Saya Bukan Lulusan Sekolah Negeri Favorit!

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Inspiratif
dipublikasikan 10 Juli 2018
Saya Bukan Lulusan Sekolah Negeri Favorit!

Oleh Fahd Pahdepie*
 
Konon, dunia milik mereka yang yang membuat tangganya sendiri, bukan untuk mereka yang mendaki tangga-tangga yang disediakan orang lain.
 
Di linimasa, belakangan ini saya banyak melihat para orangtua dan sebagian siswa yang memprotes sistem zonasi sekolah negeri yang ditetapkan pemerintah melalui Permendikbud nomor 14 tahun 2018. Banyak di antara mereka keberatan dengan kebijakan ini karena ‘terlempar’ dari daftar peserta didik yang diterima masuk di sekolah unggulan—padahal nilai hasil ujian mereka tinggi-tinggi. Terkalahkan oleh anak-anak yang rumahnya lebih dekat dengan sekolah.
 
Melalui kebijakan ini, saya kira pemerintah ingin memastikan beberapa hal: Pemerataan akses layanan pendidikan, mendekatkan lingkungan sekolah dengan lingkungan keluarga, menghilangkan eksklusivitas dan diskriminasi di sekolah negeri, hingga mendorong peningkatan kualitas pendidik dan distribusinya secara proporsional ke setiap wilayah. Kebijakan yang sebenarnya mulia, tentu saja. Namun, tak bisa diterima dengan mudah—terutama bagi para orangtua yang memimpikan anak-anaknya bisa bersekolah di sekolah negeri favorit. Seakan bersekolah di sana adalah jaminan masa depan anak-anaknya.
 
Benarkah demikian? Benarkah bersekolah di SMP atau SMA unggulan adalah jaminan untuk mendapatkan masa depan gemilang? Benarkah hanya dengan bersekolah di sekolah menengah negeri unggulan, anak-anak akan dapat tiket mudah ke perguruan tinggi unggulan—dengan jaminan karir yang mentereng di masa depan?
 
Bagi saya, ini persepsi yang keliru. Sepanjang pengalaman saya, pada akhirnya bukan ‘dari sekolah mana kita lulus’ atau ‘di perguruan tinggi mana kita belajar’… di dunia kerja dan dunia profesional saat ini, histori pendidikan bukan lagi faktor utama yang menentukan kesuksesan seseorang. Kualitas sumber daya manusia saat ini tidak hanya ditentukan dengan angka-angka di rapor akademik, tetapi mencakup kapasitas individual yang meliputi berbagai aspek termasuk kecerdasan emosi. Bisakah kita mendidik dan memastikan pendidikan anak-anak kita mencakup segala aspek individualnya sebagai manusia?
 
Saya ingin bercerita pengalaman saya sendiri. Setelah lulus dari SD dengan NEM (Nilai Ebtanas Murni) rata-rata sembilan, sebenarnya saya bisa dengan mudah mendaftar dan diterima di SMP favorit manapun. Ditambah prestasi saya sebagai juara pertama lomba murid teladan tingkat kota pada saat itu, saya bisa memilih dengan mudah SMP negeri yang saya maui.
 
Namun, orangtua saya tak mendaftarkan saya ke SMP favorit yang disebut-sebut hampir semua teman dan guru-guru saya waktu itu. Orangtua saya memutuskan untuk menyekolahkan saya ke pesantren. Tetangga saya terheran-heran dan bertanya pada ibu saya, “Anaknya pinter kok malah dikirim ke pesantren? Sayang banget, padahal bisa ke SMP favorit. Emangnya senakal itu, ya?” Waktu itu, citra pesantren, semoderen apapun, masih dianggap sebagai tempat ‘rehabilitasi’ bagi anak-anak yang nakal.
 
Singkat cerita, sejak saat itu saya tak pernah sekalipun berurusan dengan ‘sekolah negeri favorit’. Hingga lulus Madrasah Aliyah, saya ‘merdeka’ sebagai santri di pesantren Muhammadiyah. Selepas lulus pesantren, hantu ‘favoritisme’ menghampiri saya lagi. Selalu masuk ranking lima besar selama di pesantren, memenangkan berbagai kejuaraan di dalam dan luar negeri, terutama dalam bidang menulis dan debat Bahasa Inggris, guru-guru saya mulai mendorong saya untuk ikut SPMB agar saya bisa diterima di perguruan tinggi negeri favorit(!). Bahkan, konon saya bisa ikut jalur PMDK.
 
Namun, entah mengapa seolah ada rasa ‘tidak nyaman’ dalam diri saya ketika pilihan untuk hidup saya harus ditentukan berdasarkan pendapat orang kebanyakan. Waktu itu, sebagai remaja, saya teracuni pemikiran-pemikiran kritis Ivan Illich, Paulo Freire, dan lainnya tentang ‘masyarakat tanpa sekolah’ (deschooling society). Kaetika itu saya mengamini Roem Topatimasang yang membuat maklumat serius: Sekolah itu candu! Di masa-masa akhir SMA, saya bahkan menulis sebuah buku catatan kritis tentang sekolah, saya beri judul buku itu ‘Revolusi Sekolah’, diterbitkan DAR!Mizan tahun 2005. Buku yang membuat saya hampir di-DO dari sekolah.
 
