Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Politik 2 Mei 2018   09:21 WIB
Sembako Gratis dan Strategi Para Pecundang

“Bang Fahd, kalau benar netral, ditunggu tulisannya tentang dua anak yang meninggal di acara bagi-bagi sembako di Monas.” Tulis komentar itu. Juga beberapa komentar sinis lainnya yang berpusat pada nada yang sama, “Ditunggu kritik keras dan terbukanya kepada Presiden Jokowi!”

Rasanya saya tak perlu menjelaskan apakah saya pernah mengkritik pemerintah dan Presiden Jokowi atau tidak? Banyak tulisan saya tentang itu. Seperti kredo para warganet jika ingin melacak seseorang atau sesuatu, “Bisa dicari jejak digitalnya”. Silakan cari jejak digitalnya. Bahkan saya sempat menulis surat terbuka langsung kepada Presiden soal kebijakannya yang ‘ngawur’ ketika menaikkan harga BBM. Surat itu viral di media sosial dan banyak dimuat di media massa.

Bagi Anda yang mempersoalkan netralitas saya, seraya menekankan bahwa tak mungkin ada seorangpun yang 100% netral dan tak berpihak ke manapun. Betul memang, mustahil saya tak punya keberpihakan kepada pihak manapun... Ada yang saya sukai dari pihak tertentu, namun ada juga yang saya kagumi dari pihak lain. Semua tergantung konteksnya. Saya tak terbiasa menjadi buta dengan mengatakan segalanya benar di satu sisi dan semuanya salah di sisi lain. Demikianlah sampai akhirnya saya memilih untuk tak berpihak pada kubu-kubu yang bertikai untuk obsesi politik tertentu, yang diiringi dengan kebencian membabi buta pada kelompok lain. Maaf, saya tak tertarik.

Saya memilih tak berpihak pada siapapun, paling tidak untuk saat ini. Ketika pemimpin masih dalam masa memerintah dan oposisi belum punya platform politik dan tawaran jalan keluar dengan landasan berpikir yang kokoh. Saya memilih menunda dan membelum. Saya akan tetap besikap sama sampai di satu titik saya harus menentukan pilihan, seperti 2014 lalu, yang sama sekali tak mudah namun harus diputuskan. Sejauh ini, itu sikap saya. Tentu saja pilihan saya bisa sama sekali berbeda di 2019 mendatang.

Kalau boleh menamainya, saya ingin menyebut ini sebagai “politik jalan ketiga”. Ketika ada dua arus yang bagi saya sama-sama tidak akan menyelamatkan kapal Indonesia, saya memutuskan untuk membangun jalan ketiga. Jika seandainya pun jalan ketiga ini tak akan menjadi arus utama yang bisa menjadi tandingan, paling tidak jalan ini akan menjadi jalan kesadaran baru, jalan yang melihat politik bukan semata urusan siapa pemimpinnya, kapan pemilihannya, siapa yang harus didukung, dan urusan-urusan transaksi elektoral lainnya. Kita bisa melihat lebih jauh dari itu. 

Lantas, apa pendapat saya soal acara bagi-bagi sembako bertajuk ‘Untukmu Indonesia’ yang ditengarai bermuatan politik dan ditunggangi relawan Jokowi? Sebelum kita sampai pada insiden nahas tewasnya dua anak di acara itu, saya ingin katakan beberapa hal.

Pertama, acara itu memalukan. Selain juga melanggar peraturan Pemprov DKI karena pelaksanaannya tak sesuai izin. Acara itu memalukan karena pembagian sembako gratis dengan cara membuat orang-orang mengantre hingga berdesakan menunjukkan secara telak mental yang ingin menunjukkan hierarki sosial tertentu: Seperti penjajah yang berhadapan dengan pribumi, orang kaya yang berhadapan dengan orang miskin, penguasa yang menganggap rakyat miskin tak lebih dari unit-unit tak berdaya yang perlu disubsidi dan difestivalkan. 

Forum Untukmu Indonesia yang menggelar acara ini, jelas memiliki mentalitas semacam itu. Jika ‘murni’ ingin membantu masyarakat miskin, mereka tak perlu membuat acara heboh bagi-bagi sembako di lapangan terbuka—bukankah mereka bisa langsung mengirimkan relawa ke kantong-kantong masyarakat miskin ibukota? Soal jumlahnya yang perlu diketahui publik, yang 100.000 paket itu agar masuk ke dalam berita, bukankah mereka bisa membuat press release?

