Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Kisah Inspiratif 22 Februari 2018   15:34 WIB
Hijrah Bang Tato: Melawan dengan Cerita

I

Segala sesuatu di dunia ini adalah cerita. Apapun yang kita lihat, kita dengar, kita persepsi dengan pikiran dan perasaan, segalanya tak ada yang bukan cerita. Dunia dan peradaban manusia dibangun di atas cerita-cerita. 

Politik adalah pertarungan kekuatan untuk memenangkan kuasa cerita. Ekonomi dirasionalisasi dan dikokohkan dengan cerita. Kitab suci agama juga berisi cerita-cerita, tafsirnya merupakan cerita lainnya yang ketika dilemparkan ke para pembacanya, para pembaca itu akan menangkapnya sesuai dengan basis cerita masing-masing yang membentuk keseluruhan dirinya. 

Cerita-cerita kecil dalam hidup ini, hal-hal yang bersifat lokal, personal dan cenderung terlihat terpisah dari arus cerita lain, pada dasarnya tetap bertawaf dalam sebuah gelombang besar cerita yang diyakini dan disepakati nilai-nilainya oleh masyarakat. Cerita-cerita kecil itu (stories) sebenarnya tak pernah terpisah dari cerita-cerita besar yang mencangkanginya (grand narratives) yang kita sebut dengan beragam nama: agama, ideologi, mazhab, atau apapun saja.

Bertahun-tahun saya berusaha melawan kayakinan itu dengan berusaha mencari antitesis dari cerita. Tetapi, pada akhirnya saya terantuk pada sebuah kenyataan pahit bahwa toh anti-cerita pun adalah sebuah cerita. Anda barangkali menolak premis yang saya ajukan ini dengan mengatakan bahwa segala sesuatu adalah ide atau gagasan, bukan cerita. Bagi saya, barangkali sebenarnya kita sedang membicarakan sesuatu yang sama… Bedanya, Anda senang menyebut ‘sesuatu’ itu sebagai ide, seperti Plato, sementara saya lebih senang menyebutnya sebagai cerita, seperti John Truby.

Truby dalam sebuah bukunya yang cukup populer, The Anatomy of Story (2008) berpendapat bahwa sesuatu bisa disebut sebagai cerita selama dia memenuhi empat unsur: Peristiwa, ruang dan waktu, aktor, dan rangkaian sebab akibat.

Seperti sebuah pertunjukan teater di atas panggung, hidup kita ini terdiri dari rangkaian peristiwa-peristiwa. Peristiwa adalah basis utama dalam kehidupan manusia. Tanpa peristiwa, atau dalam bahasa agama ‘kejadian’, hidup kita beku dan tak bergerak.

Namun, peristiwa tak bisa ‘menjadi’ tanpa diletakkan dalam sebuah konteks. Itulah sebabnya ruang dan waktu menjadi tema sentral dalam sejarah peradaban manusia. Kesadaran terhadap ruang terus diuji dengan berbagai eksplorasi hingga batas-batas terjauhnya, sementara kesadaran terhadap waktu terus ditantang dalam ilmu pengetahuan dan sains seiring hasrat manusia yang ingin mengendalikannya.

Dalam rangkaian peristiwa inilah, dalam konteks ruang dan waktu yang tak bisa lepas dari semua itulah, manusia hidup menjadi aktor yang menggerakkan peristiwa. Manusia dengan akal budinya memberi warna dan nuansa terhadap semua rangkaian peristiwa tadi… Tanpa aktor ini, proses penciptaan alam semesta hanya menjadi milik Tuhan yang murni dan bebas dari makna. Namun, ketika ada manusia di dalamnya, proses penciptaan itu, seluruh kejadian alam, menjadi sesuatu yang tak habis-habis makna dan pemaknaannya.

Terakhir, cerita dibangun dengan rangkaian sebab akibat tertentu. Ketika manusia (aktor) terlibat dalam sebuah rangkaian peristiwa, dengan kecerdasan dan akal budinya, manusia akan bisa melihat komplekstitas rangkaian sebab akibat di sekeliling peristiwa itu yang membuat segalanya berjalan dan bekerja dengan hukum alam tertentu, logika tertentu, dan seterusnya… Pada saatnya, rangkaian sebab akibat inilah yang akan membentuk sejarah, antropologi, sosiologi, agama, politik, ekonomi, dan lain sebagainya.

