah nasib suatu kaum jika dia sendiri tidak merubahnya. Dari sanalah aku termotivasi untuk berubah menjadi insan yang lebih baik lagi yaitu muslimah sejati. Namun prosesku untuk berubah tersebut tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, banyak cobaan dan rintangan yang aku hadapi ukh.” jawabnya panjang lebar.
“cobaan dan rintangan seperti apa yang kamu hadapi iklil ?” tanyaku lagi.
“pada awalnya bunda tindak mengizinkanku mengenakan pakaian yang terlalu tertutup seperti ini, ‘pakaian kamu kan sudah menutup aurat kenapa malah pengen pakaian yang sangat menutup lagi, kan setidaknya kamu telah mematuhi aturan menutup aurat kata bundaku’ aku pun menjelaskannya dengan penuh harap agar dia mengerti dan memahamiku. Akhirnya lama-kelamaan hati bundaku luluh juga, dia mengizinkanku berpakaian seperti ini” Jelasnya sedetail mungkin.
“Alhamdulillah yah aku juga turut bahagia mendengarnya, kamu benar-benar hebat sahabatku, kamu bisa berubah dalam sekejap seperti ini, semoga aku dan kamu selalu berada di Jalan-Nya yah, Aamiin” kataku.
Setelah lama berbincang-bincang, aku pun memutuskan untuk pulang ke rumah, karena banyak tugas kuliahku yang setia menantiku. Iklil sering berbagi pengetahuan agamanya di sosmedku terutama BBM ku, dia selalu mengirimkan kata-kata dakwahnya untukku. Dan juga sering bercerita tentang segala hal.
Setengah bulan kemudian, iklil memintaku ke rumahnya karena dia ingin curhat kepadaku. Sebagai sahabat yang baik hati ini, aku pun mengiyakan kemauannya, aku datang ke rumahnya dan menjadi pendengar yang baik untuknya. Kali ini pembahasannya bukan tentang pengetahuan agama, tetapi yang dibahasnya adalah Seorang Akhi yang telah menaklukan hatinya, namanya Maulana. Moh. Maulana adalah kakak semester iklil yang terkenal taat beribadah, memiliki sopan santun, ramah dan selalu menjaga pandangannya dari yang bukan muhrimnya.
“aku mau menceritakan tentang seseorang kepadamu ukh” kata iklil
“seseorang? Ciyee, kekasihmu yang bakal jadi imammu yah?” ledekku padanya.
Iklil hanya tersenyum tersipu malu mendengarkan kata yang kulontarkan dari mulutku. Dia diam sejenak, dan setelah itu baru dia lanjutkan ceritanya.
“iya ukh kak Maulana katanya ingin melamarku ukh, menurutmu apa yang harus kulakukan, apakah aku harus menikah di semester 3 ini?” tanyanya ragu dan mengharapkan pendapatku.
“menurutku sih kamu udah pantes menikah, tidak apa-apa juga kok kamu menikah di semester ini kan gak dilarang juga, apalagi kak maulana terkenal sebagai orang yang taat beribadah, sangat cocok tuh jadi imam dunia akhiratmu ukh” pendapatku yang meyakinkannya.
“kapan kak Maulana mau melamarmu?” Tanyaku lagi
“katanya setelah dia menyelesaikan skripsinya ukh, kira-kira di akhir semester ini dia akan melamarku?” jawabnya dengan senyum bahagianya.
“Alhamdulillah bagus tuh, jangan lupa undangannya ya ukh, aku harus jadi undangan pertama dan harus pengantennya sendiri yang nganter undangannya langsung ke rumahku, kalau tidak, aku tidak akan datang ke pesta pernikahanmu”. Candaku.
“iya ukhty Faizku yang cantik, kamu akan kujadikan undangan pertama yang spesial bagiku, aku dan kak Maulana yang langsung mengantarnya nanti ke rumahmu” timpalnya padaku.
“ukh, besok di kampusku ada pengajian loh. Kamu mau ikut gak?” Tanyanya penuh harap.
“emp bisa, tapi kamu jemput aku yah!” pintaku.
“na’am ukh, aku jemput pukul delapan pagi yah” balasnya lagi.
“na’am” balasku.
