Sepenggal Kisah dari Bapak Pengayuh Becak

Nor Fathin Fahimah
Karya Nor Fathin Fahimah Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 09 Februari 2016
Sepenggal Kisah dari Bapak Pengayuh Becak

Teringat beberapa saat lalu, saat aku?menghabiskan sisa liburanku untuk menuntut ilmu di Pare, aku baru pulang dari Malang setelah menyelesaikan sebuah urusan selama dua hari. Saat itu, tepat ketika kakiku baru saja menginjak tanah setelah perjalanan ekstrim selama tiga jam dengan bus,?kulihat banyak tukang becak yang sedang duduk berjejer diatas becak masing-masing untuk menunggu penumpang. Memang perempatan Tulung Rejo adalah pangkalan tetap para tukang becak untuk menunggu penumpang, karena tidak sedikit penumpang, yang sebagian besar adalah siswa yang akan atau sedang mengambil program kursus bahasa di Kampung Inggris, turun disana sebelum menuju tempat tinggal sementara mereka masing-masing selama berada di Kampung Inggris.

?

Sesaat setelah kedua kakiku menapak sempurna di atas tanah, seorang bapak menghampiriku sambil menawarkan jasanya, dan aku langsung mengiyakan tanpa berpikir panjang karena saat itu jam sudah menunjukkan pukul sepuluh kurang, yang berarti sebentar lagi program kursusku akan dimulai. Setelah aku menyetujui untuk memakai jasanya, bapak langsung menuntunku menuju becaknya, dan seketika itu aku terkejut, ternyata bapak masih menggunakan becak kayuh, padahal sebagian besar becak yang kutemui sudah memakai mesin motor sebagai penggeraknya. Akupun langsung dilanda rasa cemas dan gelisah, mengingat usia bapak yang sudah tidak muda lagi, kutaksir sekitar empat atau lima puluhan keatas dan jarak dari perempatan ke campku yang cukup jauh. Tapi aku menguatkan tekadku, menghilangkan rasa khawatirku, dan mengulang-ulang di dalam hati, bahwa mungkin ini adalah rezeki untuk bapak yang dikirim melaluiku, dan akhirnya akupun menaikkan diriku dan barang bawaanku ke atas becak.

?

Perlahan bapak mulai mengayuh becaknya sekayuh-demi-sekayuh melewati jalan Yos Sudarso yang cukup lengang, entah karena saat itu hari Senin jadi banyak kelas yang sudah dimulai sejak selepas Shubuh tadi atau mungkin memang jalanan di Pare tidak sedemikian ramai dan padat seperti di Surabaya dan Malang. Hatiku mulai gundah, karena kudengar desas-desus dari teman-temanku bahwa para bapak becak sering menarik ongkos yang mahal untuk para penumpang, terutama bagi para siswa yang baru datang ke Kampung Inggris. Akupun langsung mencurigai bapak akan menarik ongkos yang mahal untukku nanti ketika aku bertanya besaran ongkosnya, maklum aku baru satu minggu disini jadi tidak tahu harga normal ongkos becak dan aku membawa uang pas-pasan, sisa ongkos naik bus, karena sebagian besar uangku adalah pecahan rupiah terbesar, sehingga aku takut bapak tidak memberiku kembalian jika aku membayar dengan uang seratus ribuan. Sejenak aku mulai menepis buruk sangkaku kepada bapak dan mulai tenggelam dalam lamunanku.

?

Ditengah perjalanan, bapak mulai menyapaku dan menanyakan beberapa hal tentang diriku, aku pikir ini adalah kebiasaan bapak mengajak penumpangnya ngobrol untuk memecah suasana dan agar penumpangnya tidak bosan dan terhanyut dalam lamunannya. Setelah menanyakan beberapa hal tentang diriku, bapak mulai bercerita tentang dirinya dan keluarganya, bahwa bapak sudah cukup lama bekerja menjadi pengayuh becak di Kampung Inggris dan ternyata bapak juga kenal dengan bapak pemilik camp yang kutempati. Obrolan mengalir begitu ringan, mulai pertanyaan tentang diriku, tentang bapak, dan tentang keluarga bapak terutama tentang anak-anaknya telah merantau ke kota lain untuk mencari nafkah. Sejenak aku terdiam ketika bapak bercerita tentang seorang anaknya yang sedang merantau di Surabaya dan bekerja sebagai staf kebersihan di sebuah kantor disana, ada sebersit rasa bangga yang tersirat dari nada bicara dan intonasi bapak yang dapat kutangkap. Bapak begitu bersemangat menceritakan bahwa anaknya sudah beberapa tahun ini bekerja di Surabaya setelah menamatkan sekolah menengahnya dan bagaimana ia bekerja disana. Aku termenung, memikirkan berbagai hal, tentang begitu bangganya seorang bapak ketika anaknya mecapai sebuah kesuksesaan, dan tentang pekerjaan yang sering kita pandang sebelah mata dan kita remehkan ternyata memiliki nilai yang berbeda jika dipandang dari sudut pandang yang lain. Setelah itu, obrolan pun terhenti karena jarak campku sudah dekat.

?

Beberapa saat kemudian, kami pun sampai di depan campku, dan bapak dengan spontan berkata bahwa pemilik campku sepertinya sedang keluar kota, karena beliau tidak melihat pemilik camp di kantornya dan sepertinya bapak sudah dapat kabar sebelumnya dari seseorang bahwa pemilik campku akan keluar kota. Ketika itu kegundahan kembali menyelimuti hatiku, karena saat aku bertanya berapa ongkos becaknya bapak malah menjawab, ?Waaah... saya tidak tahu mbak. Terserah mbak mau ngasih berapa. Kayak biasanya aja enggak apa-apa, mbak.?

Akupun buru-buru mengambil beberapa lembar uang receh kembalian dari membayar ongkos bus kepada bapak. Seketika itu akupun menyesal telah berburuk sangka kepada bapak sebelumnya, dan aku khawatir uang yang kuberi ternyata tidak cukup banyak. Maafkan aku bapak, semoga rezeki bapak untuk menafkahi keluarga lancar selalu dan bapak serta keluarga diberi kesehatan.

  • view 211

  • Pemimpin Bayangan III
    Pemimpin Bayangan III
    1 tahun yang lalu.
    Saya pernah mengalami hal yang sama dengan cerita ini, walau tanpa naik becak...^_ // Memang agak terkejut juga awalnya mengetahui kebanggaan mereka akan pekerjaan anak-anaknya yang hanya 'begitu saja', hingga akhirnya saya sadar, bahwa itulah buah kesederhanaan mereka, yang dapat merasa bangga juga bahagia ketika anak2nya dapat bekerja di kelas yang lebih tinggi. Setidaknya lebih tinggi dalam pemahaman mereka yang amat sederhana...^_