Saya begitu menghayati buku itu—termasuk perjalanan menuliskannya. Bahkan saya sempat berpikir untuk tak usah sekolah saja, sebelum ayah saya memberi penjelasan panjang tentang ‘keistimewaan sosial’ (social privilege) yang bisa diperoleh mereka yang bersekolah. Sayang, saat saya sadar bahwa sekolah itu penting karena akan memberikan saya jaringan, pertemanan, dan lingkungan sosial tertentu yang akan penting di masa depan, pendaftaran SPMB dan segala turunannya terlanjur berakhir.
 
Beruntung, seorang guru saya di pesantren diam-diam mendaftarkan saya ke Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Akhirnya saya berkuliah di sana dan sampai hari ini tetap menjaga rekor tak pernah berurusan dengan sekolah negeri manapun. Bahkan ketika saya mendapatkan beasiswa khusus dari pemerintah Australia, saat saya diberi kebebasan boleh memilih kampus manapun yang saya mau di sana. Pilihan saya tetap jatuh ke universitas swasta. Salah satu universitas swasta terbaik di Australia, Monash University namanya.
 
Apakah saya adalah anak yang gagal karena tidak bersekolah di sekolah favorit? Tidak juga. Saya tidak merasa saya gagal. Sejak sekolah saya bahkan selalu punya semacam obsesi untuk mengalahkan mereka yang konon berasal dari ‘sekolah negeri favorit’ atau ‘perguruan tinggi negeri unggulan’. Saya kira sekarang kita hidup di era persaingan bebas di mana siapa saja dari mana saja bisa berkompetisi mendaki puncak-puncak kesuksesan—mercusuar-mercusuar kebanggaan dunia.
 
Pernah suatu kali saya mengikuti lomba cerdas cermat tingkat provinsi. Saya mewakili pesantren saya yang berada di kaki gunung. Lawan saya waktu itu SMA-SMA favorit yang namanya mentereng, sekolah-sekolah negeri unggulan bertaraf internasional. Apakah nyali saya dan teman-teman ciut? Rasanya tidak. Bahkan kami mengalahkan mereka secara telak dan pulang dengan piala juara pertama. Rasanya ada kebanggaan luar biasa yang hadir dalam diri saya waktu itu. Pada banyak lomba yang lain, di level regional bahkan nasional, persaingan saya kira bukan hanya milik sekolah-sekolah negeri unggulan belaka. Saya sering pulang membawa piala dari banyak perlombaan, meski dari pesantren—bukan dari sekolah favorit.
 
Setelah saya dewasa, saya menghadiri banyak konferensi dan forum tingkat dunia. Baik sebagai peserta maupun pembicara. Di sana, jarang sekali kita ditanya dulu sekolah di mana? Kita dihargai dan didengarkan orang karena pemikiran yang kita miliki—karena kualitas individu yang kita punya. Bukan priviledge kolektif karena kita lulus dari lembaga pendidikan tertentu. Negeri atau swasta tak ada nilainya saat kita tuntas sebagai seorang manusia yang bertanggung jawab pada gagasannya sendiri.
 
Saya kira sistem zonasi yang ditetapkan pemerintah baik saja, tidak ada salahnya. Selama kebijakan ini ditunjang dengan komitmen pemerataan kualitas pendidikan di semua wilayah, serta peningkatan kapasitas pendidik disertai distribusinya yang baik. Dengan begitu, kelak tak akan ada lagi sekolah negeri yang favorit dan yang tidak, sebab kualitasnya akan merata di semua zona—di semua wilayah. Sudah saatnya pelajar Indonesia tidak fokus tentang di mana mereka sekolah, tetapi apa yang mereka kerjakan semasa sekolah.
 
Sekarang, untuk Anda yang anak-anaknya tidak lulus ke sekolah negeri, juga untuk kalian yang kecewa karena tidak diterima di sekolah yang kalian anggap ‘bagus’ karena jauh dari tempat tinggal kalian, tak usah khawatir. Bersekolahlah sungguh-sungguh, belajarlah yang tekun. Jangan merasa sia-sia nilai kalian bagus tetapi tak bersekolah di tempat yang bagus yang kalian cita-citakan… Jika kalian memang luar biasa, di manapun kalian berada dunia akan tetap bisa melihatnya! Tunjukkan. Buktikan.
 
Sekarang, percayalah, dunia bukan untuk mereka yang mendaki tangga-tangga yang disediakan orang lain, tetapi milik mereka yang yang membuat tangganya sendiri. Rancanglah tangga kalian sendiri. Daki kesuksesan kalian sendiri. Di manapun. Dari manapun.
 
Saya bukan lulusan sekolah negeri favorit. Dunia tetap baik-baik saja. Dan saya tetap bisa menjadi yang istimewa.
 
 
 
FAHD PAHDEPIE, Penulis best-seller, entrepreneur, peraih Outstanding Young Alumni Awards dari pemerintah Australia, 2017.

  • view 1.5 K