 

II

Dengan kesadaran semacam itulah maka saya menjadi seorang penulis. Bagi saya, penulis bukanlah mereka yang bekerja menyusun kata-kata, lalu mengetik atau menyalinnya menjadi manuskrip, buku atau apa saja. Lebih dari itu, penulis adalah mereka yang merancang dan mendokumentasikan cerita-cerita yang membentuk peradaban ini. Lebih jauh lagi, para penulis adalah para pencerita (the storytellers).

Saat saya menulis, saya adalah individu aktif yang menjadi bagian mereka yang mendesain peradaban cerita. Individu-individu inilah yang pada saatnya akan mempengaruhi dan ‘mengendalikan’ dunia dengan cerita-cerita mereka. Sebab, tentu saja, jika Anda ingin menjadi seseorang yang berpengaruh atau bisa mempengaruhi dunia ini, Anda harus paham betul tentang cerita—termasuk bagaimana membangun, menyampaikan, menyebarkan, dan mengokohkannya. 

Saya menulis cerita-cerita sederhana, novel dan karya-karya lainnya seperti prosa dan puisi. Tema-tema yang saya pilih pun adalah tema-tema sederhana, sesuatu yang kerap dijumpai di keseharian: Tentang diri, keluarga, pertemanan, persahabatan, atau hal-hal lain di seputar interaksi antar-manusia, termasuk cinta. Saya percaya tema itulah yang paling bisa segera diterima oleh pembaca, sesuatu yang relevan dan dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari.

Saat orang bertanya apa hubungannya antara kepedulian saya terhadap isu-isu Islam kontemporer dengan karya-karya fiksi saya yang ‘sederhana’ tadi, saya biasanya tersenyum. Bagi saya, penanya semacam itu terbukti tak terlalu paham bagaimana sebuah cerita bekerja dan bagaimana dunia ini pada dasarnya dikendalikan oleh cerita-cerita sederhana.

Barangkali, bisa saja saya menulis artikel serius di jurnal-jurnal akademik atau menulis karya-karya mendalam yang panjang, namun bagi saya ruang gerak saya di dunia ‘cerita’ semacam itu hanya akan membuat gagasan saya diserap, diterima dan dimengerti sedikit orang saja. Tentu saya tak punya sedikitpun anggapan bahwa karya-karya serius semacam itu kecil dampaknya, namun saya memilih menulis cerita yang populer lebih karena saya berkebutuhan untuk bisa mengakses dan memengaruhi pembaca yang lebih luas—dengan medan gagasan yang lebih massif. Di sanalah kesempatan saya untuk menyampaikan gagasan saya kepada lebih banyak orang terbuka lebih lebar.

Saya percaya gagasan Islam yang rahmat bagi semesta (Islam rahmatan lil ‘alamin), Islam yang ramah-bukan Islam yang marah, harus disebarkan dan dimengerti oleh sebanyak mungkin orang, itulah sebabnya saya menulis cerita-cerita populer yang memiliki muatan-muatan dan gagasan-gagasan utama yang berhubungan dengan konsep itu. Saya memilih untuk menerapkannya dalam cerita-cerita populer yang saya buat, yang kemudian saya sebarkan bukan hanya melalui buku-buku yang diterbitkan, tetapi juga di medium lain yang memiliki daya sebar dan daya jangkau yang lebih hebat lagi: Media sosial.

 

III

Sebagai contoh, bulan puasa 1438 Hijriyah yang lalu, sepanjang bulan Ramadan tahun 2017 saya menuliskan kisah-kisah sederhana tentang Hijrah Bang Tato, diangkat dan diinspirasi dari kisah nyata. Bang Tato adalah seorang ‘gangster insyaf’ atau ‘preman pensiun’ yang memilih masuk ke dalam mileu baru dan menjadi seorang Muslim yang taat.

Mendapati orang semacam ini, kelompok-kelompok Islam radikal biasanya memanfaatkannya untuk ‘dikonversi’ menjadi seorang ‘laskar’ atau bahkan kelak ‘mujahid’… Mereka tahu proses konversi itu akan mudah karena orang semacam Bang Tato sedang ingin diterima dan mendapatkan rasa percaya diri baru sebagai seorang Muslim yang taat tadi.

