Empat Madzhab dalam Fiqh Islam

Nor Fathin Fahimah
Karya Nor Fathin Fahimah Kategori Agama
dipublikasikan 10 Februari 2016
Empat Madzhab dalam Fiqh Islam

?

Beberapa saat yang lalu saya mengunjungi FP Suara Al-Azhar yang membahas permasalahan yang sangat menarik sekali, tentang alasan mengapa ada empat madzhab dalam fiqh Islam, yaitu Hanafiyyah, Syafi?iyyah, Malikiyyah, dan Hanabilah. Kita sama-sama tahu bahwa perkara tentang perbedaan madzhab ini sangat sulit untuk diatasi, karena sesama pengikut madzhab saling menganggap bahwa madzhab yang diikutinya adalah yang paling benar dan madzhab yang lain salah, sehingga tak jarang timbulah fanatisme madzhab yang berujung pada perdebatan tanpa henti. Pada perkembangannya saat ini di Indonesia konfrontasi atau perselisihan antar pengikut madzhab mengerucut menjadi perselisihan antar pengikut ormas, dan yang paling sering terjadi adalah perselisihan antara pengikut ormas hijau dengan pengikut ormas biru.

Salah satu contoh perselisihan yang paling sering terjadi adalah metode penentuan awal dan akhir bulan hijriyah. Pengikut ormas hijau kukuh menggunakan metode imkanur rukyat, dan pengikut ormas biru kukuh menggunakan murni metode hisab atau wujudul hilal, yang tak jarang menimbulkan perdebatan nonsense di lini masa dunia maya, bahkan tak jarang netizen yang berkomentar dengan kata-kata yang sangat tidak pantas. Padahal para petinggi masing-masing ormas telah menghormati keputusan masing-masing, tapi para pengikutnya ini, yang sudah diluapi emosi dan ego karena berpikir telah mengkaji lebih banyak buku dari para pengikut yang lain, malah memperkeruh suasana dengan memulai perdebatan di dunia maya tentang metode yang diikutinya adalah yang paling benar dan metode lainnya adalah salah. Saya jadi ingat perkataan salah satu dosen saya, ?Kita terlalu sibuk memperdebatkan yang furu? sampai yang ushul kita lupakan.?

Ya, perkara dalam syariah Islam terbagi menjadi dua yaitu ushul dan furu?. Perkara ushul adalah perkara dasar atau paling mendasar, dan bersifat prinsipil, sehingga tidak boleh ada perbedaan dalam perkara-perkara ushul. Contoh perkara ushul adalah jumlah rakaat shalat wajib, ?penentuan Ramadhan sebagai bulan puasa, kiblat shalat, tempat haji, haramnya minuman keras, zina, dan riba, dsb. ?Perkara-perkara di atas tidak bisa diperselisihkan karena dalil yang menjadi dasarnya adalah dalil-dalil qath'i, yaitu dalil yang sudah jelas dan tidak diperlukan ijtihad ulama untuk menginterpretasikan maksud dari sebuah dalil. Sedangkan perkara furu? adalah perkara yang penting tapi tidak prinsipil dan mendasar, sehingga boleh ada perbedaan dalam perkara-perkara furu?. Penyebab dari perbedaan pendapat ini adalah karena pada faktanya terdapat dalil-dalil zhanni untuk beberapa perkara, sehingga seorang ulama perlu berijtihad untuk menginterpretasikan maksud dari dalil tersebut. Contoh perkara furu? adalah syarat diperbolehkannya sholat jama? dan qashar, tata cara wudhu, dsb.

