Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Inspiratif 25 Desember 2017   07:36 WIB
Menjadi Penulis, Menjadi Pencerita

Sejak jatuh cinta pada kata-kata, sejak saat itu pula saya memutuskan untuk menjadi seorang penulis. Tidak pernah mudah, tidak pernah murah, tidak pernah sebentar. Perjalanan untuk menjadi seorang penulis adalah perjalanan yang tak selesai-selesai, selalu membelum, sampai kapanpun. 

Saya belajar kepada banyak orang, membaca banyak buku, melewati banyak peristiwa. Namun sedikit di antara hal-hal itu yang membekas kuat dalam ingatan, hingga menancap jadi kenangan. Dan salah satu dari sedikit di antaranya adalah M2KQ.

Waktu itu saya masih duduk di bangku kelas 2 Madrasah Aliyah ketika seorang guru saya di pesantren mendaftarkan saya ke sebuah perlombaan yang terdengar begitu asing, Musabaqah Menulis Kandungan al-Quran namanya. Disingkat M2KQ.

Tahun 2005, menjelang Garut menjadi tuan rumah MTQ tingkat provinsi Jawa Barat, kota itu mengerahkan segenap sumber daya yang dimilikinya agar bisa sekaligus tampil sebagai juara. Anak-anak muda dari berbagai pesantren dikumpulkan di sebuah tempat, digembleng berhari-hari menjelang MTQ, dilatih untuk menjadi juara di setiap cabang yang diperlombakan.

Entah bagaimana tiba-tiba saya berada di tengah-tengah situasi tersebut, menjadi ‘anak bawang’ yang pertama kali ikut MTQ untuk mengikuti sebuah cabang baru bernama M2KQ itu. Jika yang lain diberi target juara, saya tidak. Tugas saya hanya ikut berlomba saja, tak peduli apapun hasilnya.

***

Di hari perlombaan, saya datang membawa sejumlah buku untuk bahan referensi. Ini adalah sebuah lomba menulis karya ilmiah populer al-Quran, berbasis pemahaman dan gagasan tentang tafsir tematik tentangnya. Saat tiba di area lomba, lutut saya gemetar: Saya satu-satunya anak SMA yang mengikuti perlombaan itu. Yang lain rata-rata sudah kuliah, bahkan beberapa sedang menempuh studi jenjang master.

Duduk di kursi yang disediakan, saya terpaku menghadap mesin tik. Pikir saya, benda ini yang akan menemani saya menulis? Bukankah dunia sudah sampai di peradaban komputer? Namun, itulah aturannya. Semua peserta hanya boleh menulis di mesin tik untuk menghindari plagiasi… Juga barangkali untuk menguji daya tahan sebuah gagasan, seberapa layak ia diperjuangkan untuk akhirnya tercetak menjadi sebuah tulisan.

Berbekal ingatan masa kecil bermain-main dengan mesin tik ayah, saya pun mulai membubuhkan kalimat pertama di jentera itu. Pikiran saya mengembara jauh, jari saya menari, dan saat satu kata tercetak melewati pita karbonnya… Ada perasaan luar biasa yang muncul di hati saya. Seketika saya jatuh cinta pada cara lomba ini bekerja.

Detik demi detik berguguran, menit ke menit berlalu, tak terasa saya sudah duduk di depan nenek moyang Microsoft Word itu hampir lima jam! Sepuluh lembar tulisan sudah saya selesaikan, tinggal lima lembar lagi. Keasyikan telah membuat saya saya tenggelam dalam bunyi mesin tik, gulungan pitanya, hingga bunyi ‘ting!’ di ujung marjin.

Saat saya melihat ke sekeliling, para peserta yang lain juga tengah sambat di dunianya masing-masing. Meski ada juga yang terlihat duduk merenung, gusar dengan kata yang terantuk, hingga menyerah di tengah lomba.

Saya memutuskan untuk kembali ke halaman sebelas ketika kalimat itu lamat-lamat muncul di kepala saya, sebuah pencerahan, “Setiap kata yang sempat lahir, harus tuntas diberi nyawa, selesai menjadi cerita…” Maka saya pun kembali menulis. Mendaki dari satu kalimat ke kalimat lainnya, berjuang dari satu paragraf ke paragraf berikutnya, sampai kata tak bisa dilanjutkan lagi karena segalanya telah purna.

Di akhir lomba, saya menyerahkan bundle naskah saya ke hadapan dewan juri dengan perasaan bebas. Tak ada beban apapun… Karena saya merasa tak harus menjadi juara. Tugas saya menulis. Itu saja.