Saya teringat sebuah sesi kuliah di Monash University, saat saya mengambil Master of International Relations tahun 2014 lalu. Dalam sebuah seminar, Waleed Aly, memnjelaskan teori Fethali Moghaddam tentang enam tangga menuju terorisme (Staircase to Terrorism). Moghaddam percaya bahwa perjalanan seorang individu menjadi seorang ekstremis pasti melalui proses psikologis tertentu, proses psikologis yang kemudian ia petakan dalam teori enam anak tangga.

Anak tangga pertama, atau Moghaddam juga menyebutnya sabagai lantai dasar (ground floor), adalah perasaan diperlakukan secara tidak adil oleh lingkungan dan otoritas. Di lantai ini, tentu banyak sekali orang yang merasakannya. Namun, hanya mereka yang begitu tersakiti atau mendapatkan pukulan psikologis yang lebih kuat yang akan melanjutkan perjalananya ke lantai kedua.

Orang-orang di lantai kedua adalah mereka yang merasa tidak mendapatkan perlakuan yang adil dari otoritas. Pergi dari tangga pertama, pada dasarnya mereka akan mencari keadilan dengan mendatangi pemegang otoritas (negara, polisi, pemuka masyarakat, pengadilan, dan lainnya), tetapi ternyata sampai di tangga kedua banyak di antara mereka justru tidak diperlakukan secara adil. Di tangga inilah mereka mulai berpikir dan merasa harus ‘melawan’ perlakuan tidak adil tersebut.

Maka sebagian dari mereka akan pergi ke tangga ketiga. Di tangga ketiga inilah orang-orang mulai melakukan ‘serangan’. Saya masih menggunakan tanda kutip di sini karena bisa jadi serangannya belum merupakan serangan fisik—namun masih berupa serangan verbal, hate speech, dan lainnya. 

Saya melihat Bang Tato adalah jenis orang yang sudah berada di tangga ketiga. Ketika saya bertemu dan mengenalnya, saya perhatikan cara dan nada bicaranya ketika membahas ‘otoritas’. Saya perhatikan akun-akun media sosialnya dipenuhi dengan umpatan-umpatan, hate speech, dan lainnya kepada pemerintah, penguasa, atau siapapun yang ia anggap merupakan otoritas tengik yang tak adil.

Dengan status ‘hijrah’-nya, kemudian Bang Tato sampai di tangga keempat, di mana ia merasa sudah mendapatkan legitimasi moral (moral engagement) yang baru untuk apa yang ia lakukan. Bersama teman-temannya ia sudah mulai membicarakan mengenai aksi-aksi sweeping, demonstrasi jalanan, kerusuhan, bahkan tema percakapannya pun sudah mengarah pada ‘panggilan jihad’ atau ‘kewajiban jihad’. Untunglah Bang Tato tak lama berada di organisasi tertentu atau bersama mereka yang punya agenda aksi tertentu. 

Di tangga berikutnya, tangga kelima, orang-orang dengan perjalanan psikologi semacam ini akan dengan mudah mendapati dirinya sudah memiliki persepsi yang dikotomis tentang ‘kami’ melawan ‘mereka’ (us vs them). ‘Kami’ di sini dipersepsikan sebagai kelompoknya yang sedang berjuang dengan legitimasi moral tertentu (misalnya jihad) sementara ‘mereka’ adalah musuh yang harus dilawan bahkan di hancurkan. 

Saya bertemu dengan Bang Tato ketika ia sudah berada di tangga kelima ini. Saya kemudian berpikir keras untuk mencari cara apa yang harus saya lakukan agar ia tak sampai ke tangga keenam, ketika ia sudah benar-benar melakukan tindakan penyerangan, perusakan, atau ‘jihad’ dalam pengertian melenyapkan ‘mereka’ yang dianggap musuh (sidestepping inhibitions).

Saya kemudian teringat dengan konsep Noor Huda Ismail tentang memberikan kesempatan kedua (second chance) kepada para mantan napi terorisme. Di sini saya berpikir bahwa kesempatan kedua ini seharusnya juga bisa diberikan bukan hanya kepada mereka yang sudah terlanjur berada di tangga keenam di mana mereka sudah melakukan aksis teror, tetapi juga kepada mereka yang masih berada di tangga kelima. Kesempatan kedua di sini seharusnya diberikan justru untuk melakukan proses psichological healing kepada mereka yang sudah menjalani serangkaian luka batin dari tangga pertama hingga tangga kelima.

