Apakah Fiksi adalah Realitas yang Membelum?

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Filsafat
dipublikasikan 12 April 2018
Apakah Fiksi adalah Realitas yang Membelum?

“Kitab suci pasti bukan fiksi! Tapi, bagaimana kalau Profesor itu benar?” Pikiran itu terus mengganggu saya seharian ini. 

Setelah jamaah shalat Isya ini bubar, saya memang berencana mendatangi Kiai Husain untuk bertanya. Sambil masih duduk, saya berangsur perlahan mendekati posisi duduk Kiai Husain di tempat imam. Dari belakang, ia tampak sedang khusuk berzikir. Namun, setelah semakin dekat, saya baru tahu ternyata beliau berzikir sambil setengah mengantuk.

Karena tak berani menyapanya, takut mengganggu, saya memutuskan untuk mendehem ketika posisi duduk saya sudah cukup dekat dengan Kiai Husain. “Ehem,” dehem saya pelan saja, rupanya cukup membuat posisi duduk Kiai Husain berubah.

Kini beliau duduk dengan punggung lebih ditegakkan, tak lama ia mengangkat kedua tangan, membaca beberapa bait doa, lalu mengusap wajah tanda selesai. “Kamu mengagetkanku saja,” ujar Kiai Husain kemudian, menoleh ke arah saya. 

Saya terkejut mendengar kalimat Kiai Husain, lalu buru-buru bergerak ke dekat beliau sambil meraih tangannya. “Mohon maaf, Kiai. Mohon maaf saya mengganggu zikir, Kiai,” rajuk saya sambil berusaha mencium tangan beliau.

Namun, seperti biasa, Kiai Husain menolak tangannya untuk dicium, ia buru-buru menarik tangannya dan bertanya, “Jadi, ada apa? Sampai mendehem-dehem segala?” Senyum khas Kiai Husain melengkung di wajahnya.  

***

“Anu… Kiai. Ada yang ingin saya konsultasikan.” Ujar saya.

Kiai Husain mengubah posisi duduknya lebih menghadap ke arah saya, “Soal apa itu?” Kejarnya. 

“Eu… Anu, Kiai. Ini… Eh…” Saya terbata-bata, bingung harus memulainya dari mana, “Emm… Apakah benar kitab suci itu fiksi, Kiai?”

Ketika mendengar pertanyaan itu, wajah Kiai Husain tampak kaget. Tetapi entah mengapa ia kemudian justru terkekeh. Cukup lama Kiai Husain tertawa sampai membuat saya bingung—

“Maaf kalau pertanyaan saya salah, Kiai.” Saya menggaruk kepala yang tidak gatal.

Kiai Husain menggeleng-gelengkan kepalanya, tawanya mulai reda, “Pertanyaanmu lucu!” Ujar Kiai Husain, “Pertanyaanmu lucu… Apa yang membuatmu kesurupan sehingga menanyakan hal semacam ini, Nak?” Sambungnya. 

“Eh… Begini, Kiai. Sekarang sedang ramai di mana-mana orang berdebat soal fiksi, apa definisinya, apa bedanya ia dengan realitas, dan seterusnya. Pangkal mulanya, ada seorang Profesor yang mengatakan bahwa kitab suci itu fiksi, Kiai! Waktu dengar itu, batin saya berontak, nggak bener nih Profesor! Tapi, setelah mendengarkan penjelasan Profesor itu, saya jadi ragu pada bantahan saya sendiri—penjelasannya terdengar meyakinkan, Kiai. Bikin saya jadi galau… Apa benar kitab suci itu fiksi, Kiai?” Saya berusaha menjelaskan duduk perkaranya pada Kiai Husain.

Sambil mengelus-elus janggutnya, dengan sisa-sisa tawanya Kiai Husain mengomentari, “Nak, itu Profesor faktual atau fiksional? Apakah gelar profesornya bukan fiksi?” Kiai Husain terkekeh lagi.

Saya garuk-garuk kepala, lagi, “Nggak tahu, Kiai.”

“Nak, apapun definisinya tentang fiksi, masalah terbesar orang itu adalah pada caranya berpikir tentang posisi pengarang. Kalau kita mengatakan bahwa sebuah buku, novel misalnya, adalah fiksi… Tentu ada pengarang di sana yang berposisi mereka-reka imajinasi tertentu tentang fiksi yang dibuatnya. Tapi, kalau kita bicara kitab suci, apakah kita berpikir ada pengarang yang merancang-rancang cerita dan mendorong pembacanya untuk berimajinasi—berangan-angan? Di situ masalahnya!”

Kiai Husain melanjutkan, “Bagi kita, Tuhan itu bukan pengarang. Ia mengetahui dan menguasai segala sesuatu. Jadi, bagi kita yang mengimaninya, pasti tidak ada yang fiksi di hadapan Tuhan. Jika ‘kun’, maka ‘fayakun’ bagi Tuhan. Sebab segala sesuatu, segala ilmu, segala pengetahun, apapun saja ada dalam lingkup kekuasaannya, toh? Paham sampai di sini?” Ujar Kiai Husain.

Saya mengangguk-angguk. “Tapi, kata Sang Profesor, fiksi itu bukan berarti buruk, Kiai. Beda dengan fiktif. Fiksi adalah realitas yang membelum. Bahkan ia bisa dijadikan sebagai destinasi bagi mereka yang meyakininya. Ketika belum sampai, surga itu fiksi, kan, Kiai? Ia adalah realitas yang membelum. Orang beriman bisa sampai ke sana dan kelak itu jadi kenyataan. Begitu, kan, Kiai?”

