Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Politik 2 Agustus 2018   19:46 WIB
IMM dan Blok Historis Anak Muda?

Mudah-mudahan ini nggak ribet. Gini aja, muqadimahnya, selamat bermuktamar ke-18 untuk adik-adik IMM se-Indonesia. Semoga muktamar di Malang tahun ini menghasilkan pemimpin ikatan yang dapat membawa IMM menjadi bagian dari narasi besar dan relevan dengan perjuangan yang saat ini sedang digalang anak-anak muda di seantero negeri.

Sebagai kader IMM, pengalaman ber-IMM memberikan banyak pelajaran berharga bagi perjalanan saya sebagai seorang aktivis maupun intelektual. Saya ingat ketika itu saya duduk di semester 4 atau 5 saat didorong untuk maju sebagai ketua komisariat. Sejujurnya, saat itu ada keinginan dalam diri saya untuk maju dan menjadi ketua. Namun, sialnya, waktu itu saya sedang membaca ‘Prison Notebook’ milik Antonio Gramsci.

Pemikirannya tentang partai politik, hegemoni, dan blok historis mengubah cara berpikir saya tentang perjuangan berbasis struktur… Saya pikir, tidak semua orang harus berjuang melalui struktur—sementara tak banyak yang tertarik berjuang melalui jalur-jalur gagasan. Saya pun memutuskan untuk mundur dari pencalonan dan serius membangun perjuangan berbasis ide. Sejak saat itu, praktis saya tak pernah berada di struktur ikatan di level manapun. Saya ingin membangun ‘historical bloc’.

***

Konsep blok historis (historical bloc) yang ditawarkan Gramsci secara sederhana bisa dipahami sebagai momentum sejarah di mana kekuatan materi, institusi dan ideologi bergabung dalam satu aliansi. Menyatunya ‘stuktur’ dan ‘superstuktur’ untuk mengubah momentum sejarah dan memaksa perubahan (politik) tertentu melalui cara-cara terorganisir yang berbasis persuasi ide-ide yang bukan hanya relevan dengan semangat zaman, namun sekaligus memenuhi apa yang disebut sebagai ‘kehendak kolektif’.

Untuk membangun sebuah ‘historical bloc’, kita harus menyatukan kekuatan politik dan ekonomi yang tidak saling bertentangan satu sama lain (a homogenous politico-economic alliance). Bagi Gramsci, setiap blok historis yang ingin tumbuh, harus memiliki pemimpin-pemimpin yang sadar untuk terlibat dalam perjuangan terencana dan terorganisir untuk membangun hegemoni berbasis gagasan.

Ada tiga tahap yang harus dilalui untuk membentuk sebuah blok historis. Gramsci menyebut tahap pertama sebagai tahap yang menyatukan semua pihak berdasarkan kepentingan-kepentingan ekonomi belaka. Jika tahap pertama berhasil, saat para pihak bergabung karena alasan ‘economic-corporative’, di sanalah kita bisa membangun solidaritas, meskipun tahap kedua ini masih berada di medan ekonomi juga. Baru di tahap ketiga, tahap yang disebut Gramsci sebagai ‘sepenuhnya politik’, kita bisa memperjuangkan gagasan tertentu dan mengubah momentum peradaban.

Saya bercita-cita membangun blok historis anak muda. Semua momentum perubahan bangsa ini selalu digerakkan anak-anak muda… Sejak kebangkitan nasional, sumpah pemuda, sampai reformasi, selalu anak-anak muda yang berperan di dalamnya. Namun, zaman terus berubah, jika dulu perjuangan anak muda dilakukan dengan sistem pergerakan, lalu berubah ke organisasi, saya kira sekarang perjuangan anak muda harus berbasis pemberdayaan ekonomi. Untuk memperjuangkan sebuah gagasan, anak-anak muda harus berdaya secara ekonomi, selesai dengan diri mereka sendiri, setelah itu baru bisa menggerakkan sebuah perubahan.