***

Tak disangka-sangka, saya lolos babak kualifikasi dan melaju ke babak final. Gosip mulai beredar bahwa ada anak SMA yang lolos ke tahap final lomba cabang ini. Ada perasaan GR, tentu saja, saat saya mencuri dengar perbincangan beberapa orang bahwa tulisan anak SMA berhasil mengalahkan tulisan-tulisan lain yang diproduksi mahasiswa S2. Tetapi, saya terus membaca saja, tugas saya berikutnya tetap sama: Saya harus menulis lagi!

Di babak final, saya menulis dengan cara yang sama. Saya berlomba dengan gaya yang sama. 11 jam saya habiskan untuk bertungkus lumus dengan pikiran dan kata-kata, berjibaku di depan mesin tik. Hingga tiba saat saya harus mempresentasikannya… Mempertanggungjawabkan semua gagasan yang saya tuliskan.

Di akhir lomba, saya diumumkan sebagai salah satu pemenang. Saya girang luar biasa, meski hanya juara tiga. Sebagai underdog, saya sudah bertanding dengan cara yang benar, tanpa beban. Maka ketika saya mendapatkan hadiah jutaan rupiah, juga pujian-pujian karena menyumbang sedikit bagi prestasi Garut yang berhasil mengamankan posisi juara umum, yang lebih membahagiakan adalah bahwa saya sudah bisa menjadi penulis yang bertanggung jawab pada kerja kata-katanya sendiri.

***

Dua tahun berikutnya saya ikut berlomba lagi. Saat itu, saya masih jadi peserta yang paling muda, meski bukan pendatang baru lagi. Di momen MTQ tingkat provinsi Jawa Barat 2007, saya keluar sebagai juara pertama untuk cabang M2KQ. Memberi saya tiket untuk melaju ke level puncak di MTQ Nasional yang akan dihelat di Banten tahun 2008.

Di Banten lah saya menuntaskan misi sekaligus ‘karir’ saya di dunia M2KQ. Di sana saya keluar sebagai juara 1 tingkat nasional. Saya tak ingat lagi apa yang saya tulis ketika itu. Kalau tak keliru soal tafsir waktu di dalam al-Quran, bagaimana al-Quran melihat konsep waktu yang berbeda-beda, termasuk waktu hidup (la time) dan waktu mati (la dure). Yang saya ingat betul adalah hadiah utama waktu itu adalah ongkos naik haji, orangtua saya bangga luar biasa.

M2KQ sudah memberi saya banyak hal, pengetahuan hingga pengalaman. Di sana saya belajar tentang betapa gagasan harus diperjuangkan hingga ia menjadi sebuah tulisan. Juga soal daya tahan dan daya hidup sebagai penulis… Bahwa menjadi penulis bukan sekadar menjadi tukang tulis atau juru ketik, menjadi penulis adalah tentang menjadi tuan bagi gagasan kita sendiri.

***

Sejak 2008, saya tak pernah berhubungan lagi dengan dunia M2KQ, meski saya terus menjaga silaturahmi dengan teman-teman dan para dewan hakim—yang secara otomatis menjadi guru-guru saya dalam menulis.

Hampir sepuluh tahun berlalu sejak peristiwa itu, saya terus belajar menulis. Kata-kata sudah menjadi kawan baik saya yang tak pernah berkhianat untuk terus berkhidmat menjadi perantara bagi pikiran dan perasaan-perasaan saya.

Bedanya, kini saya sudah tumbuh menjadi seorang penulis yang berbeda: Saya tak lagi menulis untuk lomba, untuk hadiah, untuk tepuk tangan, bahkan bukan untuk siapa-siapa termasuk dewan juri. Saya menulis untuk bercerita, untuk mengubah hidup menjadi ‘bios’, seperti kata Wilhelm Dilthey, bukan sekadar hidup biologis saja, bukan sekadar ‘zoe’.

Sebab cerita adalah pengorganisasian hidup, ‘zusammenhang des lebens’, saya bersalin rupa menjadi seorang pencerita.

 

FAHD PAHDEPIE

: Sebuah refleksi pasca-reuni alumni M2KQ. Yang penuh cerita, penuh tawa. Terima kasih kepada Pak Agus Ahmad Safei yang telah bersedia menjadi tuan rumah. Rumah tempat pemantapan sekaligus kamp konsentrasi… Tempat semua dongeng terbaik Abdul Qohar diciptakan.

Karya : Fahd Pahdepie