Itulah yang saya lakukan kepada Bang Tato. Dalam hemat saya, Bang Tato sudah memenuhi semua unsur sebagai seorang ‘radikal’. Dengan latar belakang dan sejarah hidupnya sebagai seorang preman bayaran yang biasa melakukan aksi kekerasan hingga tawuran yang mengancam nyawa, ia hanya butuh satu langkah lagi untuk sampai di tangga terakhir dan melakukan atau terlibat dalam aksi-aksi ekstremisme. Kasus ini mirip seperti yang dijelaskan Ihsan Ali-Fauzi dalam sebuah artikel populernya, Radikal Dahulu, Teroris Kemudian (2012) ketika ia menjelaskan kasus bom Cirebon yang melibatkan seorang pemuda radikal yang nekad melakukan bom bunuh diri saat shalat Jumat di kantor polisi.

 

IV 

Saya bersyukur bahwa selain seorang penulis saya pun memiliki passion lain sebagai seroang pengusaha. Saya menjalankan beberapa bisnis di bidang media (bidang yang yang sangat berhubungan dengan keahlian saya sebagai seroang storyteller) dengan turut mendirikan inspirasi.co, sebuah platform tempat orang menulis dan berkarya, dan juga Digitroops Indonesia, sebuah perusahaan konsultan media dan komunikasi yang membantu klien-kliennya dalam melakukan kampanye media, branding, dan marketing (segala yang berhubungan dengan storytelling). Selain itu, saya juga mendirikan barbershop, coworking space dan kafe.

Saya tak menyangka suatu hari saya akan memasukkan seorang mantan preman bertato dengan histori kekerasan dalam hidupnya, dengan pemikiran yang terkanjur radikal, untuk saya rekrut menjadi karyawan saya. Tetapi, ternyata dari sanalah perjalanan saya bersama Bang Tato di mulai. Mulanya ia saya rekrut untuk menjadi seorang barista di berbershop dan kafe saya di bilangan BSD, Tangerang Selatan, tetapi kemudian journey saya dengan Bang Tato memberikan pengalaman dan insight yang lebih kaya kepada saya tentang sebuah proses ‘hijrah’ yang marak di kalangan mantan gangster, musisi, hingga selebritis.

Tak disangka, interaksi saya dengannya selama setahun terakhir, terutama karena ia memiliki keahlian kreatif dan kebanggaan baru sebagai seroang barista, ternyata bisa mengubah sudut pandangnya tentang ‘us vs them’ yang sebelumnya sudah terlanjur sangat ia percayai. Di sini, tanpa sengaja saya melihat bahwa ‘industri kreatif’ bisa dipakai untuk mengobati luka-luka psikologis seorang radikal untuk menjadi lebih lembut, toleran, dan terbuka pikirannya.

Mengapa harus industri kreatif? Bagi saya keahlian dalam industri kreatif seperti menulis, memasak, akting, fotografi dan lainnya memerlukan waktu dan proses tersendiri untuk diasah. Proses itulah yang penting untuk dilalui agar para radikal ini bisa ‘disibukkan’ untuk mengasah keahliannya dan dialihkan pikirannya dari gagasan-gagasan radikal yang mengarah pada aksi-aksi yang berbau kekerasan. 

Karya dalam industri kreatif juga memiliki unsur kebanggan tersendiri karena memiliki ruang untuk diapresiasi. Ketika karya itu diapresiasi orang lain, maka ia akan menemukan pemaknaan baru yang membongkar ‘us vs them’ yang terlanjur bercokol di kepalanya. Di atas semua itu, saya melihat ternyata orang-orang seperti Bang Tato ini pada dasarnya memerlukan rasa bangga, apresiasi, dan rasa diterima oleh lingkungan di sekitarnya.

Kisah-kisah perjalanan saya dengan Bang Tato, lengkap dengan segala interaksi saya dengannya selama setahun lebih itu, kemudian saya tuliskan di laman pribadi saya di kanal inspirasi.co (inspirasi.co/fahdpahdepie). Tak disangka, tulisan-tulisan itu mendapatkan sambutan yang luar biasa dari kalangan pembaca. Kisah Bang Tato dibaca ratusan ribu kali dan dibagikan ribuan orang. Membaca komentar-komentarnya, ternyata banyak orang seperti Bang Tato ini yang merasa terisnpirasi… Bahkan pada saatnya pola saya dalam menemani proses ‘hijrah’ Bang Tato ini juga dicontoh orang-orang lain di jaringan pertemanan saya di media sosial.

