Air Mata Akhir Penyesalanku

Faiq Teen
Karya Faiq Teen Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 12 Agustus 2017
Air Mata Akhir Penyesalanku

Malam gelap menjelang, suara angin dan gemuru hujan membuatku terdiam tak ingin singgah ketempat lain. Dalam ruangan kecil nan sempit aku duduk terdiam menatapi sejejeran buku-buku terlantar dihadapanku. Aku melusuri sekaligus menjelahi satu demi satu buku itu serta aku rangkai semua isi buku itu dalam sebuah tulisan. Ketika aku sedang asik melakukan hal itu “ ilham... kamu ada didalam nak..? “ terdengar suara seseorang memanggil namaku dibalik pintu kamar. Segera aku langkahkan kaki ini menuju seseorang di balik pintu kamar itu.
“ummi?, ada apa?“ tanya ku sedikit terkejut
“ummi, barusan disuruh abimu manggil kamu untuk ke ruang tamu.”
“Oh.. Iya ummi, ilham segera ke sana.”
Sebelum aku melangkahkan kaki ke ruang tamu, aku sempat terdiam sejenak memikirkan hal apa yang akan terjadi nanti. Karena hati ini telah merasa tidak biasanya ummi datang menghampiriku malam-malam seperti ini. Ku berjalan menelusuri ruangan dalam rumah sederhana ini. Kini aku telah berada dalam sebuah ruang tamu, aku melihat abi beserta ummi duduk manis menanti kehadiranku di hadapannya. Rasa penasaranku dalam hati muncul dan membuatku terus bertanya-tanya “Ada apa sebenarnya ini?”. Lalu aku pun memberanikan diri duduk di hadapannya dan bertanya.
“Abi memanggil ilham?” tanyaku, dengan tenang abi pun langsung menjawab pertanyaanku.
“Iya, ummimu sudah bilang sama kamu kan?”
“Oh iya, ummi sudah bilang”. Aku pun duduk.
“Ilham, abi memanggil kamu ke sini karena abi ingin bicara penting”
“Bicara penting tentang apa bi?”
“Begini, abi punya niat dan niat itu ingin segera abi penuhi”
“Oh.. Jika niat abi baik, ilham dukung niat baik abi itu. Memang niat abi apa?”. Tanyaku langsung.
“Sebenarnya niat abi itu adalah menikahkan kamu dengan anak teman abi”
“Degg...”. Detak jantungku seketika terhenti. Aku terdiam merenungi perkataan abi barusan. Hati ini kemudian terasa sesak seakan tertimpa benda besar yang melebihi tubuhku. Hati ini seakan ingin berontak namun tidak bisa. Tapi akhirnya aku memberanikan diri untuk menjawab ucapan abi dengan tenang.
“Apakah niat abi ini bisa di urungkan dulu?”. Ucapku dengan ragu. Ketika aku mengucapakan hal demikian, abi pun mulai marah.
“Di urungkan?! Tidak bisa. Apa kamu tidak mau abi nikahkan kamu dengan pilihan abi dan ummimu?”
“Tapi abi.. Ilham masih ingin kuliah...”. Balasku terputus.
“Tidak. Abi sudah melamarkan kamu dengannya dan keputusan abi untuk menikahkan kamu sudah bulat titik”. Ucap abi lantang yang langsung memotong ucapanku tadi. Kemudian abi pun pergi meninggalkanku dan ummi di ruang tamu. Kini aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi, niat abi menikahkan aku sudah tidak bisa di toleransi lagi. Aku hanya bisa tertunduk pasrah mematuhi perintah abi. Walaupun sebenarnya hatiku ini tidak menerima.
“Ilham... sudah patuhi saja ucapan abimu itu. Semua itu pasti abi lakukan yang terbaik untuk kedepan kamu” ucap ummi lemah sambil mengelus bahuku.
“iya ummi, ilham mengerti niat abi dan ummi baik, tapi abi dan ummi tahukan kalau ilham ingin kuliah lagi.”
“iya, abi dan ummi tahu kalau kamu ingin kuliah lagi, tapi mau bagaimana lagi itu sudah menjadi keputusan abimu, ummi hanya ikut saja dan kamu terima saja itu.”
