Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Politik 1 Mei 2018   10:08 WIB
Jangan Sombong Seperti Kecebong, Kutukupret Seperti Kampret!

Kemarin, saya menulis sebuah artikel pendek yang menyesalkan tindakan intimidatif oknum sebuah kelompok pada anggota dari kelompok lain. Seorang ibu yang berjalan bersama anaknya di acara CFD, mengenakan kaus mendukung presiden dengan tagar #DiaSibukKerja, diperlakukan secara kurang manusiawi oleh sejumlah orang dari kubu yang sedang menyampaikan aspirasi politiknya dengan kaus bertagar #2019GantiPresiden.

Saya tak ingin menyoal dua tagar itu. Saya menghargai kedua gerakan politik itu. Yang saya sesalkan adalah peristiwa memalukan yang terjadi di dalamnya. Bukan hanya terjadi pada Susi Ferawati dan anaknya, tetapi juga pada beberapa orang lain yang kebetulan tertangkap lensa kamera. Kubu yang merasa diintimidasi dan dipresekusi buru-buru geram dan mengutuk, kubu yang dikecam buru-buru membuat penjelasan berbau teori konspirasi bahwa kejadian itu hanya ‘settingan’ belaka. Berantem tak sudah-sudah.

Sah-sah saja Anda memperdebatkan versi kebenaran mana yang paling sahih dan valid. Sah-sah saja Anda tidak terima dengan tuduhan pihak lain yang merugikan kubu Anda. Tetapi, masih adakah ruang di dalam diri kita untuk melihat persoalan secara lebih arif dan bijaksana? Bahwa ada kemungkinan kesalahan yang diperbuat oleh mereka yang berasal dari kelompok kita sendiri… Sekaligus ada ruang kebenaran di seberang sana meskipun itu datang dari pihak yang tidak kita sukai. Jangan sampai, kita menjadi sekelompok orang buta yang berdebat tentang definisi gajah padahal semua dari kita sedang memegang tubuh gajah itu—hanya saja di bagian yang berbeda-beda.

Apakah keberatan terhadap perilaku kasar dan arogan yang dilakukan oleh sebagian kecil pendukung #2019GantiPresiden sama dengan keberatan terhadap gerakan berbasis tagar itu secara keseluruhan? Tentu saja tidak. Logika kita cacat ketika berusaha menggeneralisasi sebuah himpunan besar dari kesalahan kecil yang dilakukan oleh unit kecil yang menjadi bagian dari himpunan itu. Namun, pernah dengar pepatah ‘karena nila setitik rusak susu sebelanga’? Kita juga perlu sadar dengan konsekuensi itu.

Yang paling saya benci dari debat-debat politik seperti ini adalah sikap kepala batu dan ingin menang sendiri. Sikap sombong yang tak mau menerima kebenaran orang lain. Rasa jumawa yang menyimpulkan bahwa ‘kita’ dan ‘kelompok kita’ adalah 100% benar, sementara ‘orang lain’ atau ‘kelompok lain’ adalah 100% salah. Lantas, karena sikap-sikap itu, kita merasa layak memperlakukan orang lain tidak sebagai manusia: Mendehumanisasi mereka dengan sebutan dan kata-kata yang memang diperuntukan bukan untuk manusia.

Kecebong vs Kampret?

“Ternyata kecebong juga Abang ini.” Tulis salah seorang komentator di artikel saya kemarin. Saya sama sekali tidak tersinggung dengan komentar itu—saya juga tidak merasa terhina oleh komentar-komentar lain yang mengatakan bahwa saya bodoh, dungu, bayaran, atau lainnya. Sebagai penulis, sejak lama saya sudah kenyang dengan semua itu dan tak pernah sedikitpun menyurutkan keberanian saya untuk terus menulis, mengatakan apa yang ingin saya katakan secara merdeka dan berdaulat. 

Namun, saya melihat hal lain dari gejala saling menghina dengan sebutan ‘kecebong’ ini. Dalam konteks perdebatan politik yang selalu panas sejak Pilpres 2014 lalu, diperparah oleh berbagai peristiwa politik lain setelahnya, juga oleh kultur dan natur media sosial yang memungkinkan dendam dan pertengkaran politik jangka panjang, istilah ‘kecebong’ dipakai untuk menyebut dan mengelompokkan mereka yang mendukung Presiden Jokowi. Sementara, kubu tersebut menyebut kubu penentang Presiden Jokowi dengan sebutan lain yang sama-sama merupakan nama binatang, kampret (sejenis kelelawar).

Tidakkah kita melihat gejala yang menyedihkan di sini? Bahwa perbedaan pilihan politik dan pertengkaran ini telah membuat kita menjadi individu-individu yang tega mendehumanisasi pihak lain yang berseberangan dengan kita?

Dalam sebuah buku berjudul ‘Less than Human: Why We Demean, Enslave, and Exterminate Others’ (2011), David Livingstone menjelaskan bahwa cara kita menghina pihak lain dengan sebutan-sebutan binatang adalah ekspresi alam bawah sadar kita untuk mempertahankan diri (dan kelompok) dengan menganggap bahwa pihak lain bukanlah manusia, sub-human, bahkan binatang. Konon, hal ini memang terprogram dalam otak manusia sejak zaman purba—ketika manusia masih berusaha bertahan hidup melawan binatang (ingat teori hirarki kosmiknya Plato dan Ariestoteles).

