Politik Posisi Tawar ala Cak Imin

Politik Posisi Tawar ala Cak Imin

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Politik
dipublikasikan 07 Juni 2018
Politik Posisi Tawar ala Cak Imin

Oleh Fahd Pahdepie*
 
Jika ada politisi yang paling serius dan kongkret menuju hajat seleksi pemimpin nasional, nama Cak Imin boleh jadi berada di urutan pertama, meski cita-citanya sebatas cawapres saja. Baligo Cak Imin ada di mana-mana, namanya bergaung dari Sabang sampai Merauke. Ada yang suka tetapi tak sedikit juga yang nyinyir dan mencibir, tentu saja.
 
Namun, harus diakui ‘politik posisi tawar’ a la Cak Imin adalah praktek terbaik yang dimainkan seorang politisi dalam kontestasi politik nasional sekarang ini. Sebagai calon wakil presiden, namanya terus bertengger di papan atas aneka survei. Pengamat politik tak pernah absen membahas kampanye-kampanyenya yang kerap out of the box. Dan publik mulai merekognisi Cak Imin sebagai nama kuat di bursa cawapres. Selain selentingan-selentingan yang mulai terdengar, “Rugi Jokowi kalau nggak ngambil Cak Imin”.
 
Cak Imin boleh tersenyum bangga mendengar semua itu. Tentu karena semua efek di atas adalah bagian dari rencana besar yang sedang dimainkannya. Kita tahu semua ini tak murah. Butuh logistik besar untuk memasang iklan di seantero negeri, masuk berita setiap hari, trending topic minimal dua-tiga kali saban bulan. Cak Imin melakukan ini dengan effort maksimal, melibatkan pasukan—darat maupun udara—yang dirancang secara serius dan sistematis. Beruntung pula ia ketua umum partai, serta punya asosiasi yang kuat dengan NU dan semua derivatifnya.
 
Apakah langkah serupa bisa ditiru politisi lain, untuk menjadi capres atau cawapres? Bisa saja. Apalagi jika punya kendaraan, logistik yang cukup, serta social capital yang baik seperti dimiliki Cak Imin terhadap suara massa arus bawah. Dengan sejumlah langkah yang dihitung strategi dan kemungkinannya, politisi lain sah mengikuti langkah ini sambil memperhitungkan segala hal yang harus lolos dari jerat peraturan KPU. Namun, akan ada satu yang tak bisa dibeli mereka semua: Waktu. Mereka mungkin tak akan punya cukup waktu mengerjakan semua itu—kecuali jika tersedia dukungan logistik yang berlipat-lipat lebih besar, tentu saja.
 
Cak Imin sudah mengerjakan ‘politik posisi tawar’ ini setidaknya delapan bulan terakhir. Jika dihitung dengan langkah-kangkah solid di akar rumput NU dan PKB, paling tidak sudah satu tahun Cak Imin bergerak dengan ‘brand’ cawapres ini. Jika ada politisi lain yang cukup serius mengerjakan hal yang sama dalam waktu yang agak panjang, barangkali Airlangga Hartarto, Menteri Perindustrian sekaligus Ketua Umum Golkar. Bedanya, dengan GOJO dan Komunitas Salam 4 Jari, Airlangga memilih jalur yang lebih aman, tak seagresif Cak Imin.
 
Ibarat total football Cak Imin sudah menyerang dari menit pertama sejak pluit dibunyikan. Sejak diajak berkereta bersama Presiden Jokowi dalam ujicoba kereta bandara, Cak Imin terus tancap gas. Ia juga tak memilih-milih lagi, gawang yang harus dijebol sudah jelas: Goalnya adalah dipinang Jokowi sebagai cawapres yang mewakili suara anak muda, kaum Muslim, dan Nahdliyin. Cocok dengan kebutuhan Jokowi yang harus lebih ‘hijau’ di Pilpres mendatang.
 
Apakah Cak Imin akan berhasil? Kita tidak tahu. Namun, jelas ujian pertamanya apakah Jokowi akan meminangnya atau tidak. Setelah itu, baru kita bisa bicara pemilu. Dalam hal ini, paling tidak ada dua hal yang perlu dipertimbangkan Cak Imin dan PKB.
 
Pertama, menurut saya sebagai cawapres Cak Imin tidak bisa membuat dirinya terlalu ‘hijau’, terlalu NU. Ia perlu agak cair. Ia perlu menjadi ‘solidarity maker’. Meskipun di atas kertas secara hitung-hitungan Cak Imin memang harus menggalang dan mengkonsolidasi suara kaum Nahdliyin.
 
Namun, Cak Imin tak bisa mendesak Jokowi ke zero sum game agar memilihnya untuk mendapatkan restu NU atau tidak sama sekali. Sebab, kita tahu juga ada banyak ormas Islam lain, termasuk yang besar seperti Muhammadiyah. Apalagi jika Muhammadiyah punya calon, bisa jadi, jika Cak Imin terlalu ‘hijau’, kelak Muhammadiyah yang justru akan menawarkan opsi zero sum game kepada Jokowi dan itu merugikan untuk Jokowi.
 
Kedua, meskipun kita tahu ‘politik posisi tawar’ Cak Imin ini berhasil mendongkrak suara PKB (terbukti efek elektoralnya menjadikan PKB kerap berada di posisi 4 besar semua survei), namun PKB tetap memerlukan alternative narrative seandainya paket JOIN tidak terbentuk. Sebagai partai politik modern, PKB tetap memerlukan skenario lain seandainya Cak Imin tidak mendampingi Jokowi—apalagi jika ternyata bertambahnya suara PKB memang berasal dari sentimen positif pasangan Jokowi yang nasionalis dan Cak Imin yang Nahdliyin. Perlu kajian lebih dalam tentang ini, jangan sampai kelak menjadi blunder elektoral untuk PKB.
 
Akhirnya, bagaimanapun buat saya Cak Imin sudah menunjukkan karakter seorang politisi yang bermain secara cerdas, efektif, dan berani di tengah pasar politik millennial seperti sekarang ini. Posisi tawar Cak Imin terus naik seiring daya tarik elektoral partai yang dipimpinnya juga kian menanjak. Cak Imin membuktikan kepada kita semua bahwa kekuatan narasi dan kampanye media adalah hal yang sangat penting untuk dikerjakan—selain lobi elit dan pertarungan gagasan semata. Sad truth, memang, tetapi publik masih mempertimbangkan ‘yang terlihat’, yang berkampanye.
 
Menarik untuk melihat bagaimana ujung dari politik posisi tawar ala Cak Imin ini. Jika berhasil, ini akan jadi sejarah pertama bagaimana seorang politisi berkampanye secara serius dan besar-besaran untuk mencapai posisi dua, bukan posisi satu.
 
Tabik!
 
*FAHD PAHDEPIE, digital communication strategist, Direktur Eksekutif Digitroops Indonesia. Alumnus Department of Politics and International Affairs, Monash University, Australia. 

  • view 564