Menyoal 'Yang Normal' dan 'Tidak Normal' dari LGBT

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Lainnya
dipublikasikan 21 Februari 2016
Menyoal 'Yang Normal' dan 'Tidak Normal' dari LGBT

Manusia selalu terobsesi untuk membuat kategorisasi. Kita mengelompokkan hampir segala hal dalam hidup kita. Kita membedakan yang kecil dengan yang besar, memisahkan benda-benda berdasarkan bentuk atau warna, hingga memilih mana yang kita sukai atau kita benci.

Demikianlah, kita terlahir ke dunia yang sudah terkategori, lalu hidup untuk menciptakan kategori-kategori yang lebih banyak lagi. Rasanya, mustahil manusia bisa hidup 'normal' tanpa aneka kategori yang melekat dalam dirinya.

Tapi, 'normal' dan 'tidak normal' adalah kategori itu sendiri. Ironis, bukan? Bahkan ketika kita berusaha meloloskan diri dari perangkap kategori sekalipun, kita tetap akan terjebak ke dalam ketegori yang lainnya.

Jika kita bicara tentang kenormalan dan ketidaknormalan, sebagai bentuk kategori, apa yang sebenarnya membedakan 'yang normal' dengan 'yang tidak normal'? Misalnya, jika kita menganggap kebiasaan orang yang tidur di malam hari adalah kebiasaan yang normal, apakah lantas membuat orang yang tidur di siang hari dan melek di malam hari jadi tidak normal? Kalau kita menganggap orang yang berjalan lurus ke depan itu normal, apakah berarti membuat orang yang jalannya agak miring ke kanan dengan arah yang sering mencong-mencong jadi tidak normal?

Jika Anda tersenyum atau geleng-geleng kepala membaca pertanyaan saya di atas, berarti Anda normal. Tapi, tentu saja, kalau Anda merasa biasa-biasa saja, tidak berarti membuat Anda tidak normal. Seringkali kategorisasi dibuat dengan ukuran-ukuran yang tidak jelas. Serba subjektif. Dalam kasus 'normal' dan 'tidak normal' batasan yang digunakan biasanya sangat absurd, tergantung perspektif masing-masing orang yang memandangnya, juga konteks ruang dan waktu yang melingkupinya.

Contohnya pakaian. Suatu hari saya memerhatikan sekelompok perempuan 'kantoran' yang bisik-bisik sambil cekikikan memerhatikan perempuan lain yang melintas di hadapan mereka dengan gamis dan jilbab yang panjang. Mungkin dalam pikiran mereka betapa aneh perempuan yang mau-maunya mengenakan jilbab panjang di hari yang panas, ditambahi semacam sinisme, "Apa nggak ribet? Apa nggak gerah?" Di sini, dari sudut pandang perempuan-perempuan yang tidak suka mengenakan baju tertutup apalagi panjang, mungkin perempuan lain yang mengenakan baju serba tertutup dan jilbab panjang itu 'tidak normal'.

Tetapi kita bisa meminjam sudut pandang lainnya yang berseberangan. Di hari yang lain saya mencuri dengar percakapan para jilbaber panjang di pelataran sebuah masjid kampus. Waktu itu mereka sedang mendiskusikan betapa pentingnya menjaga diri, termasuk menutupi aurat agar tak menimbulkan dosa. Kita tidak sedang membicarakan suatu pemahaman agama, tentu saja. Tapi yang menarik adalah kalimat yang keluar dari lisan pemimpin diskusi itu, "Coba lihat perempuan-perempuan di luar sana, memakai baju pendek-pendek, mengumbar aurat ke mana-mana, mereka sudah kehilangan rasa malu dan rasa takut akan azab!" Ada sinisme yang terbaca di sana. Sinisme yang berusaha mengatakan betapa 'normal'-nya mereka dan betapa 'tidak normal'-nya orang lain.

Kita tentu saja punya basis pengetahuan, pemahaman, dan keyakinan yang bisa kita jadikan alat ukur untuk membedakan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Sayangnya, kita sering lupa--atau tak mau peduli--jika orang lain bisa memiliki landasan yang berbeda dengan kita. Secara egois kita sering memaksakan ketegorisasi yang kita sukai kepada orang lain seraya tidak mau menerima kategorisasi versi orang lain. Jika sudah begini, kita cenderung menyalahkan orang lain, merendahkan orang lain, bahkan mendiskriminasi orang lain. Rasanya, itulah yang menjadi latar belakang aneka perdebatan yang belakangan menyesaki ruang pandang dan ruang dengar kita, dengan porsi yang sudah cukup memuakkan.

Kita sibuk berdebat apakah LGBT itu gangguan jiwa atau bukan? Normal atau tidak? Kelompok yang pro-LGBT menggunakan argumen dan basis keyakinan yang mendukung pendapatnya sendiri, demikian sebaliknya yang anti-LGBT. Yang memuakkan adalah saat kategorisasi itu dipaksakan. Mengapa kelompok pro-LGBT begitu ngotot memaksa orang yang mengatakan mereka 'tidak normal' untuk menganggap mereka 'normal'? Mengapa yang anti-LGBT begitu sibuk memaksa kelompok LGBT agar sadar bahwa mereka 'tidak normal' dan kalau ingin 'normal' harus mengikuti standard-standard yang dibuat oleh kelompok anti-LGBT itu? Rasanya inilah akar masalahnya.

