Tentang Kesetiaan

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Inspiratif
dipublikasikan 14 Februari 2016
Kata, Rasa, Tanya

Kata, Rasa, Tanya


Sekumpulan tulisan lepas Fahd Pahdepie di berbagai media online.

Kategori Spiritual

150 K Hak Cipta Terlindungi
Tentang Kesetiaan

Mungkin ini saatnya kita bicara serius tentang kesetiaan.?

Kita sering bicara tentang cinta, sayang, rindu, atau rasa takut kehilangan; tetapi begitu jarang membahas soal kesetiaan. Apakah ?setia? memang telah menjadi kosakata yang asing dalam cerita cinta antarmanusia? Ataukah ia tidak menarik lagi karena berkesan ?penakut? yang tak memiliki petualangan atau tantangan-tantangan? Betapa banyak orang yang berani mencintai tetapi gagal untuk setia.

?Buatmu, apa itu kesetiaan?? Tanya istri saya, Rizqa, suatu hari, ?Apakah kamu akan tetap setia dalam mencintaiku?? Sambungnya. Dua pertanyaan itu bukan hanya membutuhkan jawaban yang pasti, tetapi sekaligus mensyaratkan level keberanian tersendiri untuk mengungkapkannya.

Apa itu kesetiaan? Kesetiaan adalah keberanian untuk mempertanggungjawabkan perasaan-perasaan yang kita miliki.

Saat kita mencintai seseorang, tentu saja perasaan itu disertai juga dengan perasaan lainnya yang menjadi pelengkap rasa sayang kita kepadanya. Mungkin kita mencintai pasangan kita karena perangainya yang lembut, tetapi kita tidak menyukai caranya membuat keputusan yang selalu disertai keraguan-keraguan. Mungkin kita mencintai seseorang karena parasnya, gesturnya, suaranya, atau apapun yang ada pada dirinya? tetapi akan selalu ada sesuatu yang kita andaikan ada pada dirinya?yang pada kenyataannya tak ia miliki dalam dirinya. Maka mencintai dengan setia adalah mencintai dengan penuh rasa tanggung jawab. Kita tahu ?tanggung jawab? adalah terpenuhinya hak dan kewajiban, bukan? Jika kita merasa berhak menerima cinta dan kasih sayang seseorang, kita wajib menerima seseorang itu apa adanya.?

Setia adalah melindungi.

Lazimnya seseorang yang bisa melindungi orang lain, dirinya harus terlebih dahulu selamat dari marabahaya. Melindungi tak sama dengan ?menyelamatkan?. Mungkin kita bisa tidak selamat ketika kita berusaha menyelamatkan orang lain. Tapi kita tak bisa melindungi orang lain jika kita sendiri tak terlindung, bukan? Setia adalah situasi semacam itu? Saat kita tahu bahwa rasa cinta dan sayang kita telah terlindung, sehingga kita bisa melindungi perasaan orang yang kita cintai atau sayangi. Dalam relasi semacam ini terdapat hukum sebab akibat. Semua akibat yang kita terima ditentukan oleh sebab-sebab yang kita ciptakan. Jika kita tidak ingin disakiti, maka kita tak boleh menyakiti.?

Setia itu takut.

Ketakutan adalah situasi di mana kita tak bisa mengukur kekuatan kita sendiri karena kita tak memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang situasi yang sedang dihadapi. Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi besok, seberapa besar ujian yang akan datang, seberapa berat cobaan yang akan menimpa, dan seterusnya? Di sini, rasa takut diperlukan agar kita mawas diri. Kekhawatiran dibutuhkan agar kita selalu rendah hati dan tidak jumawa merasa bisa menghadapi semuanya sendirian. Kita selalu butuh teman sejati, seseorang yang akan mendampingi kita dalam kondisi apapun dan bukan seseorang yang hanya akan membersamai kita saat bahagia saja? Setia adalah rasa takut kehilangan teman semacam itu.

Setia itu tidak mendua.

Tidak menduakan cinta. Tidak menduakan rasa. Tidak menduakan hati. Tidak memberi kesempatan untuk menciptakan kemungkinan-kemungkinan yang bisa membuat satu hati tersakiti.

Setia itu bersyukur. ?

Sabar itu ada batasnya, tetapi syukur tak pernah memiliki batas. Syukur itu meluaskan. Cara berpikir kita akan sempit ketika kita gagal bersyukur. Mungkin seseorang yang selama ini kita cintai memiliki banyak kekurangan. Jika kita tidak bersyukur, tentu kita akan mulai mencari yang tak dimiliki pasangan kita pada diri orang lain. Tetapi jika kita bersyukur, betapa kita akan tahu bahwa seberapa banyak pun kekurangan yang dimiliki pasangan kita, sebenarnya tak bisa kita bandingkan dengan begitu banyak kelebihan-kelebihan yang telah ia berikan dalam hidup kita selama ini. Syukur semacam itu mungkin tak akan mengubah masa lalu, tetapi pasti melapangkan masa depan.

Tapi, di atas semua itu, setia itu sulit?

Maka hanya mereka yang bersungguh-sungguh mencintai saja yang bisa setia. Ya, setia itu sulit. Sebab jika ia mudah, tak akan ada orang yang memiliki cinta yang luar biasa.

?Jadi, apakah kamu akan setia?? Tanya Rizqa lagi.

?Pembuktian selalu lebih sulit dari kata-kata, bukan?? Saya balik bertanya.

?Untuk sekarang, aku hanya butuh kata-kata. Setidaknya itu akan menengkan.? Ujar istri saya.?

Saya tersenyum. Sambil menganggukkan kepala. ?Ya,? jawab saya pendek.

Rizqa tersenyum. ?Kita akan membuktikannya bersama-sama,? katanya.

?

Pamulang, 14 Februari 2016?

FAHD PAHDEPIE

?

*Gambar diambil dari sini.