Meski Tinggal Celana Kolor

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Inspiratif
dipublikasikan 31 Januari 2018
Meski Tinggal Celana Kolor

Bayangkan suara Ariel Noah yang sengau tetapi merdu itu melengking, “Dan terjadi lagi…12.845 jamaah umrah gagal berangkat, uang 300 miliar yang dihimpun dari jamaah diduga dilarikan menjadi asset pribadi, sementara itu owner travel umrah PT SBL ditangkap polisi dengan delik penipuan! 

Masih hangat dalam ingatan saat kasus First Travel menjadi perbincangan nasional. Puluhan ribu calon jamaah juga gagal berangkat karena manajemen yang salah sekaligus cara berbisnis pemiliknya yang terus berusaha memperkaya diri sendiri. Orang berfikir ini terjadi karena masalah keserakahan, “Pemiliknya saja yang serakah!” Sergah mereka. Tetapi, saya melihat hal lainnya. Bagi saya, ini soal komitmen.

Semua bisnis akan baik-baik saja selama pemiliknya kuat memegang komitmen. Bisnis adalah soal menjalankan komitmen. Jantung bisnis ada di sana. Sekali gagal kita memegang dan menjalankan komitmen itu, maka segalanya akan berantakan.

Semua orang berbisnis ingin mendapatkan keuntungan, kalu bisa yang besar… dan itu sah-sah saja, bukan? Selama tidak melanggar hukum dan etika dalam menjalankannya. Namun, semua transaksi dalam bisnis mengandung komitmen—mempersyaratkan terpenuhinya hak dan kewajiban pihak-pihak yang terkait. Itulah yang berat.

Saya pribadi bersama beberapa teman ikut berbisnis di bidang travel umrah. Sudah dua tahun kami menjalankan Umrah Leadership Series. Apakah untung? Relatif. Tergantung bagaimana kita melihatnya. Namun, harus diakui bisnis di bidang ini berat karena di dalamnya terdapat komitmen yang tidak bisa disepelekan—apalagi sampai dilanggar.

November 2017 kami menghadapi masalah yang cukup berat. Satu minggu sebelum keberangkatan tiba-tiba ada perubahan soal tiket, sementara dana yang terlanjur masuk tak bisa di-refund dengan cepat. Pilihannya tentu saja berat: Menunda keberangkatan dan mengecewakan 110 jamaah kami? Atau jalan terus dengan resiko rugi untuk keberangkatan di gelombang tersebut?

Kami bisa memilih yang pertama, dengan alasan ini-itu, bahkan meminta uang tambahan kepada jamaah dengan argumen yang bisa kami ajukan. Tetapi, kemudian kami ingat soal komitmen, kami ingat soal akad bagaimana transaksi ini dilakukan, dan akhirnya kami memilih yang kedua: Kami segera beli tiket baru, bahkan dengan kelas yang lebih tinggi dari yang dijanjikan. Pikir kami waktu itu, jamaah tak perlu tahu masalah yang sedang kami hadapi: Yang penting, kita berjalan sesuai komitmen yang sudah dibuat.

Bisa jadi pemilik First Travel dan SBL tak punya niat buruk untuk menipu, bisa jadi mereka memang menjalankan bisnis ini untuk bisa memberangkatkan sebanyak mungkin orang, meski kita tak tahu bagaimana yang sebenarnya. Namun, menurut saya, di sana mereka lupa pada komitmen—bahwa komitmen mensyaratkan terpenuhinya hak dan kewajiban masing-masing pihak.

Jangan lupa, tentang hak dan kewajiban, di sana ada batas-batas. Hak hita terbatas hak orang lain, sementara kewajiban yang harus kita penuhi terbatas pula oleh kesanggupan dan kemampuan kita untuk menjalankannya. Di sinilah soalnya, saat kita menerabas batas-batas itu, maka kita menjadi ‘melampaui batas’ dan mendzalimi diri sendiri—dan orang lain tentu saja. 

Barangkali kasus ini bisa membuat kita belajar. Termasuk saya dan teman-teman belajar dari sini. Kita tak boleh melangkah dan bergerak di luar batas toleransi kemampuan kita—apalagi jika semua itu berhubungan dengan hak-hak orang lain. Jika kita hanya bisa mengelola dan menjalankan 10 hal, jangan janjikan 100. Jika kita tak sanggup memenuhi 100, atas nama apapun jangan paksakan untuk melawan batas-batas kemampuan itu. Itulah komitmen.

Saya menjalankan bisnis lain di bidang kuliner dengan membuka café kecil-kecilan di bilangan Ciputat, Tangerang Selatan. Kepada teman-teman yang menjalankannya, saya tekankan betul-betul soal komitmen ini. Tak boleh disepelekan apalagi dilanggar.

Suatu kali ada pelanggan yang memesan menu pisang molen yang memang tertera di buku menu kami. Waiter café tersebut mengiyakan dan menuliskan pesanan si pelanggan. Namun, saat tiba di dapur, ternyata persediaan pisang molen sedang habis. Di sana, pilihannya ada dua: Mengatakan pada pelanggan tadi bahwa pisangnya habis dan menu itu tak tersedia, atau melakukan hal lainnya?

Karena belajar ilmu komitmen, pilihan yang diambil adalah tak ingin mengecewakan pelanggan. Saya minta pegawai di sana untuk segera mencari pisang ke pasar atau toko buah terdekat, seraya meminta waiter tadi menginformasikan kondisi yang ada dan meminta pelanggannya untuk menunggu jika ia menginginkannya. Tertanya benar, si pelanggan mau menunggu. 

Orang yang mencari pisang harus bekerja lebih cepat, ia memacu motor, membeli pisang, lalu kembali agar juru masak di dapur bisa memasak pisang molen. Tak lama, pisang molen keju pun tersedia, pelanggan senang. Meski ia tak tahu pengorbanan di balinya.

Waktu itu, karyawan saya beratanya, “Pak, apa nggak rugi kita mati-matian cari pisang sementara untung dari menu itu nggak sampai dua ribu rupiah?” Saya katakana kepadanya, bukan soal jumlahnya, tetapi soal komitmen kita pada apa yang sudah kita janjikan. Sesulit apapapun, kita harus berusaha memenuhinya. Itulah yang akan membuat kita bertahan dalam bisnis, yang akan membuat kita memiliki reputasi. 

Barangkali kita bisa belajar dari sini, bahwa dalam bisnis komitmen adalah harga mati. Ia harus susah dibuat karena wajib memiliki perhitungan dan pertimbangan yang matang, tetapi sekaligus haram untuk dilanggar. Kecuali jika keadaan kahar, tentu saja.

Sering saya diajari mentor saya, katanya, “Kalau sudah soal komitmen, jangan pernah sekalipun dilanggar. Kalau sudah urusan memenuhi hak orang lain, lakukan apa saja, meski kita hanya tinggal pakai celana kolor saja.”

Akhirnya, katakan pada Dilan, yang berat itu bukan rindu, tetapi komitmen. Jika belum siap memegang dan menjalankan komitmen, lebih baik jangan jadi pengusaha, kamu nggak akan kuat. Biar aku saja.

  

FAHD PAHDEPIE

Penulis, sedang belajar berbisnis