Bumi berputar secara perlahan membuat hari demi hari terus berganti. Dalam mobil mewah bernuansa klasik, aku duduk terdiam bersama orang tuaku. Dalam terdiamnya aku bersama orang tuaku tidak sepatah katapun aku lontarkan. Mobil mewah itu semakin melaju kencang “tuut...” lalu mobil itu membunyikan klaksonnya. Mobil itu membawa aku serta kedua orang tuaku tiba di sebuah tempat yang indah, suci, megah, agung dan besar. Tempat itulah yang akan menjadi saksi terlontarnya janji suciku kepada seorang wanita yang tidak kuinginkan. Ku langkahkan kaki untuk memasuki masjid megah itu, disana aku melihat puluhan orang hadir tuk melihatku mengucapkan ijab kabul yang menjadi sahnya sebuah ikatan pernikahan dihadapan mereka. Didepan sang penghulu aku duduk menanti hadirnya wanita penghancur impianku itu, ia yang akan duduk disampingku. Tidak beberapa lama wanita tersebut datang didampingi oleh sang ibu.
“SubhanAllah... cantiknya..!!” sanjung orang-orang disekitarku semua mata tertuju kepada sang wanita itu. Wanita itu perlahan menghampirku yang sedang duduk. Cantik, tertutupi kain yang membaluti tubuhnya dan sebuah hijab yang menutupi kepalanya hingga membuat wanita itu lebih anggun. Benar kata orang wanita itu cantik, anggun, dan solehah beda dengan wanita lain. Sepintas ia memaparkan senyuman kepadaku. Senyumnya yang manis tidak sedikitpun membuatku tertarik kepada pesonanya.
Satu bulan kemudian...
Setelah janji suci terucap di hadapan orang banyak. Aku dan wanita itu telah resmi sah menjadi suami istri. Kehidupanku pun berbeda, tidaklah sama seperti dahulu. Hidupku kini di temani oleh seorang wanita bernama fitri. Cantik, solehah, serta berbakti kepadaku adalah wanita idaman semua pria di dunia. Wanita seperti ialah yang menjadi impian semua orang untuk di jadikannya seorang pasangan. Namun hal itu tidak berarti bagiku, aku adalah orang yang tidak bahagia bersamanya. Dia adalah wanita penghancur impianku. Setiap aku melihatnya, ia bagaikan seorang musuh yang menyamar sebagai seorang istri yang cantik dan anggun. Tiap kali ia mendekatiku, memperhatikanku, mengabdi kepadaku. Aku tidak satupun peduli ataupun menghiraukannya. Aku acuhkan dia dalam diamku. Bahkan dia juga tidak luput dari amarahku. Hatiku masih belum bisa menerimanya dengan lapang dada. Kehadirannya tetap saja bagiku sebagai wanita penghancur impianku. Sikapku yang keras kepadanya, tidak membuatnya luntur untuk memperhatikanku. Wanita itu tetap tersenyum meskipun aku telah menyakiti hatinya.
Dua tahun berlalu...
Kehidupanku bersamanya masih terjalin seperti dahulu. Dengan sikapku yang masih belum berubah terhadapnya hingga di dalam kehidupanku bersamanya telah hadir seorang anak yang menjadi penengah antara kita, sekaligus penghibur kita di kala sedih.
“Abi, ummi.. Syifa sayang abi sama ummi”. Ucap buah hatiku dengan polos sambil ia memegangi tangan kami.
“Iya, abi sama ummi juga sayang sama syifa”. Balas umminya.
“Ummi.. Jangan tinggalkan syifa sama abi ya..”. Ucap buah hatiku, Lalu ia pun menyatukan tangan kami. Kami yang mengetahui tangan kami disatukan olehnya, kitapun sejenak terdiam menatap satu sama lain. Hingga tidak lama kami saling menatap, ia pun memalingkan pandangannya terlebih dahulu dan menjauhi tangannya dari tanganku.
“Syifa.. kita tidur yuk? Sekarang sudah malam. Kita harus tidur ya..”. pinta umminya.
“Ummi.. Syifa masih ingin sama abi...”. Rengeknya.
“Iya, besok syifa bareng lagi sama abi”.
“Abi.. Syifa tidur dulu ya..”. Ucapnya berpamitan. Mereka pun meninggalkanku sendiri di ruang tamu.
