Tentang Mengajarkan 'Values' Kepada Anak-anak

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Inspiratif
dipublikasikan 03 Maret 2016
Kata, Rasa, Tanya

Kata, Rasa, Tanya


Sekumpulan tulisan lepas Fahd Pahdepie di berbagai media online.

Kategori Spiritual

153.2 K Hak Cipta Terlindungi
Tentang Mengajarkan 'Values' Kepada Anak-anak

Sebelum menikah dan punya anak, saya adalah tipe orang yang tidak menyukai rutinitas, bahkan membencinya. Tapi pernikahan dan rumah tangga telah mengubah saya menjadi individu yang berbeda. Saya baru menyadari bahwa ada yang bisa kita nikmati sekaligus syukuri dari rutinitas keseharian kita? Jika, dan hanya jika, kita menambahkan cinta di dalamnya.

Salah satu rutinitas yang begitu saya nikmati sebagai seorang ayah adalah mengantar anak ke sekolah. Anak pertama saya, Kalky, kini duduk di bangku TK dan berangkat sekolah pukul tujuh pagi setiap harinya. Kebetulan jam kerja di kantor saya dimulai pukul 9.00, sehingga saya punya waktu untuk mengantar Kalky ke sekolah meski nanti ia akan dijemput ibunya. Yang paling saya nikmati dari rutinitas itu adalah percakapan-percakapan bersama Kalky. Perbincangan yang membuat saya sadar bahwa sebenarnya banyak sekali hal baru yang bisa dipelajari orangtua dari buah hatinya, sekecil apapun mereka? Jika, dan hanya jika, kita mau mendengarkan.?

Belakangan ini Kalky senang membicarakan mobil. Seperti anak laki-laki kebanyakan, tampaknya ia jatuh cinta pada dunia otomotif. Dua tahun lalu, saya ingat pertanyaannya selalu seputar ?Mobil itu bisa jadi robot, ya?? sambil menunjuk mobil tertentu. Atau, ?Pi, kalau malem, mobil-mobil berubah jadi transformers, kan?? Tentu saja ia terpengaruh film Transformers yang ia tonton.

Tapi sekarang pertanyaannya berubah. Kalky kini telah menghafal aneka merek mobil lengkap dengan variannya. Ia bisa membedakan mana Toyota Avanza atau Daihatsu Xenia, mana HR-V atau CR-V, mana Rush atau Terios, bahkan dari jarak jauh ia bisa menebak merek dan jenis kendaraan tertentu, ?Pi, itu New Outlander!? Katanya. ?Wah, iya!? Sahut saya. ?Kalky hebat, kan, bisa tahu?? Ia sedang berusaha meyakinkan. Saya mengangguk sambil tersenyum. Sesungguhnya semua anak adalah individu yang luar biasa, mereka akan tumbuh percaya diri dengan kecerdasannya masing-masing? Jika, dan hanya jika, kita mau mengapresiasi apa yang mereka sukai.

Setiap hari, dalam perjalanan menuju sekolah, kami membicarakan mobil. Kalky akan bertanya, ?Ford itu ada berapa, sih, Pi?? Lalu saya mulai menyebutkan varian-varian yang saya tahu. Atau kadang-kadang kami bermain game tebak mobil, ?Itu mobil apa?? Tanya saya sambil menunjuk sebuah mobil. ?Mazda CX-5!? Sahutnya. Tebakannya selalu benar, tentu saja. Dan jika giliran Kalky mengajukan pertanyaan ?itu mobil apa?? kadang-kadang saya pura-pura tidak tahu, atau salah menjawab? Untuk membuat Kalky tertawa dan mengoreksi jawaban yang benar. Jika sudah begitu, kami berdua akan tertawa. Dan pagi akan selalu membahagiakan? Jika, dan hanya jika, kita mampu menyediakan ruang untuk menikmati kebersamaan dengan orang-orang yang kita cintai.

Hingga suatu hari saya dikejutkan oleh peryataan Kalky. ?Pi, mobil itu susul aja, soalnya lebih jelek dari mobil kita!? Katanya.?

Saya terkejut mendengarkan pernyataannya. ?Nggak boleh gitu, Kak.? Ujar saya.

Tapi Kalky membalas saya dengan cemberut, ?Tapi itu kan jelek! Lebih jelek.?