Saya melihat dua kelompok yang sama-sama ngotot dan tidak mau kalah. Keduanya ingin melenyapkan kategori dan membuat dunia jadi seragam. Tapi kita tahu itu tak mungkin terjadi. Buat para pembela LGBT, berhentilah melihat kelompok yang tidak suka dan tidak setuju pada kalian sebagai kelompok yang kolot, jumud, konservatif, anti-HAM, dan seterusnya. Kalian tak bisa memaksakan kategorisasi versi kalian kepada orang lain, apalagi jika orang lain itu lebih banyak. Bagi yang anti-LGBT, berhentilah membuat semuanya makin keruh dan runyam, fokuslah pada yang lain, tak usah membesar-besarkan sesuatu yang sebenarnya kecil--atau nanti kalian akan menyesal jika menyadari bahwa kalianlah yang turut serta membesarkan semua ini, meluaskan daya jangkaunya, menambah gaungnya.

Saya sendiri memandang LGBT sebagai sesuatu yang salah. Saya berpijak dan berpegang pada ajaran yang saya yakini, yang mengatakan bahwa homoseksualitas adalah dosa. Jika Anda merasa punya pemahaman lain, Anda tak bisa memaksakan tafsir itu kepada saya. Sebutlah saya apa saja: konvensional, anti-liberal, atau apa saja. Tidak apa-apa, sebab saya sudah punya kategorisasi tersendiri dalam hidup saya dan saya bahagia memilikinya.

Jika Anda pro-LGBT, saya tak mau risau dengan pilihan Anda, sebab pasti Anda juga sudah punya pemahaman dan basis pengetahuan tertentu untuk mempertahankan posisi Anda. Tentu saja, saya menghargai hak-hak Anda sebagai manusia, saya akan turut membela hak-hak Anda sebagai warga negara. Itu saja.

Barangkali kita memang harus menerima bahwa segala sesuatu tak mungkin diseragamkan sesuai dengan apa yang kita pikirkan atau inginkan, bukan? Dan segala sesuatu tak bisa begitu saja dikategorisasi berdasarkan kehendak kita saja!

Kembalilah pada kategori masing-masing. Jangan memaksa. Sisanya urusan dan tanggung jawab masing-masing.


Semarang, 21 Februari 2016

FAHD PAHDEPIE

*PS: Pandangan ini merupakan pandangan pribadi saja dan masih berupa 'open position'. Kita boleh berbeda pendapat, dan saya membela hak Anda untuk berbeda pendapat dengan saya.


  • Herjunot Ajie
    Herjunot Ajie
    1 tahun yang lalu.
    Saya sendiri memilih untuk mengatakan "terserah" pada mereka yang mendukung atau pelaku LGBT karena itu adalah pilihan. Hidup mati adalah takdir, tapi memilih untuk hidup dengan lurus atau belok itu plihan. Yang kemudian saya tidak setuju adalah ketiga ada propaganda untuk mengkampanyekan LGBT . INi bahaya laten yang sepertinya terstruktur dengan menggandeng HAM. tentu kta tidak amu ada kluarga atau bahkan anak cucu kita ikut menjadi LGBT kan?

  • Ayub Daud
    Ayub Daud
    1 tahun yang lalu.
    Sebab jika kita relatif, maka preferesni orang beda-beda.. ada cowok suka cowok, ada cowok suka cewek, ada cowok suka kambing, ada cowok suka mayat, ada cowok suka anak kecil laki-laki, ada cowok suka anak kecil perempuan, ada cowok senang liat pasangannya tersiksa, ada cowok yang "on" kalo pamer otong di depan umum... Lalu mengapa tidak semuanya diakui? apa basis kita mengakui yang lain dan tidak yang lainnya? hehe

  • Ayub Daud
    Ayub Daud
    1 tahun yang lalu.
    sebenarnya tidak usah menjadi relatif begitu pendiriannya soal normal dan tak normal mas Fahd. Di Psikologi, setidaknya ada tiga kriteria abnormal ; 1. Statistik, 2. Maladaptive, 3. Norma Nah secara statistik kaum homoseks memang ada di tepi-tepi kurva, maka wajar jika dianggap abnormal. Pun ada orang-orang berorientasi homoseks yang susah fit-in di masyarakatnya, hingga merasa tidak nyaman pada keadaan dirinya. Olehnya dia tidak normal. Lalu ada pula norma, secara norma, kita di Indonesia yang normanya sangat dijiwai agama (bahkan sila pertamanya pake bawa-bawa Tuhan) pasti menganggap tindakan homoseksual sebagai sesuatu yang diluar norma, dus abnormal. Tapi, emang perumusan DSM (buku panduannya APA) sarat trik intrik politis, sudah buanyak sekali penulis yang menyinggung ini. Hatta mantan presiden APA sendiri mengakuinya... Juga di Amrik misalnya, secara norma homoseks sudah biasa aja, jadi wajar kalo jadi normal bagi mereka, tidak bagi kita.. wallahu 'alam...

  • Alief Darul Ikhsan
    Alief Darul Ikhsan
    1 tahun yang lalu.
    sudut pandang manusia selalu relatif. karena itu, saya rasa kita perlu pegangan yang 'tidak ada keraguan di dalamnya'

  • Monica Anggi JR
    Monica Anggi JR
    1 tahun yang lalu.
    You take a neutral side Mas. And I do appreciate it. Well thought