Seekor Burung di Kaki Cakrawala Subuh

Fahry Alamsyah
Karya Fahry Alamsyah Kategori Inspiratif
dipublikasikan 02 Juli 2016
Seekor Burung di Kaki Cakrawala Subuh

Oleh: Fahry Alamsyah

Di suatu fajar, bertepatan dengan malam ke 27 Ramadhan 1437 H/2 Juli 2016. Fajar itu aku duduk di beranda masjid Darussalam komplek perumahan PT. Pertamina EP Asset 2, setelah menyantap sahur bersama jamaah itikaf pada malam itu.

Saat duduk-duduk sambil menghabiskan segelas air putih dan menunggu waktu sholat subuh mataku disajikan oleh aksi memukau seekor burung muda di halaman masjid, aku sendiri tidak mengetahui betul jenis burung apa itu namun ada yang mengatakan itu burung hantu. Entahlah, yang pasti aku terpukau dengan aksi-aksi burung itu.

Terbang mengepakan sayap, membelah dinginnya udara subuh, aku juga sempat berpikir apa yang dilakukan oleh seekor burung ini?

Kenapa pula ia terbang subuh-subuh?

Namun tak lama semua pertanyaanku terjawab. Setelah beberapa menit mengamati aktivitas burung muda itu, kebetulan di halaman itu ada sebuah lampu kuning yang cukup besar pancaran cahayanya menerangi sebuah menara masjid, dari sana aku melihat ada hewan-hewan kecil seperti serangga yang juga terbang pada pagi yang masih kelam itu.

Di saat itu pula semua pertanyaan-pertanyaan mengenai kenapa burung muda itu selalu mengepakkan sayapnya, terbang menembus subuh, terbang memutari halaman masjid, berulang kali. Pada suatu kesempatan aku melihat burung itu mengejar-ngejar hewan kecil di sekitarnya.

O yah, barang kali ini yang burung itu lakukan, mencari sebongkah rejeki lewat serangga-serangga itu di fajar yang penuh berkah. Ini hanya seekor burung, mari kita belajar darinya, hewan hanya makhluk mengandalkan insting dan nafsu saja bisa bertahan hidup, meskipun ia harus melawan dinginnya hawa subuh, lalu pertanyaannya kenapa disaat itu pula mungkin ada orang yang merasa hidupnya serba kekurangan, kelaparan? rejekinya mampet tidak lancar? Padahal Allah sudah menjamin rejeki setiap makhluk di muka bumi ini, tidak peduli ia muslim atau non-muslim, tidak peduli itu hewan berkaki empat, berkaki dua, enam, delapan, seribu atau yang tak punya kaki sekalipun.

Masih ingat tentang kisah seekor anak burung gagak yang tak diakui oleh induknya? Begini kisah singkatnya, burung gagak yang baru saja menetas itu tidak akan diakui oleh induknya, sebab seekor anak burung yang  baru menetas pastilah belum ditumbuhi bulu-bulu seperti halnya induknya yang memiliki bulu warna hitam pekat. Karena anak burung itu masih ‘gundul’ si induk burung merasa ini bukan anaknya karena tidak menyerupai dirinya? Maka sang induk burung gagak pun pergi meninggalkan anaknya.

Mungkin juga diantara kita ada yang bertanya-tanya? Bagaimana nasib seekor anak burung gagak ini, apakah bisa bertahan hidup atau tidak? Siapa yang ngasih makannya? Jawabannya hanya satu, setiap makhluk di muka bumi ini sudah Allah jamin rejekinya.

Anak burung yang baru menetaskan pasti bau amis yah? Ada sisa-sisa lendir telur di sekitar sangkarnya. Nah, ternyata bau amis itu mengundang para tentara semut-semut, atau serangga-serangga kecil di sekitar sarang burung itu untuk mendakat, dari sanalah anak burung gagak itu mendapatkan makanan, ia patokin itu serangga-serangga yang mendekat ke sarangnya, anak burung itu mendapat makanan, ia kemudian tumbuh besar, bulu-bulunya pun mulai bertumbuhan warna hitam, dan setelah itu barulah induk burung gagak itu mengenali anaknya.

Pertanyaannya kenapa masih ada orang yang hidupnya meresa kekurangan atau merasa hidupnya itu merasa apes bener, hidup ditengah sarung kemelaratan, kemiskinan?  sebab apa? mungkin bangunnya sudah kesiangan, berkah fajarnya tidak dapat.

Kalau sudah bangun pagi tapi masih saja melarat! Mungkin juga usahanya kurang ekstra, porsi kerjanya harus ditambah? Doanya kurang kenceng, ibadahnya juga kurang, mungkin?

Bila dari kesemua itu sudah dilakukan, tapi hidup masih serba kekurangan, jawabnya satu, syukuri nikmat apa yang Allah berikan kepada kita, bisa jadi Allah lebih meridhoi apa yang kita peroleh meskipun itu sangat sedikit, dari pada kita dapat rejeki banyak dari segala cara namun Allah tidak ridho.

Ingat janji Allah dalam surat Ibrahim ayat 7: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kami mengingkari (nikmat-Ku) maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”

Sekian. Maaf bila di dalam postingan ini ada hal-hal yang kurang berkenan di hati teman-teman semuanya, juga maaf bila terkesan menggurui, jika ada kebenaran di dalamnya itu datangnya dari Allah, namun bila ada kesalahan yang didapat itu kesalahan dari saya, manusia biasa.

  

 

 

  • view 391