Jika saja Allah hanya menurunkan dalil-dalil yang qath?i kepada umat Islam, maka tidak akan ada perbedaan madzhab dalam Islam, bahkan tidak akan lahir ormas-ormas Islam yang memiliki ciri khas tersendiri, seperti Nahdhatul Ulama yang terkenal dengan budaya tahlilan diantara para pengikutnya atau Muhammadiyah yang terkenal dengan metode wujudul hilal dalam penentuan awal bulan hijriyahnya. Tapi pada faktanya, Allah juga menurunkan dalil-dalil zhanni yang dapat menyebabkan perbedaan penafsiran di antara ulama, sehingga menyebabkan umat Islam sekarang terklasifikasi ke dalam beberapa madzhab dan ormas-ormas Islam. Hal tersebut membuktikan bahwa Islam memang dinamis, fleksibel, dan tidak kaku sehingga dapat diaplikasikan dimana saja, kapan saja, dan di segala kondisi. Bayangkan saja, bagaimana jadinya jika umat Islam dari zaman Nabi hingga zaman sekarang hanya terkumpul dalam satu madzhab, pastinya tidak akan ada ulama sekelas imam Abu Hanifah, imam Malik, imam Syafi?i, dan imam Hambali yang terkenal sebagai penghulu empat madzhab besar dalam fiqh Islam yang memiliki metode analisis berbeda untuk menafsirkan sebuah dalil sebelum menghasilkan sebuah produk hukum.

Sebenarnya perbedaan penafsiran sebuah dalil telah terjadi sejak zaman Rasulullah- Shallallahu ?alaihi wa sallam, yaitu ketika perang Bani Qurayzha beliau bersabda kepada beberapa sahabat, ?Jangan ada dari kalian yang menunaikan shalat ashar sampai kalian tiba di suku Bani Qurayzha?. Beberapa sahabat memahami sabda tersebut secara zhahir atau harfiah, sehingga mereka menolak untuk sholat Ashar sampai mereka tiba di tujuan, padahal mereka tiba di perkampungan Bani Qurayzha saat maghrib. Sedangkan sebagian sahabat memahami sabda tersebut secara makna yang terkandung di dalamnya, sehingga mereka tetap sholat Ashar tepat waktu di tengah perjalanan karena mereka mengartikan sabda tersebut sebagai sebuah perintah agar mereka bersegera dalam perjalanan menuju perkampungan Bani Qurayzha. Kemudian dua perbedaan tersebut dilaporkan kepada Rasulullah- Shallallahu ?alaihi wa sallam dan beliau tidak mencela salah satunya maupun membenarkan salah satunya. Sikap Nabi- Shallallahu ?alaihi wa sallam ini dapat diartikan bahwa beliau menghormati perbedaan penafsiran di antara para sahabat dan beliau membolehkan adanya perbedaan pendapat atau penafsiran selama masih dalam kaidah-kaidah Islam dan tidak bertentangan dengan dalil yang lebih kuat atau dali-dalil qath?i.

Sesungguhnya perselisihan-perselisihan yang sering terjadi pada masa ini terjadi karena umat Islam kurang memahami fiqh-fiqh Islam dan hanya terpaku dan berpegang teguh pada perkataan ulama atau da?i yang sering mereka dapatkan saat pengajian, yang tak jarang para da?i ini pun bersikap rasis dan menganggap apa yang disampaikannya adalah yang paling benar. Jika sudah terjadi hal seperti ini, maka dikhawatirkan akan terjadi taqlid buta, yaitu mengikuti suatu ulama tanpa mengetahui dalilnya secara lengkap dan berujung pada perselisihan dengan orang, atau bahkan ulama, yang berbeda pendapat dengan mereka bahkan sampai ada yang menuduhnya bid?ah, sesat, atau kafir.

Padahal sesungguhnya perbedaan pendapat di antara para ulama tersebut harusnya disikapi dengan saling menghormati karena para ulama tersebut pastilah memiliki metode analisis yang berbeda untuk menafsirkan sebuah dalil, bukan? Dan pastinya untuk menafsirkan sebuah dalil hingga menghasilkan suatu produk hukum dibutuhkan perjuangan yang panjang dan keilmuwan yang mendalam dan tidak semua orang bisa melakukannya dengan sembarangan. Oleh karena itu, mulai saat ini perlahan-demi-perlahan marilah kita membuka mata kita terhadap suatu perbedaan pedapat ulama, setelah kita membuka mata kita barulah kita bisa mengkaji bagaimana metode yang digunakan seorang ulama sehingga menghasilkan produk hukum tersebut.

Karena perbedaan itu indah, dan keindahan seharusnya diapresiasi, kan?

Sumber:

-http://eng.dar-alifta.org/foreign/ViewFatwa.aspx?ID=5995

-http://almanhaj.or.id/content/4082/slash/0/perang-bani-quraizhah/

-FP Suara Al-Azhar

Dilihat 261