Yang Tersisa dari Hiruk Pikuk Status Tere Liye

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Lainnya
dipublikasikan 02 Maret 2016
Yang Tersisa dari Hiruk Pikuk Status Tere Liye

Satu hal yang sering mengecewakan saya dari hiruk pikuk percakapan media sosial adalah perilaku sebagian penggunanya?mungkin kita juga?yang tak bisa menghargai prestasi orang lain dan di saat bersamaan begitu senang menertawakan kesalahan mereka. Apa yang terjadi pada Tere Liye barangkali bisa kita jadikan pelajaran.?

Status yang dituliskan Tere Liye tentang ?Apakah ada orang komunis, pemikir sosialis, aktivis HAM, pendukung liberal, yang pernah bertarung hidup mati melawan serdadu Belanda, Inggris atau Jepang?? buat saya memang bermasalah, tetapi mengapa komentar kepadanya begitu berlebihan? Dipenuhi cacian, kata-kata kotor, bahkan perisakan yang mati-matian berusaha mengatakan bahwa semua buah pikiran Tere Liye salah belaka, bahwa ia penulis yang tak pernah membaca, bahwa kapasitasnya dipertanyakan; dan seterusnya. ?

Buat saya ini menggelikan. Seolah kesalahan dari seorang Tere Liye memang hal yang sedang ditunggu-tunggu? Dan ketika kesilapan itu terjadi?tentang lidah terpeleset, atau jemari yang gagal menahan diri untuk mengomentari segala sesuatu?ada sekelompok orang yang merayakan semuanya sambil memanfaatkan momen untuk menjatuhkan seorang Tere Liye sejatuh-jatuhnya. Apa yang sudah diperbuat Tere Liye? Apakah semua itu selama ini membuat beberapa orang merasa begitu terganggu?

Saya tidak ingin membahas substansi statusnya. Bahwa ia merupakan kekeliruan yang perlu diklarifikasi, mungkin iya. Tetapi bahwa kesalahan itu sesuatu yang mungkin dilakukan siapapun juga hal yang mesti dipahami, bukan??

Saya dibesarkan dalam kultur dialog dan diskusi. Sependek yang saya pahami, perbedaan cara pandang adalah sesuatu yang wajar. Perbedaan pendapat adalah sebuah keniscayaan. Namun saya selalu diajarkan, jika ada kesalahan yang dilakukan oleh orang yang berbeda pendapat dengan kita, bahkan berbeda ?kubu? dengan kita: lawan argumennya, serang balik pendapatnya. Jangan sekalipun menyerang apalagi merendahkan?pribadi orang yang mengatakannya. Bahkan salah seorang Guru saya pernah memberi nasihat, ?Jika ada orang yang mengatakan ?bodoh? kepada orang lain karena ia merasa lebih berilmu dari orang yang diejeknya, sesungguhnya orang itu tak sanggup menyembunyikan kebodohannya sendiri.?

?

Dalam perkara ini, saya tidak sedang membela Tere Liye, tentu saja. Dalam status itu, ada yang memang ia lewatkan dari sejarah bangsa ini. Tetapi sikap sebagian orang yang membuli (saya lebih senang memakai kata ?merisak?) habis-habisan, menghina secara berlebihan, menertawakan dengan penuh pelecehan, buat saya jauh lebih memuakkan. Apa yang membuat kita merasa pantas menertawakan kesalahan orang lain? Apa yang membuat kita merasa lebih pintar dari orang lain? Tidak ada. Tidak semestinya ada selama kita masih gagal menertawakan diri sendiri dan mengakui kebodohan serta keterbatasan-keterbatasan kita sendiri. Jika kita tahu bahwa kita juga mungkin salah dan lupa, mengapa kita tak punya ruang permakluman untuk orang lain dalam salah dan lupa mereka?

Tentu saja ini bukan semata tentang Tere Liye. Tetapi hal lainnya. Entah mengapa kita semakin mudah merisak orang lain. Entah apa yang tengah menjangkiti akal kepala kita sehingga kita mudah sekali menghina dan menertawakan kesalahan dan keterbatasan orang lain. Entah mengapa ?suka? atau ?tidak suka? selalu mengalahkan objektivitas kita tentang kenyataan.

Saya menuliskan semua ini pertama-tama untuk diri saya sendiri. Memang sulit sekali menahan diri untuk mengomentari segala sesuatu?termasuk yang tidak kita tahu. Suatu hari mungkin saya yang akan melakukan kesalahan ?fatal? dan boleh jadi ada orang-orang yang sedang menunggu semua itu terjadi?untuk ?menghabisi? dan menertawakan saya habis-habisan. Jika hal itu terjadi, mudah-mudahan saya bisa belajar lebih banyak lagi dan makin mawas diri. Saya tak akan membela diri mati-matian untuk mempermalukan diri saya sendiri lebih jauh lagi. Saya percaya Tere Liye juga begitu. Saya percaya Anda juga begitu. Mudah-mudahan.

?

FAHD PAHDEPIE

?


  • Annisa Azizah
    Annisa Azizah
    1 tahun yang lalu.
    Tapi menurut saya sih yang merisak juga bukan dari orang-orang yang membenci Tere Liye saja, tapi mungkin juga yang suka. Yah, kalo kata saya sih, sebesar apapun kamu mencintai/menyukai suatu hal, maka tetap beri ruang kosong jika nantinya ada sedikit rasa tak suka yang menghinggap. Biar nantinya jika ada suatu yang sedikit 'gak bener' atau yang membuat 'illfeel' kita tak benar-benar memakan bulat-bulat kebencian itu hingga ruang cinta kita habis termakan olehnya

    • Lihat 1 Respon

  • Dini Damayanti
    Dini Damayanti
    1 tahun yang lalu.
    mungkin karena mereka semua sama, yg dikomentari dan mengomentari, sama2 komentar terhadap sesuatu kan? ahh kan.. saya jadi ikutan komentar deh .. lol dua2 nya juga salah sih, tp yaahh bgitulah manusia (komentar lagi lol) mungkin krn ada rasa "lebih dari yang lain" makanya menulis status seperti itu, bukankah kejatuhan seseorang dimulai dari ketika ia merasa lebih dari yang lainnya? maka ketika engkau merasa lebih dari yang lain, maka bersiaplah dihinakan.... ahh malah kmana2 .. rofl. menunjukkan kebenaran itu tidak perlu dengan merendahkan yang lain, mungkin beliau seharusnya belajar itu, bukan belajar tentang sejarah ... nah kan.. makin kmana2 deh. udah ah... lol .. thanks for sharing your thoughts, keep rockin!

  • arka 
    arka 
    1 tahun yang lalu.
    Mawas diri, muhasabah, introspeksi. Memang manusia sering lupa, meskipun juga sering melupakan. Alhamdulillah ada hikmah dan pelajaran yang bisa diambil.

  • Dhita Maharani
    Dhita Maharani
    1 tahun yang lalu.
    bijaksana

  • Eve Lynn
    Eve Lynn
    1 tahun yang lalu.
    Hehe iya nih, sy juga sudah tulis hal serupa mirip ini. Repot juga kalau selalu memandang dari kacamata sendiri, tapi kalau ngga gitu nanti dipikirnya plin-plan. Kenapa begitu ya? Ah sy jadi bertanya-tanya terus...