Selamat 25 Desember

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 25 Desember 2017
Selamat 25 Desember

“Aku belum mau pulang,” Katamu waktu itu. Tetapi kita harus pulang. Hari sudah malam.

Aku janji pada mamamu tak akan membawamu pulang malam. Kita belum menikah waktu itu. Baru selesai mengantar beberapa undangan pernikahan kita…

“Tapi aku belum mau pulang,” Kamu merajuk. Sekali lagi. Aku membuntutimu dari belakang, terus meyakinkanmu untuk pulang. Kamu mengubah arah langkah.

Sebenarnya kita sudah dekat dari rumahmu. Tinggal beberapa puluh meter saja. Tetapi kita memutuskan untuk duduk berdua di sebuah undakan tangga, yang menurun menuju perkampungan yang lain…

Lamat-lamat, dari masjid terdengar suara tarhim. Kamu duduk beberapa undak di bawahku. Matahari hendak sandar di peraduannya.

“Kita tunggu sampai azan maghrib,” kamu menoleh ke arahku—agak mendongak. Cahaya temaram menerpa wajahmu. Mengubahnya jadi keemasan.

Aku mengangguk. Tak berkata apa-apa. Beberapa saat kemudian, azan maghrib berkumandang dari kejauhan.

Kamu berdiri. Lalu berlalu melewatiku. Aku tahu dari wajahmu—kamu masih belum mau pulang, entah untuk alasan apa. Tetapi kita memutuskan untuk berjalan berdua, lalu membuka pintu rumahmu di ‘lafadz hayya ‘alal falaah’.

Setelah itu, aku pamit pada mamamu. Aku bergegas mengejar maghrib di tempat lain.

“Nggak shalat dulu?” Tanya mamamu.

Entah apa yang membuatku menggelengkan kepala. Meski sebenarnya aku masih ingin bersamamu. “Di masjid saja,” jawabku pada mamamu. Sementara kamu terus masuk ke dalam rumah, tak melepasku pergi seperti biasa.

Aku tahu kamu belum mau pulang waktu itu. Aku tahu. Hanya tahu.

***

Kini, hari ini, tepat delapan tahun berlalu setelah hari pernikahan kita, kamu masih jadi orang yang sama: Yang tak selalu berterus terang tentang sesuatu, yang entah mengapa selalu ragu mengatakan apa yang sesungguhnya kau rasakan.

Bedanya, kini aku sudah mulai tahu. Jika kau bilang belum lapar, mungkin sebenarnya kamu tetap bisa diajak makan di luar. Kalau kamu bilang nggak usah dibawain apa-apa, aku mengerti kamu akan tetap senang kalau tetap kubawakan oleh-oleh dari manapun aku pergi. Kalau kamu bilang mau nemenin aku karena kamu belum ngantuk, aku yang harus meninggalkan pekerjaanku untuk kemudian mematikan TV-mu dan menemanimu beristirahat.

Tetapi, Sayang, kita sudah menikah delapan tahun. Kau tak perlu melakukan itu lagi. Kepadaku, kau bisa mengatakan apa saja apa adanya…

Setelah delapan tahun pernikahan kita, setelah semua yang kita lalui bersama, mungkin kau tak perlu tersenyum dengan mata menahan tangis, atau berusaha tertawa saat wajahmu menyiratkan bahwa segalanya tak sedang baik-baik saja.

Saat kau tak setuju dengan pilihanku, seperti saat kau tak mau ikut kemana aku pergi atau tak ingin makan apa yang terlanjur aku pesan, kau tak perlu memaksakan diri untuk selalu bilang ‘iya’. Kau selalu bisa mengatakan ‘tidak’ dan mengemukakan pilihanmu sendiri di depanku. Kau selalu punya hak untuk memilih kehendakmu sendiri.

Katakanlah kepadaku apa yang kau rasakan, beri tahu aku apa yang sesungguhnya kau inginkan, ungkapkan semua yang selama ini tak tega engkau lemparkan kepadaku. Kapanpun saja, kita selalu bisa berdiskusi dan bernegosiasi sebagai dua orang dewasa dengan kehendak bebasnya masing-masing.

***

“Tetapi aku kan harus ikut kamu? Kamu imamku dan aku diminta taat kepadamu,” Katamu.

“Pada beberapa hal… iya.” Jawabku.

Kamu mengernyitkan dahi.

“Pada beberapa hal lain, kita adalah orang dewasa yang mengorganisasikan dan mengkomunikasikan kepentingan kita masing-masing. Kita adalah teman yang setara, sahabat yang berjalan beriringan.” Sambungku.

“Misalnya?” Kamu mengejar.

“Aku tak perlu menentukan warna baju apa yang harus kamu kenakan, kan? Kopimu diberi gula atau tidak? Kau suka gunung atau pantai? Dan lebih banyak lagi hal lainnya.”

Kamu tertawa. Sambil mengangguk-anggukkan kepala, “Oke, oke,” katamu.

Aku tertawa.

“Aku ingin lebaran tahun ini di rumahku dulu!” Sahutmu.

Aku tersenyum. Terdiam sejenak. Kaget juga dengan permintaanmu. Tetapi aku mengangguk, “Oke.” Jawabku. “Gampang.”

Kita tertawa berdua.

***

Sayang, katakan kapan saja jika kau mau pergi ke mana saja. Katakan juga jika ternyata kau ragu dan ingin mengurungkannya kapan saja. Katakan apa saja… Kau tak perlu berdansa mengikuti irama siapapun selain musik hati yang kau mainkan sendiri. Termasuk musik dan laguku—sebab kadang mungkin irama dan ritmeku tak bisa membuatmu bahagia.

Delapan tahun ini, delapan tahun pernikahan kita, kau tak berhutang appaun kepadaku. Kau tak terawan. Sebab hati kita berdua terpaut tetapi saling membebaskan, tanpa syarat dan ketentuan.

Selamat hari ulang tahun pernikahan kita yang kedelapan: Terima kasih untuk semua hal yang bisa kurinci jadi puisi atau apa saja tak bisa kureka jadi prosa. Juga maaf untuk semua hal yang berhasil kumengerti atau gagal kupahami.

Dalam ingatan, kamu menaiki tangga itu ketika aku masih duduk di salah satu undakannya, “Aku belum mau pulang,” katamu. Masih dengan suara merajuk.

Aku menatap ke arahmu.

“Aku masih mau main sama kamu.” Sambungmu.

Dan tepat hari ini, delapan tahun yang lalu. Kita disahkan penghulu untuk menjadi sepasang teman bermain seumur hidup kita berdua—selama-lamanya, sehidup sesurga.

 

Jakarta, 25 Desember 2017

FAHD PAHDEPIE