Energi Puasa, Anak Muda, dan Narasi Kebangkitan Nasional

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Inspiratif
dipublikasikan 20 Mei 2018
Energi Puasa, Anak Muda, dan Narasi Kebangkitan Nasional

Jika kita perhatikan, banyak dari momen penting sejarah bangsa ini digerakkan oleh energi puasa. Nuansa bulan suci seolah memberi inspirasi bagi para pendiri bangsa ini untuk menggelorakan perjuangannya. Kita tahu, teks proklamasi dibacakan di bulan Ramadhan, mengantarkan bangsa kita ke pintu gerbang kemerdekaannya. Hari ini, kita merayakan Kebangkitan Nasional ke-110, yang ternyata kongres pertamanya juga digelar di bulan puasa.

Saat itu di Yogyakarta, betepatan dengan bulan puasa Oktober 1908, Boedi Oetomo yang semula digagas anak-anak muda STOVIA (Sekolah Dokter Pribumi) menggelar kongres pertamanya di gedung Kweekschool (Sekolah Pendidikan Guru) di Yogyakarta. Dihadiri 300 perwakilan anak muda dari Batavia, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sejak kongres itu, perjuangan anak-anak muda Indonesia terus bergulir—menginspirasi pembebasan negeri ini dari cengkraman penjajah.

Dari sana kita belajar, perjuangan anak-anak muda ini bukan sekadar perjuangan intelektual atau aktivisme, tetapi juga pengorbanan materi. Anak-anak muda yang sadar bahwa bangsa ini harus bangkit, turun tangan menyumbangkan gagasan, tenaga, bahkan harta benda. Dicatat dalam sejarah, tak sedikit dari mereka menjual arloji, kain panjang, ikat kepala, bahkan merelakan uang tunjangan sekolah mereka untuk ‘bahan bakar’ perjuangan.

Ya. Anak-anak muda, seperti kita tahu, kerap menjadi generator penggerak berbagai momentum penting dalam transformasi bangsa ini. Boedi Oetomo 1908, Sumpah Pemuda Oktober 1928, hingga proklamasi kemerdekaan RI Agustus 1945 tak mungkin terjadi tanpa peran anak-anak muda. Bahkan, reformasi 1998, yang berlangsung Mei 20 tahun lalu, tak akan terwujud tanpa peran para aktivis muda dan mahasiswa di dalamnya. Anak muda selalu menjadi pemain utama dalam narasi kebangsaan kita.

Memperingati 110 tahun Kebangkitan Nasional, sekaligus juga 20 tahun Reformasi, rasanya kita perlu sekali lagi berefleksi: Negara ini hanya akan bangkit jika anak-anak muda mencapai titik kesadaran sejarahnya untuk turun tangan melakukan perubahan. Dan kesadaran sejarah itu mesti muncul dari kerendahatian dan keikhlasan menerima bahwa kondisi bangsa kita saat ini sedang tidak baik-baik saja. Ada yang salah dengan bangsa ini… Indonesia selalu membelum, selalu merupakan proyek yang belum selesai, dan mesti kita sempurnakan bersama-sama.

Anak muda perlu membuka mata, tanpa peran mereka bangsa ini akan terus menunda masa-masa kegemilangannya. Kebangkitan nasional tak akan bermakna apa-apa jika kita tak mengerti apa yang harus kita bangkitkan, untuk apa kita bangkit, dan ke mana kita harus bergerak. Kesadaran semacam inilah yang harus terus hadir dalam diri kita, anak-anak muda Indonesia, menjadi bensin untuk menggerakkan mesin perjuangan kita menuju masa depan.

Di antara kita, ada yang bergerak dengan intelektualitas dan gagasannya, ada yang berjuang dengan karyanya, ada yang berbakti dengan inovasi, tetapi harus ada juga yang rela mewakafkan diri, waktu, tenaga, bahkan materi untuk bekal perjuangan ini. Bagaimanapun, kita tak bisa menolak takdir bahwa kita sudah tiba di momentum sejarah untuk bergerak, berubah, berbenah. Indonesia harus lebih baik lagi di masa depan—tak tertolak.

Kini, mari kita bergerak. Kita gunakan energi puasa untuk mulai merancang perubahan dan mewujudkan kebangkitan. Indonesia adalah tanah kita, air kita, jiwa dan raga kita. Tak boleh ada orang lain yang merebut dan menguasainya. Anak-anak muda punya saham politik yang besar di negeri ini, begitu juga saham ekonomi, kebudayaan dan lainnya. Kita bergerak dari sana. Kita bangkitkan spirit kebangsaan kita.

Inilah energi puasa kita, spirit kebangkitan kita, kita rancang narasi Indonesia gemilang di mana anak-anak muda menjadi penggeraknya.

FAHD PAHDEPIE

#HariKebangkitanNasional #AnakMuda #Kolaborasi #MillennialVoters

  • view 86