Bulan Juli 2017, tulisan-tulisan itu dilirik oleh sebuah penerbit besar bernama Bentang Pustaka. Kini buku tersebut sedang ada di tangan Anda dengan judul Hijrah Bang Tato.  

 

V

Di tengah dunia yang dibangun di atas cerita-cerita dan dengan pengalaman saya menemani hijrah Bang Tato dengan cara ‘bercerita’ kepadanya, lalu cerita-cerita itu dipublikasikan, ternyata bisa memberi pengaruh positif kepada banyak orang. Di sanalah saya melihat bahwa relevansi untuk menciptakan counter narrative terhadap gagasan radikalisme, ekstremisme, dan terorisme bisa kita lakukan dengan cara seperti ini. 

Kelompok-kelompok radikal dengan cerdik menggunakan media untuk membangun narasi mereka di tengah publik, termasuk di media sosial, sehingga banyak orang yang tertarik dengan gagasan mereka. Masalahnya, sudah cukup banyakkah lawan-lawan ceritanya, narasi-narasi yang mempromosikan antitesis dari gagasan radikalisme itu, yang ditulis dan disebarluaskan? Saya kira belum cukup banyak.

Banyak dari kalangan para aktivis anti-terorisme dan deradikalisasi mengeluhkan tentang efek media dan media sosial dalam memengaruhi anak-anak muda sehingga tertarik pada gagasan radikalisme dan terorisme. Sayangnya, cara-cara yang ditempuh para aktivis ini masih konvensional belaka, seperti yang dijalankan lembaga-lembaga negara atau bahkan lembaga donor. Kegiatan-kegiatan deradikasisasi dan kontra-terorisme masih didominasi oleh seminar, pelatihan, workshop, dan kegiatan-kegiatan lain yang tidak terlalu memberikan efek signifikan dalam membangun kontra-narasi terhadap radikalisme dan terorisme itu.

Di sanalah saya berusaha menyumbang peran. Sebagai seorang pencerita, storyteller, saya berusaha membangun sebuah kontra-narasi terhadap radikalisme dan terorisme dengan cerita-cerita yang saya tulis dan sebarkan. Cerita-cerita yang sederhana, membumi, dan apa adanya… Seperti Hijrah Bang Tato ini.

 

FAHD PAHDEPIE

Penulis Buku HIJRAH BANG TATO (Bentang Pustaka, 2017), Segera diangkat ke layar lebar. Simak video presentasi saya tentang ini di sini: 

 

 

Fahd Pahdepie, lahir di Cianjur 22 Agustus 1986, adalah entrepreneur dan intelektual publik yang telah melahirkan banyak buku best seller. Ia mendapatkan gelar Master of International Relations dari Monash University dengan beasiswa pemerinta Australia dan meraih penghargaan Outstanding Young Alumni 2017 dari Australia Global Alumni serta Australia Awards. Fahd merupakan anggota dari Monash Global Leaders dan termasuk dalam daftar 20 pemimpin muda berpengaruh Australia-ASEAN dalam A2ELP 2013, versi Australia-Malaysia Institute dan Asialink.

Saat ini, ia merupakan CEO dari Inspirasi.co dan Executive Director Digitroops Indonesia, perusahaan yang bergerak di bidang jasa komunikasi strategis dengan berbagai klien dari dalam dan luar negeri. Ia juga merupakan Owner dari jaringan bisnis Visi Matahari Pagi (VMP) yang menaungi sejumlah cafe, barbershop dan co-working space, serta PT Umrah Leadership Series (ULS).

Buku Hijrah Bang Tato dianggap sebagai salah satu contoh terbaik dalam counter-narrative act to radicalism and extremism dan telah membawanya ke banyak konferensi serta talk tingkat dunia, di antaranya TED Inspired Talk oleh Australia Global Alumni, Monash Arts Alumni Summit oleh Monash University, Conference of Australian and Indonesian Youth (CAUSINDY) 2017 di University of Melbourne, Singapore Writer Festival (SWF) 2017, dan masih banyak lagi. 

Karya : Fahd Pahdepie