‘Solidarity Maker’ itu Bernama Din Syamsuddin

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Politik
dipublikasikan 06 Juni 2018
‘Solidarity Maker’ itu Bernama Din Syamsuddin

Oleh FAHD PAHDEPIE*

 

Di tengah hiruk pikuk politik menjelang suksesi kepemimpinan nasional akhir-akhir ini, boleh jadi nama Din Syamsuddin jarang kita dengar atau muncul ke permukaan. Fotonya jarang kita lihat, pikiran-pikiran dan pendapatnya seolah menjauhi pusat-pusat percakapan, wajahnya tak wara-wiri di televisi. Barangkali, ia memang menjauhi semua itu. Sebab baginya kerja-kerja untuk ummat dan bangsa tak perlu gincu, tak perlu pencitraan.

Tanpa sorot kamera, lampu blitz atau kerumunan wartawan, Pak Din terus bekerja. Ia merawat keberagaman dan solidaritas antar elemen bangsa, antarumat, meski dari pinggiran-pinggirannya. Saat sejumlah politisi atau tokoh lain berusaha mengais keuntungan dengan memecah-mecah ummat dan bangsa, Pak Din bekerja sebaliknya untuk merajut dan menjaga kohesivitas antar ummat itu. Sementara kohesivitas adalah kosakata yang belakangan asing di tengah percakapan politik kita.

Tentu saja ini bukan hal baru bagi Pak Din, rekam jejaknya jelas: 10 tahun menjadi pemimpin Muhammadiyah, 5 tahun mengabdi sebagai wakil dan ketua MUI, serta kini mengemban amanah sebagai Utusan Khusus Presiden untuk Dialog Antaragama dan Peradaban. Semua posisi yang menjelaskan kepada kita betapa ia mendedikasikan waktunya hanya untuk ummat saja, demi terwujudnya izzul Islam wal muslimin seperti sering ia ungkapkan, yang komitmen itu ia tunjukkan bahkan dengan melepaskan semua jabatan lain—termasuk posisinya yang mapan di Partai Golkar.

Jika mau dan berpikir untuk dirinya sendiri, saya kira Pak Din sebenarnya bisa mendapatkan jabatan lain yang lebih 'basah', lebih strategis, lebih bisa dilihat dan dipuji orang. Dengan terus saja menempuh jalur 'normal' di partai politik, misalnya, Pak Din sebetulnya bisa menjadi siapa saja yang hebat-hebat dan mercusuar di kancah politik nasional: Minimal menteri atau ketua umum partai.

Namun, Pak Din memilih menanggalkan dan meninggalkan kesempatan-kesempatan itu. Ia ingin mengabdikan dirinya untuk ummat, maka ia pilih 'jalan sunyi' sebagai seorang ulama-intelektual atau intelektual-ulama. Ia bekerja dari ruang senyap, menyangga tiang-tiang peradaban, lintas elemen, lintas iman, lintas generasi. Ia menggalang kekuatan-kekuatan kultural untuk memaksimalkan posisi Indonesia sebagai poros Islam dunia... Islam yang wasatiyah (moderat), yang rahmatan lil alamin, tentu saja.

Kini, di tengah situasi bangsa yang seolah terbelah, ummat yang kian terbagi dan terpecah-pecah karena politik kepentingan jangka pendek segelintir orang, tidakkah Pak Din terpanggil untuk berbuat seuatu yang lebih dari yang sekarang dilakukan—merangsek dari pinggiran ke pusat-pusat magnitude kekuasaan untuk mengubah peta permainan? Saya kira Pak Din bukan tak punya kapasitas atau kesempatan untuk itu, pemahaman dan pengalaman politiknya lebih dari cukup untuk menjadi seorang game changer politik nasional. Namun, entah mengapa ia tetap kukuh memilih posisi sebagai solidarity maker saja. Pak Din tentu punya jawaban tersendiri untuk itu, sesuatu yang kelak akan kita mengerti.

Tetapi, dengan melihat karir politiknya, karir intelektualnya sebagai seorang akademisi, juga kiprahnya di berbagai organisasi keagamaan, barangkali kita bisa sedikit mengulik jawaban itu. Saya kira, Pak Din adalah tipe pemimpin otentik yang menempatkan politik tidak semata sebagai distribusi kekuasaan (distribution of power) belaka, tetapi juga distribusi nilai-nilai (distribution of values). Di sanalah Pak Din sepetinya memposisikan diri, saat orang lain hanya melihat ummat sebagai aset atau pasar elektoral saja, Pak Din melihatnya sebagai ruang untuk memaksimalkan nilai-nilai keadaban dalam rangka mencapai sesuatu yang disebutnya sebagai izzul Islam wal muslimin tadi—kemuliaan Islam dan ummat Islam. Itulah caranya menjadikan Indonesia sebagai poros wasatiyah Islam dunia, saya kira.

Sayangnya, ummat juga kini membutuhkan seorang 'jendral lapangan'. Ummat Islam Indonesia butuh pemimpin yang bisa mengayomi dan diterima semua kalangan. Pemimpin yang bisa menjadi otak, jantung, sekaligus hati bagi tubuh ummat yang kekar tetapi masih limbung pergerakannya. Pemimpin dengan kaliber ulama, intelektual, sekaligus imam bagi shaf-shaf ummat bangsa ini. Saya kira Pak Din punya kapasitas itu, ia perlu kita tarik atau dorong untuk menjadi salah satu pilihan di antara nama-nama lain yang kini sudah mulai muncul di permukaan dan menjadi pilihan.

Meski demikian, akhirnya hanya Pak Din yang tahu dan mengerti sepenuhnya tentang mungkin atau tidak ia turun gelanggang. Di tengah situasi seperti sekarang ini, memang kita tetap membutuhkan sosok Pak Din yang sudah khatam dan kalis sebagai seorang solidaruty maker, memastikan agar bangsa ini memenuhi panggilan takdirnya sebagai imam peradaban. Namun, tentu boleh juga kita berharap, atau paling tidak memasukkan namanya di antara daftar nama-nama lain yang kapabel memimpin bangsa sekarang ini. Dengan memiliki lebih banyak pilihan nama, kita akan punya kesempatan untuk memilih yang terbaik, bukan?

'Ala kulli hal, untuk apapun, kita perlu berterima kasih kepada Pak Din. Meski barangkali ia tidak mengharapkan dan membutuhkannya. Kita perlu berterima kasih sebab di antara berbagai tokoh yang menjadikan Islam dan ummat Islam sebagai komoditas politik belaka, kita masih punya Pak Din yang kukuh dan setia merawat simpul-simpul persatuan, solidaritas, dan kolaborasi.

Kita bersyukur masih punya seorang solidarity maker yang mendedikasikan diri untuk menjadi pelita agama, yang dengan teladan serta prakarsa-prakarsa terpuji berusaha menjadi sinar matahari agama, sesuai namanya: Prof. DR. KH. Muhammad Sirajuddin Syamsuddin.[]

Jakarta, 6 Juni 2018

 

*Fahd Pahdepie adalah penulis dan Direktur Eksekutif Digitroops Indonesia, founder gerakan Revolusi Kedai Kopi. 

  • view 291