Itulah yang membuat saya cocok dengan pemikiran Gramsci soal ‘historical bloc’. Barangkali, itu juga mengapa saya memilih jalur perjuangan sebagai penulis sekaligus pengusaha. Saya percaya, jika kita ingin membangun blok historis anak muda, anak-anak muda itu harus berdaya secara ekonomi sekaligus kokoh dalam gagasan. Nantinya, anak muda harus mengambil dan berperan pada posisi-posisi penting dalam konteks kepemimpinan nasional. 

***

Kembali ke soal IMM. Saya melihat kesadaran semacam ini belum terbentuk di tengah kader IMM. Model pergerakan dan aktivisme yang dianut IMM menurut saya sudah ketinggalan zaman, terjebak di tahun 80-an atau paling jauh 90-an. Perjuangan politik dan perjuangan gagasan masih bersifat kompetisi kolektif di tangga struktur. Sejak kuliah hingga saat ini, sudah 13 tahun berlalu, saya belum pernah melihat ketua umum PP IMM yang tertarik membentuk ‘historical bloc’.

Saya harap muktamar kali ini berbeda. Mungkin ini saatnya IMM melahirkan pemimpin baru yang memilki visi lebih besar, bukan sekadar program-program dua tahunan belaka—kerja-kerja dengan nafas pendek. Ada lima isu penting yang harus diperhatikan calon ketua baru untuk membawa IMM ke dalam narasi pembentukan ‘historical bloc’ yang saya ceritakan tadi.

Pertama, komitmen untuk memperkuat tiga pilar penting intelektualitas, religiusitas, dan humanitas. Tiga hal ini sangat mendasar untuk menjadi fondasi semua ikhtiar perjuangan, termasuk kelak jika harus melakukan persuasi gagasan.

Kedua, soal pemberdayaan potensi kader. Bagi saya, kader IMM banyak yang memiliki kapasitas individual yang mumpuni di berbagai bidang. Masalahnya, ikatan perlu berkomitmen memberdayakan mereka. Memberi panggung dan kanal agar kader lebih berdaya dengan semangat kewirausahaan social (social entrepreneurship).

Ketiga, penguatan kohesivitas ikatan dan perluasan jaringan. IMM perlu bekerja ke dalam, meningkatkan kapasitan kader—memperkuat basis komisariat, misalnya. Di saat yang sama, IMM juga perlu memperluas jaringan (reach out) untuk seluas-luasnya kepentingan kader dan ikatan.

Keempat, membuka ruang kolaborasi. Baik kolaborasi antar kader, antar komisariat hingga DPD, dengan ortom Muhammadiyah yang lain, maupun dengan lembaga atau institusi eksternal. Kolaborasi akan penting untuk mempercepat daya dobrak ikatan, sekaligus memelihara spirit pemberdayaan di poin kedua tadi.

Kelima, menjaga relevansi dengan perkembangan dan dinamika sosial. Sebagai gerakan mahasiswa, IMM perlu selalu hadir dan terlibat dalam isu-isu yang berhubungan dengan persoalan-persoalan kebangsaan dan kemasyarakatan. Namun tidak terlibat dalam mobilisasi politik praktis.

***

Dengan mengelola lima isu tadi, saya kira IMM bisa masuk ke dalam narasi besar yang sedang di mainkan kelompok anak muda lain di negeri ini—termasuk soal regenerasi politik nasional. Bukan hanya itu, IMM juga sekaligus terlibat dalam pembentukan historical bloc yang saya ceritakan di atas.

Ini bukan artikel. Belum mapan juga sebagai opini. Namun, barangkali ini yang ingin saya bagi dan ceritakan buat adik-adik saya yang saat ini tengah bermuktamar di Malang. Akhirnya, sekali lagi, selamat bermuktamar. Barangkali ini saatnya berpikir lebih besar, termasuk soal membangun blok historis tadi.

Saya sudah memulainya, saya kira. Tentu senang jika ada yang ingin bergabung dalam barisan.

Tabik!

FAHD PAHDEPIE
Intelektual-Entrepreneur, Kader IMM

Karya : Fahd Pahdepie