Sesenyap Cinta Ali

Fahry Alamsyah
Karya Fahry Alamsyah Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 14 Juli 2016
Sesenyap Cinta Ali

SUNGGUH  menawan kisah dari seorang pemuda dari kalangan anshar yang begitu pandai menyembunyikan rasa cintanya pada seorang gadis yang lama ia kagumi. Ini kisah dari maestro cinta yang sesungguhnya, begitu manis untuk kita ambil pelajarannya, bukan sekedar kisah cinta yang hanya menawarkan manis diwajah namun tak Nampak makna di dalamnya untuk kita petik kesejatiannya.

Ialah pemuda bernama Ali bin Thalib, pemuda anshar, yang berhasil memendam rasa cintanya pada putri Rasulullah. Fathimah Azzahra. Si lincah, cerdas dan pemberani. Keberhasilan Ali memendam cintanya sampai-sampai setan pun tak mengetahui.

Namun pada suatu ketika Ali dirundung pilu tatkala gadis idamannya itu tiba-tiba dilamar Abu Bakr Ash Shiddiq, Ali resah dan pasrah,  merelakan mungkin Abu Bakr Ash Shiddiq memang yang pantas untuk menjadi suami Fathimah. Ali benar-benar dalam ujian, karena merasa apalah ia dibandingkan dengan sosok Abu Bakr Ash Shiddiq. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr Ash Shiddiq tentu lebih utama. Jangan ditanya soal keimanan dan pembelaan Abu Bakr Ash Shiddiq terhadap Allah SWT dan RasulNya. Tak tertandingi.

Jangan pula ditanya soal dakwah Abu Bakr ini. Banyak para tokoh bangsawan serta saudagar Makkah yang masuk islam karena sentuhan dakwah dari seorang Abu Bakr Ash Shiddiq. Berapa banyak budak yang dilepaskan oleh Abu Bakr Ash Shiddiq, soal financial Abu Bakr jangan ditanya, namun bagaimana dengan Ali, hanyalah seorang pemuda miskin.

Maka pada suatu ketika Ali pun bergumam. “Inilah persaudaraan dan cinta. Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan atas cintaku.”

Namun ketika beberapa waktu sudah berlalu. Harapan yang sempat tumbuh dan layu di hati Ali, kini seperti mendapatkan sepercik air yang cukup untuk membangkitkan kembali sebuah harapan, penyegaran. Nabi Muhammad saw tak penerima pinangan Abu Bakr atas Fathimah.

Akan tetapi, ujian itu seperti gelombang yang silih berganti mendatangi Ali. Setelah Abu Bakr di tolak, datanglah Umar ibn Al Khathtab, siapa yang tak mengenal beliau, mantan pereman besar ini. Lelaki yang gagah perkasa itu juga turut melamar putri Rasulullah. Ali lagi-lagi membandingkan dirinya dengan lelaki itu. Seorang lelaki yang ketika masuk islam sudah mampu membuat wajah islam tegak mengangkat muka dihadapan musuh-musuh islam. Lelaki yang membuat syaithan pun berlari terbirit-birit dan musuh-musuh islam bertekuk lutut.

Selain itu betapa tingginya kedudukan Umar dihadapan Rasulullah sama seperti Abu Bakr. Umar memang masuk islam paling belakangan, tepatnya 3 tahun setelah Ali, akan tetapi siapa yang menyangsikan ketulusan beliau.  Maka bila dibandingkan semuanya, siapalah seorang Ali.

Ali merelakan bila Fathimah harus jadi istri Umar, cinta memang tak harus memiliki, cinta ialah sebuah pengorbanan asal orang yang dicintainya itu bisa bahagia meskipun tak bersamanya. Tapi, alangkah terkagetnya Ali ketika mendengar kabar bahwa Umar ditolak lamarannya oleh Rasulullah. Ali kaget, dan bertanya-tanya menantu seperti apa yang didambakan Rasulullah. Bila orang sekelas Umar dan Abu Bakr saja ditolak. Sekali lagi dengan ditolaknya dua sahabat itu memberikan peluang untuk dirinya.

Seorang sahabanya berkata “Kenapa bukan engkau saja yang mencoba kawan?” sebuah pertanyaan yang membangunkan Ali dari lamunan panjangnya.

“Aku?” ucap Ali meyakinkan.

“Iya engkau wahai Ali!”

“Aku hanya pemuda miskin,” jawab Ali. “Apa yang bisa kuandalkan.”

“Kami dibelakangmu, kawan! Semoga Allah mendukungmu.”

Maka dengan segenap keberaniannya, Ali pun  menghadap kepada Rasulullah. Maka disampaikanlah niat baiknya, menikah seorang putri kesayangan Rasulullah. Yah menikahi, ia sadar bahwa secara ekonomi tak ada yang bisa dijanjikan. Ali hanya memiliki satu set baju besi dan tambahan tepung kasar. Namun Ali tak meminta waktu barang dua-tiga tahun untuk menikah dengan Fathimah atau menyuruh putri  Rasulullah itu menunggu sampai akhir batas sang waktu.

Dan lamaran Ali pun dijawab oleh Rasul dengan “Ahlan Wa Sahlan.” Sebuah kata yang meluncur dengan tenang disertai senyum dari nabi. Ali pun menikahi Fathimah dengan mengadaikan baju besinya.

Sungguh ini adalah kisah yang indah, walaupun ada juga sebagian orang yang mempertanyakan akan kebenaran kisah cinta Ali dan Fathimah. Tapi, dari kisah ini, sungguh tersiar sebuah pesan yang sangat bermakna, atas cinta dan cinta, bagaimana sikap seorang lelaki terhadap cintanya, bertanggung jawab atas perasaannya.

Seorang lelaki dengan keberanian untuk menikah, bukan mengubar janji-janji, rayu gombal belaka… maka seteguhlah seperti Ali dalam menyikapi rasa cintanya, sesunyilah seperti Ali dalam mendendalikan rasa sukanya. Sesenyap Cinta Ali yang harusnya kita lakukan atas cinta-cinta yang menghampiri kalbu.

 

*Refrensi kisah Ali dan Fathimah dari buku “Jalan Cinta Para Pejuang” Karya Ustadz Salim A. Fillah. Halaman 175-180.

 Fahry Alamsyah

Prabumulih, 13 Juli 2016

  • view 204