Hari itu berlalu. Ada sebuah catatan yang saya simpan di kepala. Saya perlu mengajarkan pada Kalky tentang ?menghargai orang lain?. Meski ia tak salah tentang penilaiannya, bagi saya ia telah melewatkan sesuatu yang berharga? Empati.?

Keesokan harinya, saya memerhatikan secara lebih saksama semua percakapan saya dan Kalky. Ada yang saya tangkap dari sana: Pengetahuan Kalky tentang aneka jenis mobil telah membuatnya mengkategorisasi mobil-mobil yang ia tahu. Mana yang bagus menurutnya, mana yang tidak. Mana yang yang mahal harganya dan mana yang lebih murah. Masalahnya, ia jadi membanding-bandingkan. Jika melihat mobil yang lebih bagus dari yang kami kendarai, ia akan meminta pada saya, ?Nanti kita beli mobil yang itu, ya, Pi? Atau yang lebih bagus!? Atau saat ia melihat mobil lain yang menurutnya tidak lebih bagus dari yang kami punya ia akan bilang, ?Mobil kita lebih bagus, Pi!?

Saya terus berpikir bagaimana memberi tahu Kalky bahwa ?nilai? kadang-kadang tidak ditentukan oleh apa yang terlihat?apalagi oleh harganya. Saya ingin Kalky tidak terjebak pada sikap membeda-bedakan sesuatu berdasarkan ukuran materi. Lebih jauh lagi, saya ingin mengajarkan Kalky tentang menghargai orang lain, menghormati dan mengapresiasi apa yang orang lain miliki, bersyukur pada apa yang telah ia miliki, bersabar pada apa yang ia belum miliki, dan lebih jauh lagi? Tidak menyombongkan apapun yang ia punya.

Pertanyaan-pertanyaan saya agaknya terjawab oleh sebuah buku berjudul ?Parent?s Stories? (2015). Buku terbaru Adhitya Mulya terbitan Pandamedia itu memberi tahu bagaimana cara menambatkan ?jangkar? nilai (values) kepada anak-anak kita. Konon cara terbaik adalah dengan memberi mereka pemahaman dengan cara mengaitkan pada ajaran agama atau tradisi keluarga. Misalnya dengan cara mengatakan, ?Kak, dalam agama kita, kita diajarkan untuk mensyukuri apa yang kita miliki,? atau ?Kak, di keluarga kita, kita dibiasakan untuk menghargai orang lain tidak berdasarkan apa yang mereka punya.??

Dengan memberikan jangkar nilai (values) itu anak-anak akan memiliki ?kompas moral? yang perlu mereka gunakan setiap kali bertindak atau mengambil keputusan. Setelah jangkar itu tertambat, yang harus dilakukan orangtua adalah memberi contoh. Sebaik-baiknya pelajaran adalah teladan akhlak, bukan? Dan akhlak yang baik akan terus tertanam dalam diri anak-anak jika, dan hanya jika, akhlak itu terus menerus dicontohkan orangtuanya. Adhitya Mulya menyebutnya ?pengulangan?.

Setelah membaca buku itu saya mulai memberi tahu Kalky tentang bahwa nilai tidak semata-mata ditentukan oleh apa yang kita lihat secara fisik, tetapi juga apa yang ada di sebaliknya. Syukurlah Kalky mengerti? Saya suka responsnya ketika menerapkan pelajaran baru ini, ?Pi! Mobil yang merah itu kok gitu, ya?,? Dahinya mengerut, telunjuknya mengarah pada sebuah Kijang tua tahun 90-an, ?Tapi? bagus, sih?? Tutupnya. Kami tertawa.

Tak ada orangtua yang sempurna dan kita tak tahu cara atau formula mendidik anak yang 100% dijamin keberhasilannya. Tapi kita bisa belajar jadi orangtua yang baik, kita bisa menemukan cara terbaik untuk mendidik anak-anak kita? Jika, dan hanya jika, kita mau terus menambah pengetahuan dan pemahaman kita. Dan buku Adhitya Mulya yang saya ceritakan tadi bisa menjadi salah satu bacaan untuk menambah pengetahuan dan pemahaman itu.

Ada satu kutipan bagus dari Adhitya Mulya dalam buku tersebut, "Karena memiliki anak, memaksa kita untuk menjadi versi yang lebih baik dari diri kita sebelumnya." (Hal. 10)

?

Pamulang, 3 Maret 2016

?

FAHD PAHDEPIE

?