Anak-anak Yatim dan Energi Kebaikan di Sekelilingnya

Anak-anak Yatim dan Energi Kebaikan di Sekelilingnya

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Inspiratif
dipublikasikan 09 Mei 2018
Anak-anak Yatim dan Energi Kebaikan di Sekelilingnya

“Barangkali yang Anda lihat di depan ini adalah anak-anak yatim. Tetapi jangan lihat raganya. Sebab secara substansi yang hadir di sini bukan mereka, tetapi Rasulullah. Doa-doa anak yatim tak berjarak dengan Allah.”

Saya lama terdiam mendengar kalimat yang baru saja diucapkan oleh pembawa acara tersebut. Siang itu, saya menghadiri acara silaturahim LSI Network dan DRP Group bersama Pak Denny JA. Acara tersebut menjadi istimewa, bukan semata menjadi momen kami bisa saling bermaafan sebelum menyambut datangnya bulan suci Ramadhan, tetapi juga karena dalam kesempatan itu hadir ratusan anak yatim dari berbagai daerah di Jakarta. Kami hendak berdoa bersama mereka…

Pikiran saya berkelana ke 14 abad silam, membayangkan masa-masa kecil Muhammad Sang Nabi. Betapa luar biasa Rasulullah bisa menjalani hari-hari tanpa kehadiran seorang ayah—lalu kemudian ibu—di sampingnya, di usianya yang begitu belia, masa-masa yang padahal sangat memerlukan kehadiran orangtua sebagai tempat mengadu, berbagi keluh, memilah kesah, juga bertukar energi kasih dan sayang.

Beberapa adegan dalam film ‘Muhammad: The Messenger of God’ karya Majid Majidi (2017) yang sempat saya tonton bergantian bagai slide dalam kepala saya: Sang Nabi ketika bayi, di masa kanak-kanak, di masa remaja… Betapa berat perjalanannya sebagai seorang ‘anak yatim’ yang harus terus berada dalam pelarian, rasa nelangsa, rasa tak aman karena ancaman berbagai pihak dan bahaya yang mengintai.

Wajar saja bila Rasulullah begitu memuliakan anak-anak yatim. Posisi anak yatim memiliki tempat tersendiri dalam ajaran beliau. Begitu banyak hadits berbicara tentang betapa mulia mereka serta ganjaran kemuliaan yang berlimpah untuk siapa saja yang memuliakan mereka. Dalam al-Quran, paling tidak terdapat 22 ayat yang langsung berbicara mengenai keutamaan memuliakan anak Yatim. Bahkan di Surat al-Ma’un, mereka yang menghardik anak-anak yatim, dikelompokkan ke dalam orang-orang yang telah mendustakan agama.

Acara berlangsung khidmat. Ketika sampai ke bagian sambutan, Pak Toto Izzul Fatah, mewakili LSI Network, memulai sesi ini dengan menceritakan kisah sederhana yang begitu menggugah. “Tadi malam, ada momen luar biasa yang tak akan saya lupakan…” Katanya memulai sambutan. Suaranya parau dan landai.

“Semalam, kami melaksanakan gladi resik bersama anak-anak yatim yang kini berada di depan Bapak-bapak dan Ibu-ibu. Untuk suksesnya acara ini, karena akan ada penampilan dari mereka, kami menggelar sejumlah latihan sehari sebelumnya. Seusai latihan, karena hari sudah malam, kami membagikan nasi bungkus untuk anak-anak ini…”

“Usai latihan, semua anak makan dengan lahap. Namun, saya melihat satu anak yang terus memegangi nasi bungkus yang dibagikan dan tidak kunjung memakannya. Anak ini masih berusia sekitar 5 atau 6 tahun, Lana namanya. Karena melihat peristiwa yang janggal itu, saya memberanikan diri bertanya… Saya tanyakan, ‘Dik, kenapa nasinya tidak dimakan?’. Dengan polos, anak itu menjawab sambil menggelengkan kepala, ‘Nanti aja di rumah. Buat makan sama Mama.’ Katanya…”

Mendengar kisah itu, hadirin terdiam. Pak Toto tampak berusaha menahan air matanya saat melanjutkan cerita tadi. Batin saya bergemuruh… Barangkali jawaban anak itu sederhana, namun, bagi saya, di baliknya terdapat kedalaman yang luar biasa. Betapa mulia hati anak itu, betapa lembut perasaannya… Barangkali ia berpikir bahwa ia tak ingin menikmati ‘makanan enak’ itu sendirian, karena ada ibunya di rumah yang ia bayangkan harus juga makan enak. Padahal, baru enam tahun usia anak itu.

