Asyik yang Nggak Asyik?

Asyik yang Nggak Asyik?

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Politik
dipublikasikan 15 Mei 2018
Asyik yang Nggak Asyik?

Saya menyayangkan ‘closing statement’ yang dikeluarkan Pasangan Calon Gubernur Jawa Barat nomor urut 3, Sudrajat-Syaikhu, yang populer dengan akronim ASYIK, di debat Pilgub Jabar semalam.

Pada bagian penutup debat itu, Sudrajat menyampaikan peryataan kontroversial bahwa jika Asyik Menang di Jawa Barat, maka 2019 ganti presiden. Tak cukup sampai di sana, sambil tersenyum, Syaikhu membentangkan kaus bertuliskan hal yang sama: 2018 Asyik Menang, 2019 Ganti Presiden.

Tak ayal, suasana menjadi panas. Situasi mendadak ricuh. Para pendukung berkonfrontasi, hingga adu fisik pun terjadi. Sontak peristiwa itu menjadi pembicaraan nasional, ‘trending topic’ mencuat. Debat Pilgub Jabar yang seharusnya meninggalkan percakapan tentang program dan visi-misi siapa yang terbaik, ujungnya jadi perdebatan dan pergunjingan mengenai statement ini.

Mari kita uji, apakah ada yang salah dengan pernyataan Ajat-Syaikhu tersebut? Apakah pernyataan tersebut diperbolehkan? Jika kita dewasa dalam berdemokrasi, jika kita melihat yang terjadi di negara-negara dengan demokrasi maju, tak ada yang salah dengan pernyataan Asyik ini. Pernyataan politis semacam itu sah-sah saja dan diperbolehkan. Biasa saja seorang kandidat di level gubernatorial memiliki preferensi politik terentu untuk kontestasi politik nasional.

Ingat pertanyaan pembawa acara kepada Ganjar Pranowo dan Sudirman Said dalam debat Pilgub Jateng? Presenter secara rileks mengajukan pertanyaan yang serius dengan ‘tone’ politik yang sama: Jokowi atau Prabowo? Ganjar yang sontak menjawab “Jokowi!” dengan semangat sebenarnya sama dengan Sudrajat-Syaikhu yang ‘tidak mendukung Jokowi’ malam tadi. Semantara, berbeda dengan Ganjar, Sudirman secara demokratis menjawab, “Kita lihat saja nanti”—meskipun publik tahu SS mendukung Prabowo.

Lalu, apa masalahnya dengan pernyataan Asyik semalam? Mengapa memicu kontroversi? Masalahnya adalah, pernyataan Asyik semalam diucapkan di situasi yang tidak tepat konteks—juga dengan cara yang ‘keliru’. Dalam situasi politik nasional yang relatif panas menjelang Pilpres 2019 akhir-akhir ini, yang menciptakan polarisasi diametral antara pendukung petahana dan kelompok yang ingin mengganti presiden, pernyataan tersebut menjadi tidak bajik sekaligus tidak bijak. Apalagi secara langsung dihubungkan dengan gerakan tagar #2019GantiPresiden.

Setuju atau tidak, akhirnya pernyataan tersebut menjadi terasa sebagai sebuah oksimoron: Baik tapi belum benar. Benar tetapi tidak baik. Saya yakin tidak semua pendukung Asyik ‘sreg’ dengan pernyataan yang disampaikan dalam debat semalam itu. Tentu saja, para pendukung lawannya pasti tidak suka, meskipun di saat bersamaan mereka (dan kandidat yang didukungnya) sebenarnya punya hak politik yang sama untuk mengungkapkan preferensi politik tertentu di level nasional.

Di sini, politisi dituntut bijak. Mereka perlu peka melihat dan merasakan situasa masyarakat yang lebih luas dari konteks diri dan pendukungnya semata. Jangan sampai masyarakat merasa bahwa apa yang dilakukan Asyik semalam hanya upaya melepaskan ikan herring merah semata. The red herring fallacy.

‘Red herring fallacy’ adalah teknik yang biasa dimainkan dalam debat—termasuk debat politik. Saat argumen seseorang terlalu lemah untuk melawan argumen lain, seorang debator bisa mengeluarkan ikan herring merah secara sengaja untuk mengalihkan perhatian dan pokok pembicaraan, agar ia bisa lepas dari perang argumen utama. Kita sering lihat di acara debat politik di TV, misalnya di ILC, alih-alih membicarakan topik atau gagasan utama, para politisi kadang sibuk membicarakan hal lain yang keluar konteks—soal fisik atau gosip, misalnya. Bisa jadi, itu semata upaya melepaskan ikan herring merah saja.

Bagi saya, debat Pilgub semestinya berfokus pada program dan argumen-argumen utama tentang pembangunan daerah serta pembangunan manusia. Bukan yang lain. Itulah yang membuat saya kecewa dan menyayangkan pernyataan Asyik semalam... Padahal saya melihat potensi yang sangat besar dalam program-program yang ditawarkan Asyik. Hal bagus yang semestinya menjadi pokok pembicaraan dan pusat perhatian.

Jadi, apakah Asyik nggak asyik dalam debat semalam? Terserah Anda yang menilainya.

Mari berargumen secara sehat.

 

Jakarta, 15 Mei 2018

FAHD PAHDEPIE

  • view 1.6 K