Array
(
    [data] => Array
        (
            [post_id] => 47649
            [type_id] => 1
            [user_id] => 98
            [status_id] => 1
            [category_id] => 11
            [project_id] => 0
            [title] => Orang-orang di Kerumunan
            [content] => 

Ada sebuah lagu yang begitu saya sukai dari satu band indie asal Jogja bernama FSTVLST. Lagu itu berjudul ‘Orang-orang di Kerumunan’, persis seperti yang saya pakai untuk memberi judul bagi artikel ini. Ketika pertama kali mendengarkan lagu itu, saya langsung merasa ‘terhubung’ dengan liriknya—yang secara tepat menjelaskan konteks masyarakat kita belakangan ini. Masyarakat yang banal, egois, dan hanya berani semata saat mereka berkerumun saja.

Sejak kemarin, sebuah video berseliweran di linimasa media sosial saya: Seorang ibu, Susi Ferawati namanya, bersama anaknya yang dirundung sekelompok orang yang sedang mewacanakan tagar ganti presiden. Saya tak ingin mengomentari tagar itu, tak ingin mengukur seberapa benar atau salah, seberapa baik atau buruk… Saya tak ingin masuk ke dalam ruang aspirasi dan hak mereka dalam berdemokrasi. Namun, saya ingin membahas perilaku mereka yang secara telak mencerminkan mental ‘orang-orang di kerumunan’ yang terlanjur kehilangan sensor kemanusiaannya.

Berkali-kali saya lihat video itu. Berkali-kali saya mencoba memahami konteks di belakang setiap kejadian. Saya baca banyak berita di sekelilingnya. Saya tanya ke beberapa orang yang ada di lokasi ketika peristiwa itu terjadi… Dan saya sampai pada kesimpulan bahwa apapun alasannya, tindakan merundung seroang ibu hanya karena berbeda aspirasi politik adalah sesuatu yang memalukan belaka.

Padahal, sempat sebelum kejadian ini saya katakana kepada seorang teman bahwa gerakan politik melalui tagar dan kaus ganti presiden adalah preseden yang sangat baik bagi demokrasi kita yang makin matang dan dewasa… Kini, lewat kejadian ini, sayangnya kesan saya itu dirusak oleh sekelompok oknum yang gagal memahami apa itu ‘aspirasi’. Entah mengapa, gara-gara ini #2019GantiPresiden jadi terasa terlalu jumawa.

Bagi saya, dua bait pertama lagu FSTVLST menggambarkan situasi ini dengan begitu tepat. Sinis sekaligus puitis.

orang-orang di kerumunan berjejalan di lingkaran
mengitari satu altar sesembahan
mereka menari dengan mata terpejam kerasukan
jiwanya sudah tak lagi bersemayam
lalu meracau

tak setuju maka beda kubu
tak sepaham lantas baku hantam
yang seiman saling menerakakan

Entah penyakit apa yang sedang menjangkiti masyarakat kita akhir-akhir ini. Kubu-kubu seolah menjadi candu yang merusak banyak jenis hubungan… Mulai dari keluarga, pertemanan, hingga lainnya. Kebenaran seolah hanya boleh dimonopoli oleh pihak yang sepaham, sekubu, sekelompok, dan haram bagi kelompok atau kubu yang lain.

Setiap hari, di media sosial, di ruang diskusi, di forum-forum seminar, di mimbar-mimbar, di manapun seolah selalu ada yang membisiki bahwa “Jika aku benar, maka orang lain harus salah”, “Jika idolaku hebat, maka idola orang lain adalah pecundang”, “Jika aku memilih menyukai A, maka orang lain adalah para dungu sebab tak sama dengan apa yang aku suka”. Kita tak bosan-bosan berdebat, saling menyinyiri, bahkan mencaci-maki. Gru-grup WA terpecah, keluarga menjadi dingin, pertemanan dikanalisasi oleh paham-paham tertentu saja. Jangan-jangan benar, kata FSTVLST…

merekalah kerumunan yang lupa, kerumunan yang lupa
bahwasanya aku, kau, mereka sama
hanya manusia, sama manusianya

yang seharusnya
saling peluk selayak saudara
saling jaga seperti keluarga
berbagi cinta berbagi bahagia

menjauhi kerumunan yang lupa
kerumunan yang lupa
bahwasannya aku, kau, mereka sama

Ya, bukankah kita sebenarnya sama? Sama-sama ingin yang terbaik untuk negeri ini, hanya berbeda jalur aspirasi dan pilihan politiknya. Bukankah kita sama? Sama-sama ingin melihat saudara sebangsa dan setanah air berbahagia, terbela hak-haknya, terpenuhi kebutuhannya… Hanya berbeda figur yang diidolakan, berbeda versi jagoan mana yang menurut kita bisa menyelesaikan persoalan. Tetapi, mengapa lantas kita doyan bertengkar? Suka merendahkan? Hobi mengumpat, mencaci maki, menuduh orang lain dungu, melabeli teman dan saudara sendiri dengan sebutan-sebutan yang menyakitkan hati…

Mau sampai kapan kita berpolitik dengan cara seperti ini? Mau sampai kapan kita jadi orang-orang yang ingin berkompetisi tetapi tak siap kalah—sekaligus juga tak layak menang? Mau sampai kapan kita jadi orang-orang yang gagal memahami esensi dari demokrasi?

turut berbela sungkawa
atas sekaratnya jiwa
para berkerumun tertawa-tawa
di sempitnya ruang bahagia
yang seharusnya luas tak terbatas

dan turut berduka cita
atas tak berartinya bunga
berganti umpat, benci, caci maki, bunuh dan lukai
benci dan lukai

Rasanya kita harus segera mengakhiri situasi semacam ini. Berhentilah menghina pilihan orang lain. Berhentilah merasa jumawa dengan apa yang kita bela. Apalagi sampai merisak dan merundung orang lain yang tak berdaya. Mengotori sebuah gerakan yang mulia… Memberi peluang bagi para pengadu domba untuk membuat perpecahan ini lebih jauh lagi, pertengkaran ini lebih panas lagi.

Barangkali, mulai hari ini, kita perlu mengurangi frekuensi untuk berkerumun. Barangkali di sana kita terlihat lebih hebat, terasa lebih berani, seolah lebih benar. Namun, mungkin benar kata Kierkegaard: Kebenaran, kejernihan, kearifan, sebenarnya tak pernah muncul dari kerumunan-kerumunan.

Berpolitiklah dengan pengetahuan dan kesadaran, bukan sebagai pecundang kerumunan. Apapun pilihan politikmu, aku menghargainya. Namun, mari hargai juga pilihan politik orang lain. Tak perlu umpat benci, tak perlu cari maki.


Ciputat, 30 April 2018

FAHD PAHDEPIE

 

PS: Yang mau dengarkan lagu FSTVLST, Orang-orang di Kerumunan, silakan simak di bawah ini:

[slug] => orang-orang-di-kerumunan [url] => [is_commented] => 1 [tags] => None [thumb] => file_1525074566.jpg [trending_topic] => 0 [trending_comment] => 0 [total_viewer] => 18596 [issued] => 0 [author] => Fahd Pahdepie [username] => fahdpahdepie [avatar] => file_1470022403.png [status_name] => published [category_name] => Politik [type_name] => article [kode_multiple] => [total_comment] => 0 [total_likes] => 0 [created_at] => 2018-04-30T14:49:26+07:00 [updated_at] => 2018-10-03T23:12:29+07:00 [deleted_at] => ) [process_time] => 32.481216ms [status] => 200 )