Memulai dari Akhir

Memulai dari Akhir

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Inspiratif
dipublikasikan 01 Agustus 2018
Memulai dari Akhir

Hampir lima tahun lalu, saat saya memilih mengundurkan diri sebagai PNS, banyak teman dan keluarga yang menganggap saya gila. Mereka bilang saya tidak bersyukur. Saat banyak orang justru menginginkan dan berlomba-lomba memperebutkan posisi yang saya punya, saya justru memutuskan meninggalkannya.

Harus saya katakan sejak awal bahwa alasan saya mundur bukan tentang ‘keluar dari zona (ny)aman’. Justru saat menjadi PNS saya merasa tidak nyaman karena saya tahu ‘track’ itu tidak akan membawa saya kepada destinasi yang saya ingini.

Saya berusaha mewujudkan impian-impian saya dengan satu prinsip sederhana: ‘Start from the ending’. Memulai dari akhir. Saya membayangkan kelak menjadi apa, untuk saya temukan jalan agar bisa mencapainya. Mungkin itulah bedanya mimpi dan impian: Bermimpi adalah membayangkan sebuah kondisi yang kita inginkan, sementara memiliki impian adalah tentang membentangkan peta, menciptakan rute, dan menjalani semua usaha untuk sampai ke sebuah tujuan yang kita bayangkan itu.

Waktu itu saya merasa pekerjaan saya tidak akan membuat saya mencapai tujuan yang saya impikan. Atau, paling tidak, jika saya tetap berada di jalur itu, saya perlu waktu lebih lama untuk mencapai destinasi yang saya ingini tadi. Ayah saya adalah seorang guru besar, pegawai negeri di sebuah universitas negeri ternama di Bandung. Dalam sebuah percakapan ketika saya mengemukakan keinginan saya untuk mundur saja sebagai PNS, ayah berbicara dengan suara yang rendah, begitu dalam dan sungguh-sungguh. Katanya—

“Ayah butuh waktu 32 tahun untuk mencapai posisi ini. Sesuatu yang ayah syukuri, tetapi sekaligus ayah sesali. Apakah kamu butuh waktu 32 tahun agar bisa seperti ayah? Dengan semua potensi yang kamu punya, ayah percaya kamu tak perlu buang-buang waktu selama itu. Kalau ayah jadi kamu, dan bisa kembali ke 32 tahun yang lalu, ayah akan mencoba hal lainnya.”

Setelah percakapan itu, ada api yang membara dalam diri saya. Beberapa hari kemudian, saya menyerahkan berkas pengunduran diri saya. Saya ingin menempuh jalan yang lebih relevan untuk sampai di tujuan akhir yang saya harapkan.

Hari ini, bertahun kemudian, apakah saya menyesali keputusan itu? Saya katakan, tidak. Meski setelah pengunduran diri itu saya tidak menghadapi hari-hari yang mudah. Saya harus berjalan di jalur yang lebih rumit, di ‘track’ yang lebih sulit, sementara begitu banyak orang berusaha menjatuhkan mental saya—semacam berharap saya benar-benar tumbang agar mereka bisa mengatakan, “Tuh, kan, apa gue bilang!”

Memilih jalan sebagai seorang pengusaha membuat saya belajar bahwa dalam hidup ini kita harus menjalani apa yang disebut Dan Lok sebagai 4S.

S pertama adalah ‘survival’, masa di mana kita harus berjuang di antara ‘hidup’ atau ‘mati’. Pertanyaan mendasar di situasi survival adalah, ‘Apakah saya bisa bertahan?’ atau ‘Apakah keluarga saya bisa makan?’. Barangkali kita semua pernah mengalami situasi semacam itu… Saat hidup tinggal menyisakan pilihan yang sedikit dan tidak mudah. Saat kita akan tenggelam dan harus meraih apa saja di depan jangkauan agar kita bisa menyelamatkan diri… Alhamdulillah saya sudah melewati fase itu.

S yang kedua adalah ‘security’. Situasi di mana kita sudah selamat dan ingin menata hal yang lebih baik untuk keamanan jangka panjang. Di sana kita barangkali sudah berfikir untuk membeli rumah, meski harus mencicilnya. Menyisihkan sedikit tabungan dari sisa membayar berbagai tagihan. Juga membeli polis asuransi untuk diri sendiri dan keluarga. Banyak teman-teman saya sedang menjalani S yang kedua ini… Saya merasa saya sudah melaluinya.

Banyak orang bercita-cita mencapai S yang ketiga dalam hidupnya, ‘success’. Saat kita sudah melampaui ‘rasa aman’ dan bisa memiliki sejumlah akses dan fasilitas untuk bersenang-senang. Misalnya saat membeli sesuatu bukan lagi soal fungsi belaka, tetapi juga selera dan gaya. Ketika kita melakukan sesuatu bukan lagi tentang pemenuhan kebutuhan, tetapi dengan berbagai tambahan lainnya seperti kenyamanan dan kemewahan. Saat-saat kita bisa memanjakan diri sendiri…

Apakah saya sudah berada di S yang ketiga? Entahlah. Ukuran orang tentang S yang ketiga ini berbeda-beda. Di posisi saya sekarang, saya piker saya sudah lebih independen secara ekonomi, dan saya bisa membeli banyak kenyamanan dan kemewahan itu. Namun, tujuan saya bukan S yang ketiga. Karena nafsu tak akan ada habisnya. Tujuan saya adalah S yang keempat, ‘significance’.

Saat kita mencapai S yang keempat, hidup bukan lagi tentang diri kita sendiri dan keluarga. Tetapi tentang memberi dan berbagi sebanyak mungkin kepada orang lain. Situasi di mana kita merasa sudah selesai dengan diri sendiri dan berpikir untuk kemaslahatan orang banyak. Saya ingin berada di S yang keempat itu, maka setiap hari saya berusaha mewujudkannya.

Barangkali, pilihan saya untuk berhenti menjadi pekerja dan memilih menjadi pengusaha adalah karena saya ingin sampai di S yang keempat tadi. Itulah ‘ending’ yang saya inginkan dalam hidup saya. Saya ingin berguna bagi sebanyak mungkin orang, bisa menolong sebanyak mungkin orang, punya amal jariyah dengan memberdayakan sebanyak mungkin orang. Dari begitu banyak alasan mengapa saya seolah tak pernah berhenti bekerja, membuat ini atau itu, barangkali karena ‘ending’ yang saya harapkan adalah S yang keempat ini. Setiap hari saya menciptakan jalan untuk mencapainya.

Pada awalnya saya ragu untuk menuliskan semua ini. Saya takut dianggap tidak bersyukur, sombong, ‘belum apa-apa’, atau apapun. Namun, saya pikir, rasanya banyak orang yang mungkin berada di posisi saya lima, enam atau tujuh tahun lalu… Ketika saya masih bertanya-tanya ke mana akan melangkah? Saat saya bolak-balik berpikir apakah sudah berada di posisi dan situasi yang benar untuk saya lanjutkan?

Hari ini saya menuliskan semua ini untuk kalian. Untuk Anda dengan pertanyaan dan kegelisahan-kegelisahan semacam itu. Mulailah dari akhir. Tentukan tujuanmu dan rancang jalan secara sadar untuk mencapainya. Start your life from the ending!

 

Makassar, 1 Agustus 2018

FAHD PAHDEPIE

 

*Foto: Di salah satu pojok di kantor yang saya dirikan, saya menuliskan sebuah kalimat: The power of imagination makes us infinite. Kekuatan imajinasi membuat kita menjadi tak terbatas!