Dalam sejarah, kita diperlihatkan bagaimana peperangan dan konflik politik kerap membawa manusia terjerumus pada sikap mental semacam ini. Di zaman Mesir kuno, para Firaun menganggap semua bangsa yang ditaklukkannya memiliki kasta lebih rendah dari manusia—konon itu menjadi awal mula manusia menyebut ‘anjing’ kepada manusia lainnya yang dianggap lebih rendah. Bukankah kita juga sekarang masih begitu? Ada dalam budaya kita ‘menganjingkan’ orang lain ketika kita ingin merendahkannya.

Ketika Nazi berkuasa di Jerman, manusia juga dikelas-kelas. Bangsa Arya dianggap sebagai kasta manusia tertinggi, yang lain hanyalah sub-human, sementara kaum Yahudi dianggap dan disebut sebagai ‘tikus’ yang layak dibunuh dan dimusnahkan. Contoh lain adalah apa yang terjadi di Rwanda pada tahun 1994, ketika pecah konflik antara suku Hutu melawan Tutsi. Hutu yang lebih kuat dan berkuasa, menganggap dan menyebut Tutsi sebagai ‘kecoak’… Mereka dibantai dan dimusnahkan.

Apakah Lawan Politikmu Bukan Manusia? 

Saya melihat gejala yang menyedihkan ini di Indonesia sedang terjadi. Sebutan-sebutan yang merendahkan pihak yang berbeda pilihan politik secara menyedihkan mengarah ke sikap mendehumanisasi pihak lain. Sebutan seperti ‘kecebong’ atau ‘bong’ dan ‘kampret’ adalah sebutan bagi binatang—apalagi ditambah dengan umpatan-umpatan seperti ‘anjing’, ‘babi’ dan lainnya. Hinaan seperti ‘IQ 200 Sekolam’ atau ‘Bong 200’ atau ‘Bani Daster’ atau ‘Kaum Bumi Datar’ semuanya berasosiasi pada cara kita merendahkan pihak lain ke level yang lebih rendah dari hierarki kemanusiaan ‘kita’ dan ‘kelompok kita’.

Dalam teori konflik, hinaan-hinaan seperti ini berfungsi sebagai eskalator konflik. Konflik terus dipertajam dan ditingkatkan levelnya dengan cara membuat kubu-kubu yang saling merendahkan. Tentu saja, yang kita takutkan, jika situasi semacam ini terus dibiarkan konflik akan terus melebar dan meningkat… Duh, jangan sampai terjadi seperti apa yang terjadi di Rwanda atau di Rohingya. Asal Anda tahu, suku Rohingya disebut ‘kera hitam’ oleh orang Myanmar, lama-lama menjadi sikap mental merasa sah menindas dan membunuh kaum Rohingya karena mereka hanya ‘kera hitam’ belaka. 

Berhenti, Dong!

Berhenti, dong! Sampai kapan kita mau begini? Sampai kapan kita mau jadi bangsa yang tidak dewasa dan saling merendahkan antar kelompok? Saya melihat dua-duanya sama saja. Sama-sama saling ingin merendahkan pihak lain. Kalau mengikuti pola pengkubuan yang sekarang terjadi, saya melihat yang ‘kecebong’ adalah kelompok yang luar biasa sombong—merasa mereka paling benar, paling pintar, paling toleran. Yang ‘kampret’ juga kutukupret, merasa mereka paling religius, paling suci, paling baik. 

Bisakah kita keluar dan meloloskan diri dari pengkubuan itu? Bolehkan saya menolak untuk tidak rela dikategorikan kepada salah satu dari keduanya? Jika ada dua sisi mata koin, saya ingin menjadi koin yang tertahan di udara ketika koin itu dilemparkan. Saya ingin menjadi individu yang berada di ruang antara dan berdaulat dengan diri saya sendiri, tak memihak benar-salah karena takut dijauhi kerumunan manapun saja.

Sikap saya sejak dulu selalu sama. Jika ada yang baik dari Presiden, saya apresiasi secara terbuka. Bukan berarti otomatis saya menjadi pendukungnya yang fanatik dan buta. Sebab jika ada kesalahannya, saya kritik juga secara keras dan terbuka. Jika ada yang saya apresiasi dari kelompok penentang presiden, saya puji dan apresiasi. Pun jika ada yang tidak saya sukai, akan saya katakan apa adanya. Saya berdaulat atas pikiran saya sendiri.

Kita ini manusia, bukan kecebong atau kampret. Kita ini manusia, yang mulia dengan segala nilai kemanusiaannya—tidak sombong seperti para kecebong, tidak kutukupret seperti para kampret!

Selamat berlibur. Selamat hari buruh!

 

Jakarta, 1 Mei 2018

 FAHD PAHDEPIE

#Millennial #Voters

Karya : Fahd Pahdepie