Kiai Husain menggeleng-gelengkan kepalanya, “Nak, kalau begitu, pikiran bahwa fiksi adalah realitas yang membelum, juga adalah fiksi lainnya. Bahkan fiksi yang lebih fiksi lagi, karena itu adalah reaksi fiksional terhadap sebuah fiksi?” Kiai Husain terkekeh, “Di sini saja, pikiran itu sudah kacau! Kacau sekacau-kacaunya karena pangkalnya memang kacau. Memposisikan bahwa kitab suci itu dikarang, ada pengarangnya… Padahal tidak. Kitab suci itu tidak dikarang, ia berisi kabar dari realitas yang lebih tinggi.”

“Berarti bukan realitas yang membelum?”

Kiai Husain menggelengkan kepala, “Bukan. Kalau realitas yang membelum, berarti apa-apa yang tertulis di kitab suci, misalnya di kitab suci kita tentang surga dan neraka, itu belum ada? Artinya nanti baru akan ada? Bukan begitu, kan? Pasti bukan begitu. Dari sudut pandang keyakinan kita, ia sudah ada. Tetapi berada di realitas yang lebih tinggi daripada realitas yang sedang kita jalani hari ini.”

“Jadi… Realitas yang belum sampai?” Kejar saya.

Kiai Husain terdiam sejenak, “Bisa jadi. Pernyataan itu baru agak benar.” Timpal Kiai Husain, “Kita bisa jadi belum sampai pada realitas yang dikabarkan oleh kitab suci. Minimal, pemahaman kita yang dibentuk oleh realitas yang kita hidup-hidupi dan hidup-hidupkan saat ini, tidak sampai pada pemahaman tentang realitas yang lebih tinggi tadi.”

Mendengar jawaban-jawaban Kiai Husain, saya banyak terdiam, “Setelah dijelaskan, saya baru mengerti, Kiai. Memang masalahnya ada pada posisi pengarang, ya, Kiai? Ketika ada yang menyebut ‘Kitab suci itu fiksi’ atau paling tidak mengandung sebagian fiksi di dalamnya, pikiran itu secara otomatik terkacaukan oleh pikiran lain tentang bahwa ada pengarang yang berperan merancang fiksi tadi. Wah, saya merinding, Kiai. Bahaya sekali kalau kita berpikir kitab suci itu dikarang! Ini penistaan, Kiai!" 

***

Kali ini wajah Kiai Husain merengut. Romannya tampak marah. “Apakah menurutmu Tuhan bisa dinistakan? Apakah kitab suci Tuhan bisa dinistakan?” Suara Kiai Husan berubah tegas.

Saya menunduk. Tak berani menjawab. 

“Jika kau berpikir bahwa Tuhan bisa dinistakan, kau menempatkan dirimu—manusia di posisi yang setara bahkan lebih tinggi dari Tuhan karena sanggup menistakannya. Jika kau berpikir bahwa kau atau seseorang bisa menistakan kitab suci, berarti kau berpikir ada orang dengan pikiran di atas kitab suci sehingga kitab suci ternistakan... Aku tak setuju dengan itu. Bagiku, kitab suci tak bisa dinistakan, apalagi Tuhan!”

“Eh… Maksud saya, ada yang merendahkan kitab suci, Kiai. Menghinanya…” Saya berusaha mengklarifikasi. Namun entah mengapa suara saya bergetar.

“Kalau ada orang-orang yang berusaha merendahkan kitab suci, mereka adalah orang-orang yang bodoh karena berusaha menghinakan sesuatu yang mulia—yang tak akan berkurang sedikitpun kemuliaannya sebanyak apapun mereka berusaha merusaknya. Kalau ada yang berusaha merendahkan Tuhan, mereka pasti orang-orang yang dungu sebab Tuhan tak akan berkurang sedikitpun keagungannya oleh apa yang mereka perbuat—sebab bahkan mereka yang menghinaNya pun ada dalam kemahabesaran lingkup kuasa Tuhan!” 

“Baik, Kiai. Saya paham.” Saya menundukkan kepala sedalam-dalamnya. 

“Jika di sekelilingmu banyak orang bodoh, jangan ikut-ikutan bodoh karena kau tak mau diusir dari kerumunan. Jika ada orang dungu yang tampak pandai menjelaskan-jelaskan sesuatu, jangan jadi orang yang lebih dungu dengan berpikir bahwa kedunguan orang itu adalah kebenaran. Itu yang harus kau pelajari!” Suara Kiai Husain meninggi. 

***

Tak lama, Kiai Husain terbatuk. Surau tiba-tiba terasa bergetar. Lantainya bergerak. Temboknya bergeser-geser. Batuk Kiai Husain semakin keras. Dudukku tergoncang-goncang. Perlahan, aku melihat Kiai Husain menghilang dari pandangan. Ia terus terbatuk… Lalu hilang tak berbekas.

Kini, di hadapanku, tinggal sajadah kosong. Waktu sudah menunjukkan pukul 21.30. Suara detak jam terasa lebih nyaring. Detik-detik seolah lambat. Pikiran saya terantuk satu pertanyaan, “Apakah semua ini fiksi atau realitas?”

  

Pamulang, 12 April 2018

FAHD PAHDEPIE 

  • view 759