Keesokannya aku pun bersiap-siap pergi ke pengajian dengan ukhty iklil dengan mengenakan jubah panjang berwarna abu-abu muda dan kerudung setengah pinggang berwarna abu-abu tua. Tidak lama ku menunggu datanglah ukhty iklil menjemputku. Aku pun berpamitan pada bunda dan ayahku untuk pergi kepengajian bersama ukhty iklil di kampusnya.
“bunda, ayah. Faiz pergi dulu yah sama ukhty iklil. Assalamualaikum” kataku dan mencium tangan kedua orangtuaku.
“iyaa sayang, waalaikumsalam. Hati hati di jalan ya sayang” sahut ayah dan bundaku.
“iya bund, iya yah.” aku pun melambaikan tanganku pada ayah dan bundaku.
Sesampainya di kampus ukhty iklil, kami pun memarkirkan kendaraan dulu di parkiran dan berjalan menuju tempat pengajiannya. Di pertengahan jalan, tiba-tiba kami bertemu seseorang.
“kamu sangat cantik ukhty Faiz dengan perpaduan jubah dan kerudung yang kamu kenakan hari ini, apalagi kamu nya udah cantik dari asalnya” puji ukhty iklil padaku
“benarkah ukh?” tanyaku tersenyum-senyum
“na’am ukhty, kamu benar-benar cantik laksana bidadari surga” sahut sesorang akhi yang tampan dan tidak ku kenali.
“afwan ukh, siapa dia?” tanyaku lirih berbisik bisik pada ukhty iklil.
“perkenalkan ana Moh. Ilham Al farisi, kalau boleh tau siapakah nama ukhty, keliatannya bukan anak kampus sini yah?” tanyanya dengan senyum yang sangat manis.
“iya akhi, ana bukan anak kampus sini, ana temennya ukhty iklil. Nama ana Faizah Az zahra, bisa dipanggil Faiz”. Balasku padanya.
“syukran ukhty, ana masuk duluan yah, salam kenal” sapanya lagi.
“na’am” balasku sekenanya.
Dia pun masuk duluan ke tempat pengajian yang akan aku datangi ini.
“akhi tadi adalah temennya kak maulana ukh” kata ukhty iklil memecahkan lamunanku.
“benarkah ukh, berarti dia juga semester akhir juga yah. dia tampan dan keliatannya juga saleh seperti calonmu ukh, hhehe” candaku dengan tersenyum senyum tidak karuan.
“semoga dia jadi imammu yah ukh” kata ukhty iklil lagi
“empp emang aku tipenya, ya udah semoga saja” timpalku sekenanya.
“Aaamin, yuk kita masuk!” ajak ukhty iklil padaku
Kami pun masuk ke tempat pengajian dilaksanakan, kami duduk manis dan dengan seksama mendengarkan tiap-tiap perkataan yang disampaikan oleh Ustadz Yusuf tersebut. Setelah selesai ukhty iklil mengajakku makan siang di kantin kampusnya dulu. Tiba-tiba kak maulana dan kak ilham juga kesana dan menghampiri kami.
“Assalamualaikum ukhty” sapa ka riduan padaku
“wa.. waalaikumsalam kak” kataku terbata-bata karena kaget dengan kedatangannya yang tiba-tiba
“ada apa ukh, kok mukanya kaya gitu?” tanyanya sedikit meledekku
“hhehe gak apa-apa kak, aku kaget aja” timpalku
“kok kaget, emang ana dikirain apaan”. Candanya
Aku hanya tersenyum saja menanggapinya. Setelah itu, ukhty iklil pun mengenalkan sang calon imamnya padaku. Kami berempat pun makan bersama sesekali diselingi dengan canda tawa.
Singkat cerita…
Tibalah acara resepsi pernikahan ukhty Iklil Asiya dan kak Moh.Maulana, namun disaat hari kebahagian sahabatku ini aku tidak bisa berhadir dikarenakan aku mewakili kampusku mengikuti olimpiade debat 3 bahasa ke luar kota, aku pun memohon maaf sebesar-besarnya pada sahabatku itu, dan dia memahami situasiku. Ya, dia memang sahabat terbaikku, ukhty sahabat surgaku dialah sahabat dunia akhiratku.
Satu tahun kemudian tepatnya ketika aku mengenyam pendidikanku di semester 5. Ketika sore hari, aku mengikuti rapat organisasiku sanggar seni lukis, tiba-tiba bunda meneleponku, aku pun meminta izin keluar untuk mengangkat telepon bundaku.