Kedua, jika benar kegiatan ini bermuatan politik (ingat saya menempatkan kalimat syarat di sini), dengan relawan Jokowi ada di belakanganya, jelas sekali kegiatan ini merupakan strategi politik kelompok pecundang. Membangun simpati dengan cara seperti ini adalah cara yang memuakkan. Saya termasuk yang mengecam secara serius ketika presiden di beberapa acara kenegaraan membagi-bagikan sembako atau paket lain kepada masyarakat… Memalukan karena kegiatan dan paket-peket itu menggunakan dana APBN, juga ‘curang’ karena meskipun itu boleh tetapi tak pantas dikerjakan di tahun politik seperti ini.

Jika berbagai survey nasional menyebutkan bahwa Presiden saat ini memimpin angka popularitas dan elektabilitas, bagi saya itu sama sekali tidak mencengangkan. Wajar karena Presiden hampir setiap hari muncul di televisi dan media massa lainnya, dengan jabatannya memiliki banyak kesempatan dan dukungan untuk berkeliling ke berbagai penjuru negeri, punya ruang yang banyak untuk berbicara dan menyampaikan gagasan-gagasan politiknya. Sementara lawan-lawannya? Wajar sekali masih terpaut jauh di bawah beliau karena tak setiap hari tampil di TV, tak punya cukup ruang dan kuasa untuk bisa pergi ke berbagai pelosok negeri. Namun, tahun politik baru saja dimulai, kandidat-kandidat lain baru saja memanaskan mesin politiknya, situasi bisa sangat berubah dalam beberapa bulan ke depan, tentu saja.

Lalu, bagaimana dengan insiden dua anak yang tewas di acara bagi-bagi sembako gratis ‘Untukmu Indonesia’ itu? Menganalisis banyak pemberitaan yang saya baca, sikap saya begini: Harus diinvestigasi dan diklarifikasi bahwa Rizki dan Mahesa menjadi korban langsung dari kegiatan itu. Wagub Jakarta Sandiaga Uno mengatakan bahwa kedua korban meninggal sebagai akibat langsung dari kejadian itu, sementara Polda Metro Jaya merilis keterangan bahwa keduanya meninggal karena sakit—bukan karena berdesak-desakan.

Kedua keterangan ini tampak berlawanan, yang harus dihindari adalah Sandi Uno jangan melibatkan diri kedalam pusaran debat yang berbau politis dengan menyeret langsung persoalan ini ke sana. Pihak kepolisian juga harus berhati-hati mengeluarkan pernyataan, jangan sampai berkesan ingin menutup-nutupi sesuatu. Di sini, saya melihat sebuah peluang: Seperti kata Mahfud MD, Sandi Uno jangan hanya berkomentar. Tetapi gunakan otoritas politiknya sebagai wagub untuk meminta kepolisian mengusut tuntas kasus ini sejelas-jelasnya. Termasuk apakah acara ini memiliki muatan politik atau tidak. Harus ditelurusi siapa Forum Untukmu Indonesia (FUI) itu sebenarnya.

Tetapi, tentu saja terang benderang bahwa FUI harus bertanggung jawab terhadap kematian Rizki dan Mahesa. Sebab, meskipun meninggal karena sakit (konon demam tinggi dan dehidrasi), panitia acara telah menyelenggarakan acara yang melalaikan sisi keselamatan. Apalagi mengingat acara itu diselenggarakan tidak sesuai perizinannya yang mengatakan hanya akan melaksanakan kirab budaya belaka. Panitia kegiatan ini harus diproses hukum dan diadili sebagaimana mestinya. Pihak keluarga korban tentu juga perlu mendapatkan kompensasi atas kemalangan ini.

‘Ala kulli hal, saya bahagia karena kita menjadi masyarakat yang semakin kritis melihat sebuah persoalan. Juga semakin sadar untuk memahami dari perspektif yang lebih luas, cara memahami yang lebih jauh, sebuah persoalan tidak bisa disimpulkan hanya dari apa yang terlihat saja. Tetapi, jangan sampai situasinya jadi hanya saling serang belaka: Jika ada kesalahan dari kubu yang kita bela, maka harus kita cari dan temukan juga kesalahan dari pihak lain. Jika kita bagus, maka orang lain harus buruk? Jika kita buruk, maka orang lain harus lebih buruk? Semoga kita tidak berpolitik dengan mentalitas pecundang semacam itu.

Mari berpolitik secara lebih cerdas dan dewasa. #2019GantiPresiden adalah kemungkinan yang masih harus diperjuangkan. Juga #2019TetapJokowi adalah medan perjuangan berat yang akan menguji soliditas para pendukungnya. Keduanya, bertarunglah secara sehat. Masukilah ruang publik dengan diskusi dan debat-debat yang menghindari caci-maki, jauh dari mental mendehumanisasi pihak lain.

Tabik!

Ciputat, 2 Mei 2018 

FAHD PAHDEPIE

#Millennial #Voters

 

 

Karya : Fahd Pahdepie