Jalan Cinta Para Bujang

Fahry Alamsyah
Karya Fahry Alamsyah Kategori Inspiratif
dipublikasikan 10 Juli 2016
Jalan Cinta Para Bujang

ADA sebuah kisah menarik yang sayang sekali untuk kita lupakan, mungkin aku tak akan menceritakannya secara detail. Ini berkisah tentang seorang gadis nan cantik jelita hidup di suatu kota, bisa dikatakan ia adalah primadona yang namanya harum semerbak di penjuru kota. Ialah gadis pujaan yang terjaga, bagai bidadari di taman surga sedikit sekali orang berurusan dengannya.

Namun sebagaimana gadis-gadis pada umumnya, sang gadis juga memendam cinta, cinta yang bertumbuh itu agak sedikit aneh dari biasanya, ia memendam cinta pada seorang pemuda, yang belum pernah ia lihat, belum pernah ia dengar suaranya, dan belum tergambar wujudnya dibenak. Hanya karena kabar, kasmaran karena sejak mendengar cerita pemuda itu lewat bibinya. Wajahnya tampan bagai nabi Yusuf di zaman itu. Suci. Ahlaknya menawan, berilmu tinggi, keshalihannya membuat iri. Namanya, kerap muncul dalam perbicaraan dan doa para ibu-ibu.

SINGKAT cerita, pada suatu hari sang pemuda berkunjung ke kota tempat gadis itu bermukim. Dan cinta gadis itu tak bisa lagi dibendung. Gadis itu sudah terbakar rindu pada sosok pemuda yang dibayangkannya untuk mengisi ruang hati.

Maka dalam suatu kesempatan dituliskannya surat untuk memohon bertemu. Dan langsung mendapat jawaban “Ya.”

Akhirnya mereka bertemu di suatu tempat yang sudah disetujui. Pada awal-awal pertemuan itu tak banyak kata yang terucap, akan tetapi bayangannya sudah menusuk jauh menlangkahi mata, rasa tak karuan pun mulai menjalar hingga ke dalam dada. Dan sang gadis pun berkesumpulan bahwa aslinya lebih dari apa yang ia bayangkan; tentang kelembutan, kesantunan, serta kegagahan sikapnya.

Dalam pertemuan itu muncul beberapa percakapan.

“Maha Suci Allah,” kata si gadis sembari sekilas memandang. “Yang telah menganugerahi engkau wajah yang begitu tampan,” lanjutnya.

Pemuda yang santun itu hanya tersenyum dan tetap menundukan pandangannya. “Andai kau lihat aku,” ucap pemuda itu. “Sesudah tiga hari dikuburkan. Ketika cacing berpesta membusukkannya. Ketika ulat-ulat bersarang di mata. Ketika hancur wajah menjadi busuk bernanah. Anugera itu begitu sementara. Janganlah kau tertipu olehnya.”

“Betapa inginnya aku, meletakan jemariku dalam genggaman tangganmu.” Pinta gadis itu.

Sang pemuda terkeringat dingin saat mendengar perkataan itu, namun dengan santun ia menjawab permintaan si gadis. “Tak kurang inginnya aku berbuat seperti itu. Tetapi coba bayangkan, kulit kita adalah api neraka; yang satu bagi yang lainnya, tak berhak saling disentuhkan. Karena di akhirat kelak hanya akan menjadi rasa sakit. Dan penyesalan yang tak berkesudahan.”

Si gadis tertunduk. “Tapi tahukah engkau. Sudah lama aku merindukanmu, takut, dan sedih. Lama merindukan saat aku bisa meletakan kepalaku di dadamu yang berdegub. Agar berkurang beban-beban, Agar Allah menghapus kesempitan dan kesusahan.”

“Jangan lakukan itu kecuali dengan yang haknya.”

Indah sekali bukan perangai dalam sebuah kisah yang saya ambil dari buku “Jalan Cinta Para Pejuang” Karya Salim A. Fillah ini, Nampak menawan dalam kacamata kebanyakan orang, namun tahukah di dalam kisah ini terdapat beberapa catatan-catatan yang hendaknya bisa kita jadikan pelajaran, agar bisa memperkukuh kesholihan kita wahai para bujang.

Syaikh ‘Abdullah Nashih ‘Ulwan pun memberik catatan tentang kisah ini dalam Taujih Ruhiyahnya. Bahwa sang pemuda mencampuradukkan kebenaran dan kebatilan. Karena ia meniupkan napas dakwah dalam sebuah atmosfer yang ternodai. Dan dampaknya bisa kita lihat dalam kisah; sang gadis sama sekali tak mengindahkan dakwahnya. Bahkan semakin berani dalam kata-kata; mengajukan permintaan-permintaan yang makin meninggi tingkat bahayanya dalam pandangan syari’at Allah. (Jalan Cinta Para Pejuang, halaman 289-291)

Waha Para bujang, menjadi bujang itu sangat susah, mempertahankan syariat ditengah-tengah kehidupan yang kian  mengoda.

Mudah sekali tertipu daya, disaat balutan keimanan yang cendrung tak stabil naik turunnya.  Naiknya kadang tak tentu turunnya malah lebih sering.

Di Jalan Cinta Para Bujang inilah kita selalu dan selalu diuji, dalam kesendirian menjalani hidup sehari-hari, sesekali pikiran kita disusupi oleh aura-aura negative dan keinginan demi keinginan yang menyesatkan, keinginan untuk memiliki seorang pendamping, tapi mana kalah kesiapan belum sepenuhnya tersanggupi, akhirnya mengambil jalan pintas dengna berpacaran.

Di Jalan Cinta Para Bujang inilah, kita senantiasa menjaga pandangan kita, yang indah memang sebagian milik kita, namun sebagian yang lain adalah milik syaithan. Jalan cinta para bujang, kita hendaklah menjaga indera pendengaran dari sanalah sesuatu yang masuk dari telingga kerap kali membentuk suatu baying-bayang diruang otak kita.

Di Jalan Cinta Para Bujang inilah kita dituntut untuk menjaga batasan-batasan hubungan pergaulan antara wanita dan laki-laki, jangan pernah ada sesentuhan kulit diantaranya, sebab itu adalah sepercik api di neraka nanti. Persentuhan yang sulit untuk dilupakan namun menjadikannya rasa sakit di akhirat.

Maka waha para bujang, hendaklah kita juga menjaga apa yang sebenarnya layak kita juga, tak perlu kita berpanjang lebar memberikan suara agar saudari-saudari kita untuk pandai menjaga dirinya, sebelum kita juga yang harus menjaga diri kita sendiri dari sesuatu yang bisa memancing kemurkaan Allah.

Di Jalan Cinta Para Bujang inilah kita diperkenankan untuk menjaga hati, bersabar dalam do’a-do’a, berikhtiar dalam perbaikan diri untuk mendapatkan sesuatu yang memang Allah ridhoi dan yang pantas untuk kita dapatkan.

 

FAHRY ALAMSYAH

Prabumulih, 9 Juli 2016

 

 

  • view 262