“assalamualaikun bunda, ada apa yah meneleponku” kuangkat telepon bundaku. “waalaikumsalam Faiz, apakah faiz masih sibuk di kampus?” Tanya bunda ku. kelihatannya serius banget pertanyaannya bunda ku kali ini. Gumamku dalam hati.
“iya bund nih faiz lagi rapat organisasi, tapi bentar lagi selesai kok, emang ada apa bund?” tanyaku keheranan
‘ini faiz, kamu bisa pulang sekarang gak, ada seseorang yang bertamu ke rumah kita dan ini menyangkut tentangmu.” Pinta bunda
“baiklah bunda aku pulang sekarang juga, assalamualaikum bunda” jawabku mengakhiri pembicaraan
“waalaikumsalam” jawab bunda
Aku pun meminta izin kepada teman-teman seorganisasi tidak bisa ikut rapat sampai selesai karena bundaku memintaku pulang sekarang, mereka mengizinkanku. Dan aku pun langsung mengendaraiku kendaraanku dengan kecepatan sedang.
Sesampainya di rumah, aku kaget kenapa banyak keluargaku berkumpul dirumahku dan kelihatannya juga ada orang asing di rumahku, ada apa ini gerangan. Pikirku dalam hati.
“assalamualaikum” sapaku untuk semuanya
“Waalaikumsalam” sahut mereka serentak.
Aku pun mencium tangan kedua orangtuaku serta orang-orang tertua disana dan duduk menghampiri bundaku.
“ada apa ini bund” tanyaku lirih Bunda hanya diam dan senyum-senyum melihatku keheranan seperti ini.
“ohh iya kok kak Ilham juga ada disini, kakak tau darimana rumah ku disini?” tanyaku tambah kebengongan
“assalamualaikum” sapa ukhty iklil dan suaminya yang tiba-tiba datang juga ke rumahku tanpa mengabariku terlebih dahulu. Dan kami semua pun menjawab salamnya.
“tau dari ukhty iklil” sahut kak riduan dengan pelan dan tersenyum manis padaku
“Iklil?” gumamku dalam hati dan menatapnya dengan tajam
“iya ukhty faiz, semenjak kak ilham bertemu denganmu dia selalu mencari informasi segala hal tentangmu hingga alamatmu kepada kami berdua” kata iklil memberikan penjelasan kepadaku.
“baiklah karena faiz sudah datang dan semuanya terkumpul, kami ingin menyampaikan maksud dan tujuan kami datang kesini. Faiz, maksud dan tujuan kami datang kemari adalah untuk mengikat faiz dengan putra kami ilham.” kata ayah kak ilham
“mengikatku dengan kak ilham?” tanyaku rada-rada error.
“iya ukhty, aku melamarmu dan mengikatnya dalam sebuah pernikahan. Apakah ukhty menyetujui lamaranku ini?” Tanya lelaki tampan itu padaku.
Melamarku, mengikatku dalam sebuah pernikahan dengan kak ilham kakak tampan itu, benarkah? Apakah ini mimpi atau nyata? Tanyaku di dalam benak 
“bagaiman ukhty, apakah kamu menerima lamaranku?” lelaki itu bertanya kembali padaku dan memecahkan lamunanku. Aku pun menoleh ke arah bunda dan ayahku, kedua orangtuaku tersenyum padaku. Dan aku memperhatikan seluruh orang yang berada di rumahku ini dan barulah aku berkata “aku terima lamaranmu kak, aku siap menikah denganmu”. Semua yang ada disini pun sangat bahagia mendengar jawabanku terutama kak ilham.
3 bulan kemudian tepat dihari ulang tahunku, aku dan kak ilham melangsungkan pernikahan di gedung yang mewah dengan dihadiri banyak tamu undangan yaitu keluargaku, keluarga kak ilham, teman-temanku dan kak ilham. Serta orang spesial yaitu sahabat tercintaku, sahabat surgaku ukhty Iklil dan suaminya. Betapa bahagia diriku, dihari ulang tahunku resepsi pernikahanku dilaksanakan, ini adalah kado terindah yang pernah kumiliki.
“terimakasih sudah mau menjadi bagian dalam hidupku, dan menjadi sahabat surgaku, untuk selama-lamanya” bisik suamiku padaku
“iya sama-sama suamiku, terimakasih juga telah menjadi imamku dunia dan akhiratku”.
selesai

  • view 50