Tengah malam yang gelap, udara dingin yang berhembus membuatku ternyenyak olehnya. Ku bermimpi dalam tidurku, seorang wanita. Entah siapa ia, aku tidaklah mengenalnya. Ia berada di suatu tempat yang tidak terlalu jauh dari tempatku, lalu ia pun berkata kepadaku “Aku mencintaimu mas.. Aku mencintaimu.. Tapi maafkan aku, aku tidak bisa bersamamu. Aku mencintaimu..” Ucap wanita itu berulang kali sampai akhirnya membuat aku terbangun dari tidurku. “Allahu Akbar..”. Aku langsung menoleh ke arah suara takbir berasal dan ternyata takbir itu berasal dari istriku fitri, yang sedang sholat malam.
Pagi harinya, ketika aku telah bersiap-siap akan berangkat ke kantor sekaligus mengantarkan syifa ke sekolah. Tiba-tiba “Mas.. Tunggu! Dasinya saya perbaiki dulu”. Pintanya yang dengan cepat merapikan dasiku. Usai merapikan dasiku, ia langsung mencium pipiku tanpa merasa sungkan. Lalu ia pun berkata “Selamat ulang tahun pernikahan kita.. Maaf ya mas, nanti fitri tidak bisa menjemput syifa pulang sekolah”. Ucapnya dengan lembut dan sopan.
Jam 10.00 WIB, aku putuskan pulang untuk menjemput buah hatiku syifa. Tiba di sekolahnya aku melihat ia sedang duduk melamun menanti seseorang datang untuk menjemputnya. Aku yang melihatnya merasa iba dan kasihan kepadanya. Hingga aku langsung menghampirinya
“Syifa..”. Ucapku mengejutkannya.
“Abi..”. Ucapnya bahagia ia pun memelukku erat.
“Abi.. Ummi mana? Kenapa abi yang mejemput syifa” tanya ia polos
“Sifa,,, tidak suka abi jemput. Sifa sayang,, ummi lagi ke rumah nenek, jadi yang jemput sifa abi...”. balasku memperjelas. Ia yang tadi sempat cemberut kini sudah tidak lagi. Kita pun beranjak meninggalkan sekolah untuk pulang.
Di perjalana ketika aku berada di dalam mobil “greetttt...” handphoneku berdering dengan seketika aku ambil handponeku dari dalam saku lalu aku pun menerima telpon itu.
“Assalamu’alaikum ilham...”
“Wa’alaikum salam.. siapa ya...?” tanyaku.
“Ilham ini ummi nak, cepat pulang nak??”
“Ummi..!! apa yang terjadi..?”
“Ilham istrimu nak...” balas Ummi terdengar menahan tangis
“kenapa dengan Fitri.?” Tanyaku penuh tanya
“Fitri kecelakaan nak.. dan ia..” ucap ummi terputus.
“terus ian sekarang kenapa ummi..” tanyaku cemas
“Ia meninggal.. hiks..hiks..” ummi menangis dibalik telpon.
“Brukk....” handphoneku terjatuh dengan sendirinya. Aku hentikan mobil ini seketika langsung aku peluk wajah polos sifa yang berada disampingku “Abi... abi kenapa..?”. Tiba dirumah aku hampiri jasad istriku yang telah terbujur kaku didalam ruang tamu dengan iringi oleh lantunan bacaan ayat suci Al-Qur’an aku menangis penuh penyesalan disisinya aku peluk istriku itu bersama sifa didekatku. Saatku peluk isturiku yang telah tidak bernafas lagi air mataku tumpah membasahi pipi dan jasad istriku. “Fitri maafkan aku... maafkan aku fitri...fitri.. hiks..hiks.. aku menyesal.... aku mencintaimu fitri...”. ucapku sesal diselingi tangisan yang tidak dapat ditahan lagi. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi semuanya sudah terlambat, aku memang salah aku memang kejam. Aku memang tidaklah memiliki hati aku dibutakan oleh nafsuku.
Aku adalah pria egois aku menyesal atas perilakuku terhadapnya. Aku menyesal telah menyia-nyiakan wanita sholehah seperti ia. Sebuah penyesalanlah yang aku dapatkan kini “ maafkan aku fitri..” semua akan menjadi pelajaran dan kenangan yang penuh penyesalan bagiku. Tamat

  • view 45