Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Inspiratif 9 Maret 2018   22:35 WIB
Jalan Tuhan dan Google Map yang Sering Kita Abaikan

“Seringnya kita mengabaikan jalan yang sebenernya udah dikasih tahu sama Tuhan bahwa itu jalan yang bener,” ujar Reggie, “Kayak kalau kita pakai Google Map, tapi kita ngeyel pake jalan pilihan kita sendiri!” Sambungnya.

Sore itu obrolan kami bertiga, saya, Reggie Rustandi dan Dimas Oky Nugroho, sama sekali tak direncanakan. Semula kami hanya janji temu untuk ngobrol soal lain di depan meja kopi. Namun, sambil menunggu kemacetan Jakarta mereda, obrolan kami justru meluap-luap, mendaki ke kaki langit.

“Gua pernah nih di Jawa Tengah, nyetir enak banget, jalanan lengang banget... Eh, Google Map nyuruh gua ke kanan! Gua pikir, ngapain harus belok kanan—orang jalannya masih enak, kok? Akhirnya gua jalan terus,” Saya bisa merasakan energi yang ditularkan Reggie melalui obrolan ini.

“Tahu nggak gimana akhirnya? Itu gua berakhir di jalan buntu! Lalu terpaksa deh belok, tapi jalannya udah parah banget. Dan perjalanan yang harusnya gua tempuh 10 jam, berakhir 18 jam! Gitu tuh kalau sok tahu... Udah tahu Google Map pakai pencitraan satelit, tapi kita sering sok tahu...” Sambungnya.

Saya hanya bisa mengangguk-angguk sambil sesekali menyesap cappuccino di cangkir saya. Bang Dimas menimpali cerita Reggie—

“Apalagi kalau kita sok tahu sama jalan yang udah ditunjukkin Tuhan, ya?”

Buru-buru meletakkan gelas yang baru diminumnya, Reggie menggeleng-gelengkan kepala, “Ah, jangan coba-coba, ancur deh udah!” Ujarnya.

“Ya, gue pernah!” Sergah Bang Dimas. “Kapok udah.”

“Wah, gue juga, Bang! Jangan sekali-kali deh sombong dan sok tahu sama jalan yang udah ditunjukkin Tuhan... Bukan cuma ketemu jalan buntu, ancurlah udah.” Timpal saya. Nyengir.

Tanpa diduga, obrolan kami pun mengalir lebih jauh, menukik ke inti diri masing-masing. Bergiliran, kami menceritakan kegagalan dan kemalangan masing-masing saat sombong dan sok tahu. Dari cerita-cerita itu, saya melihat ke dalam diri sendiri, betapa tak jarang saya ‘melampaui’ Tuhan, durhaka kepada-Nya, keluar dari jalan-jalan yang sudah ditetapkan-Nya.

Dari obrolan saat itu, saya jadi ingat James Redfield, bukunya dulu sekali saya baca ketika SMP, judulnya ‘The Celestine Prophecy’, di buku itu diceritakan sembilan prinsip dari ajaran yang disebut sebagai Ramalan Celestine. Prinsip kedua dalam ramalan itu berbicara ihwal energi, bahwa hidup ini adalah soal kumparan-kumparan energi dan bagaimana kita mempertukarkannya satu sama lain. Dan hari ini, dalam obrolan yang tak direncanakan itu, saya merasa banyak mendapatkan tambahan energi positif dari kumparan energi yang kami hasilkan. Nyaman sekali saya berada di lingkaran kecil diskusi itu.

Atau mungkin begitu naturnya: Obrolan yang menceritakan kekalahan-kekalahan adalah obrolan yang menyenangkan. Sementara, yang menceritakan kemenangan—apalagi disertai kesombongan-kesombonhan—lebih sering terasa membosankan.

“Kita sebenernya butuh obrolan semacam ini lebih banyak di ruang publik,” Sahut Bang Dimas, “Ini berharga banget!”

“Iya, obrolan kayak gini yang saling mengayakan satu sama lain, Bang. Melebarkan perspektif masing-masing.” Balas saya.

“Obrolan kita kok jadi dalem banget, ya?” Komentar Reggie—sambil tertawa.

Kami pun tertawa.

Saya merasa kumparan energi yang terbentuk di antara kami bertiga sore itu kian lama kian hangat saja. Saya yang semula merasa kurang enak badan, jadi lebih baikan. Perasaan saya pun jadi lebih lapang. Tak jarang, di sela-sela obrolan itu saya tersenyum-senyum bahagia. Sesekali merasa terharu, mengingat betapa banyak nikmat Tuhan selama ini yang sudah saya abaikan—sekaligus menyesali betapa sedikitnya rasa syukur saya selama ini.

Suatu hari saya berpikir bahwa ‘dunia anak muda’ semestinya diisi oleh lebih banyak kedalaman-kedalaman: Cara berpikir, cara merasa, cara melihat dunia. Dunia anak muda harus ditambah nuansa ‘spiritualitas’. Tentu saja spiritualitas bukan soal ritual-ritual keagamaan belaka, tak mesti di tempat-tempat ibadah, toh hikmah bisa kita dapatkan di mana saja—termasuk di kedai kopi. Barangkali, kita perlu memulai sebuah ‘revolusi kedai kopi’? Di mana tradisi nongkrong dan obrolan warung kopi bisa diperkaya diskusi-diskusi yang lebih dalam dan mengayakan perspektif, termasuk soal spiritualitas. Bagaimana?

Kembali ke soal Google Map, sore itu kita tutup diskusi dengan sebuah kesadaran: Pake Google Map itu harus dibarengi rasa percaya bahwa ia tak akan membawa kita ke tempat yang salah—apalagi sampai membuat kita tersesat (meski kadang bisa salah juga sih kalau Google Map. Hehehe).

“Menjalani hidup ini juga harus pake iman,” kata Reggie, yang rasanya energinya paling besar sore itu, “Yakin aja bahwa Tuhan nggak akan bikin kita susah. Bahwa akan selalu ada hikmah di balik setiap peristiwa. Bahwa kalau kita ngerasa kita jauh dari Tuhan—tinggal tanya aja siapa yang selama ini menjauh?”

Tak lama, kamipun berpisah, dengan perasaan lapang yang sulit dijelaskan. Dengan salam perpisahan yang menyiratkan kerinduan. Dan Ddskusi kopi kami terasa bagai sebuah kidung sufi...

Mungkinkah revolusi dimulai dari sini?

***

Ditulis di Tol Jakarta-Tangerang, ditemani Google Map.

FAHD PAHDEPIE

Karya : Fahd Pahdepie