“Lana ini, baru empat bulan ditinggal mendiang ayahnya.” Lanjut Pak Toto. “Sebelumnya ayahnya berprofesi sebagai pengendara ojek online. Malangnya, beliau meninggal karena kecelakaan. Meninggalkan istri dan putri kecilnya.”

Hadirin tak kuasa lagi menahan air mata ketika mendengar kisah tersebut. Apalagi ketika Pak Toto menunjukkan mana anak hebat bernama Lana itu… Saya melihat anak itu tersenyum ketika hadirin menghadiahinya tepuk tangan yang gemuruh—sambil sibuk menyeka air mata. Anak itu masih saja menunjukkan gesturnya yang polos, seolah tak mengerti betul apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Berikutnya giliran Pak Denny. Beliau adalah orang menginisiasi kegiatan ini, serta secara dermawan bersama istrinya, Ibu Mulia, berbagi rejeki kepada ratusan anak yatim-piatu yang hadir siang itu agar mereka bisa sama-sama merasakan indahnya menjemput bulan suci Ramadhan. Di atas panggung Pak Denny mengingatkan kami semua tentang betapa pentingnya berbagi kebaikan dan kebahagiaan… Tentang betapa hidup harus dibangun di atas rasa empati dan saling memberi. “Kita perlu belajar, bahwa berbagi dengan anak-anak yatim ini bukan tentang memberi kebahagiaan untuk mereka saja, tetapi juga tentang menolong dan memberi kebahagiaan untuk diri kita sendiri. Begitulah science of happiness bekerja.”

Sejak pertama mengenalnya bertahun lalu, banyak yang bisa saya pelajari dari sosok Denny JA. Khusus tentang keluasan hatinya dalam memberi dan berbagi, saya selalu ingin mencontohnya. Siang itu, diam-diam saya melahirkan sebuah mimpi kecil: Ingin suatu hari saya bisa menjadi sebab bagi sebanyak mungkin kebahagiaan anak-anak yatim—setidaknya melaksanakan sesuatu yang sama seperti yang sedang saya saksikan siang ini. Anak-anak itu mengular untuk mendapatkan santunan satu per satu, mata mereka berninar, senyum mereka merekah, wajah meraka bercahaya.

Di akhir acara, anak-anak yatim itu naik ke panggung. Mereka membaca doa bersama, lalu menyampaikan rasa terima kasih mereka karena telah ‘dirangkul’. Tiga anak yang bergiliran berbicara, sukses membuat hadirin terdiam haru—bahkan menangis tersedu. “Ya Allah, kami mungkin kehilangan kedua orangtua, tapi kami ikhlas, kami ridho akan ketentuan-Mu… Karena di sekeliling kami masih ada begitu banyak saudara, orang-orang yang melindungi dan menyayangi kami, seperti mereka yang hari ini hadir di ruangan ini. Limpahkan kepada mereka berkah dan kasih sayang-Mu, Ya Allah…” Ujar salah satu dari mereka, yang paling tua usianya.

Mendengar doa itu, hadirin terisak. Saya pun tak kuasa menahan tangis. Betapa besar energi keberkahan yang melingkar dan mengumpul di momen itu—menjadi titik-titik pusar kebaikan yang saya yakin akan terus menyebar dan membesar. Menjadi sebab bagi kebaikan-kebaikan lain yang tak bisa kita ukur atau rencanakan.

 Hari ini, banyak pelajaran yang bisa saya ambil. Tetapi lebih banyak lagi nikmat yang harus saya syukuri. Betapa selama ini saya dilimpahi berkah dan kenikmatan yang tiada banding… Betapa selama ini saya dikelilingi orang-orang baik yang terus saling menginsipirasi untuk berbuat baik. Dan benar kata pembawa acara itu, barangkali tak bisa kita lihat dengan kasat mata, tetapi sesungguhnya secara substansi Rasulullah hadir di momen kami bersama anak-anak yatim siang itu.

Ciputat, 9 Mei 2018

FAHD PAHDEPIE


  • view 352