Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Budaya 5 Juni 2018   15:51 WIB
Via Vallen, Everyday Sexism, dan Kemunafikan Kita

Seandainya bukan seoarang ‘pesepakbola terkenal’ yang mengirim pesan berbau pelecehan seksual kepada Via Vallen, apakah kita akan ribut-ribut juga? Seandainya bukan seorang selebgram yang dikirimi pesan mesum oleh pengikutnya, kemudian pesan itu di-screenshoot dan diviralkan, namun ternyata akun si pelaku palsu belaka dan memakai foto orang lain, apakah jagat maya akan seheboh seperti seminggu belakangan ini? Belum tentu, saya kira.

Sejatinya, pelecehan seksual kepada perempuan di dunia maya terjadi setiap hari, barangkali setiap jam, bisa jadi setiap sekian menit sekali. Kita hidup dalam sebuah masa di mana ‘everyday sexism’ adalah hal biasa dan ‘online abuse’ menjadi spiral yang terus berputar entah di mana ujung pangkalnya. Dan semua kita terlibat, sebagai korban atau pelaku, atau pihak yang yang membiarkannya terus terjadi. 

Pada banyak kasus, pelaku pelecehan seksual merasa tak bersalah, seolah itu biasa dan wajar saja… Sialnya, para korban (yang lebih sering adalah perempuan) juga enggan mengambil tindakan karena satu dan lain hal: Bisa karena takut, bisa karena malas, tetapi juga bisa karena merasa tidak apa-apa diperlakukan demikian. Celaka, bukan?

Apakah kita hanya akan bergerak jika semua ini menimpa selebritas saja? Apakah kita akan mulai peduli jika sang pelaku adalah figur publik yang terkenal? Padahal, setiap hari kita baca ribuan komentar dan posting berbau ‘pelecehan’ dilontarkan oleh netizen tanah air di berbagai tempat. Mulai dari yang ringan sampai yang berat. Silakan cek akun-akun Instagram selebritas perempuan. Cek komentar-komentar yang datang dari para lelaki tak tahu malu, seolah memuji tetapi menjurus pada ‘pelecehan’ juga. Belum lagi yang terang-terangan merayu, mengajak kencan, atau lebih jauh dari itu. 

Saya yakin Via Vallen tidak sendirian. Saya yakin masih banyak perempuan lain, selebritas atau bukan, yang mengalami ‘online abuse’ atau ‘everyday sexism’ yang sama. Mereka hanya tak bersuara, mengabaikannya, atau tak tahu harus berbuat apa. Bagi saya, ini momentum yang baik untuk melawan. Kita tak bisa membesarkan anak-anak perempuan kita di tengah masyarakat misoginis dengan kultur yang patriarkis seperti ini… Seolah perempuan memang layak dan bisa saja dilecehkan, direndahkan, dirayu seenaknya, dipandang sebagai objek seksual belaka.

Saya tahu masih akan nada pihak-pihak tertentu, sekelompok orang, yang tetap menyalahkan perempuan: Menyalahkan caranya berpakaian, kebiasaannya mengunggah foto ke media sosial, kebiasaannya jalan-jalan atau keluar rumah dan lainnya. Mereka akan berteriak, “Salah mereka sendiri mengunggah foto seksi!” atau “Makanya jangan unggah foto atau ke media sosial kalau nggak mau dikomentari macam-macam”. Atau ‘salah sendiri-salah sendiri’ lainnya yang diiringi ‘moral judgement’ yang bias. 

Jika komentar ‘salah sendiri’ itu datang dari laki-laki, bisakah kita berhenti menyalahkan pihak lain untuk pikiran dan syahwat yang tak bisa dikendalikan? Konon, kita hanya akan dirpertemukan dengan apa-apa yang kita cari… Jika kita berniat menjaga diri, menjaga pandangan, bukankah kita tak akan menyesatkan diri begitu saja pada foto-foto atau video yang tak akan kuat pikiran kotor kita menahannya? Bah!

Sayangnya, harus diakui memang ada beberapa perempuan yang juga secara sengaja mengeksploitasi tubuh mereka untuk mengundang decak kagum dan komentar lamis laki-laki. Mereka mengumbar aurat, bahkan secara sengaja ditambahi ‘caption’ tak senonoh, demi like-comment-follow para penggemar laki-lakinya.

Namun, tetap saja, pelecehan seksual kepada mereka pun tak layak mendapatkan pembenaran. Apapun alasannya. Jika kita mencuri di sebuah minimarket, misalnya, kita tak bisa membela diri dengan mengatakan ‘salah sendiri pintu minimarketnya terbuka’ bukan? Jika kita batal puasa, kita tak bisa menyalahkan tukang sate yang mengipas-ngipas dagangannya.

Ala kulli hal, kita tak bisa membiarkan pelecehan seksual di media sosial terus terjadi. Kita tak bisa bersikap permisif pada sekecil apapun ‘everyday sexism’ dan ‘online abuse’ yang kita saksikan selama ini. Lawan, tegur, laporkan. Tak penting siapapun korbannya, selebritas atau bukan, terkenal atau tidak. Siapapun juga pelakunya. Hal-hal semacam ini harus dilawan bersama-sama. Sambil kita terus mengoreksi dan memperbaiki secara serius dan sistematis sifat kebudayaan kita yang patraiarkis dan terkadang misoginis itu. Meski pelecehan seksual terkadang juga dialami laki-laki dari para perempuan, tak menutup kemungkinan.

Apakah kita harus menunggu sampai kejadian yang sama menimpa diri kita sendiri, pacar atau istri kita, adik atau anak perempuan kita? Tentu tidak. Lawan, tegur, laporkan. Sekarang.

Jakarta, 5 Juni 2018 

FAHD PAHDEPIE

 

 

Karya : Fahd Pahdepie