Anti-Parenting: Anak-anak di Ranjang Orangtua

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 07 Desember 2017
Anti-Parenting: Anak-anak di Ranjang Orangtua

Sebagai suami-istri sekaligus orangtua, saya dan Rizqa kerap berbangga karena kami berhasil mendidik anak-anak untuk tidur sendiri di kamar masing-masing sejak usia mereka satu tahun. Bahkan, sebelum itu, berbekal pengetahuan yang kami baca di sebuah buku parenting, sejak mereka bayi kami bisa membuat anak-anak terlelap tanpa perlu digendong atau di-eyong.

“Rahasianya tega!” Ujar Rizqa suatu kali ketika menjelaskan kepada seorang teman bagaimana bisa kami tak pernah begadang menenangkan dan menidurkan bayi yang masih kacau waktu tidurnya. “Waktu itu kami baca di buku, sejak bayi anak-anak harus diberi pemahaman tentang waktu. Termasuk waktu tidur.” Senyum Rizqa mengembang.

Sang teman mengangguk-angguk. “Tapi, kitanya tega, suami yang nggak tega.” Katanya, wajahnya tampak gusar. “Atau kalau kita sepakat, orangtua kita yang bilang kasihan. Atau lebih parah lagi... tetangga. Harus gimana coba?” Sambungnya. Dalam kasus teman kami ini, waktu itu ia tinggal bersama orangtuanya di rumah mereka.

Saya ikut menimpali, “Kami sampai datang dulu lho ke tetangga, memberi mereka pengertian kalau malam dengar bayi kami nangis, bukan kami cuekin. Tapi sedang kami didik waktu tidur. Saat ada orangtua kami berkunjung, atau saat kami menginap di rumah mereka, kami juga katakan tak perlu khawatir kalau malam bayi kami menangis.” Saya berusaha menjelaskan, meski sang teman masih tampak bingung.

“Biasanya sebulan,” sergah Rizqa, “Sebulan biasanya anak-anak sudah terbiasa dan terbentuk waktu tidurnya. Setelah itu, mudah buat kami menidurkan mereka.”

Teman saya dan Rizqa tadi mengangguk-angguk. 

Dengan cara seperti itu, saat usia anak-anak kami satu tahun—bahkan Kalky, anak pertama kami, kurang dari satu tahun—mereka kami minta untuk tidur sendiri di kamarnya. Dan berhasil!

Kemi, anak kedua kami, rasanya memang lebih lama tidur bersama saya dan Rizqa. Setelah satu tahun dua bulan, baru ia tidur sendiri di kamar Kalky, dengan ranjang yang berbeda tentunya. Kalau Kemi sedang ketakutan, biasanya Kemi pindah ke ranjang Kalky. Pernah suatu pagi, ketika hendak membangunkan mereka, saya melihat mereka sudah tidur berdua, Kemi memeluk kakaknya dengan erat. Lucu sekali. 

Dengan semua itu, tentu kami boleh berbangga sebagai orangtua. Orangtua boleh membanggakan apa saja dari anaknya, kan? Meski soal tidur belaka, kami sudah menerapkan ilmu parenting modern.

Namun, belakangan ini semua skenario berubah. Mungkin sudah hampir satu tahun. Kini usia Kalky sudah 7 tahun dan Kemi 4 tahun. Entah apa yang terjadi, sekarang mereka kerap pindah tengah malam ke kamar kami...

Mulanya Kemi, biasanya sekitar pukul satu atau dua malam, Kemi membuka pintu kamar kami dan merengek, “Mau tidur sama Mami.” Katanya. By default kami biasanya memintanya kembali ke kamar, lalu ia pun kembali ke kamar setelah ditenangkan. Tapi, tahukah apa yang terjadi kemudian? Saat kami bangun subuh, Kemi tiba-tiba sudah berada di antara saya dan Rizqa! Seringkali kami tidak menyadari kapan pindahnya. Ha!

Karena Kemi sering begitu, lama-lam mungkin jadi kebiasaan. Kemi tidur di kamarnya sendiri, tapi kerap bangun di kamar kami. Kalky tentu saja cemburu, meski ia ngejekin Kemi... “Ah Kemi mah tidurnya sama Mami dan Papi mulu...” Katanya. 

Tapi, diam-diam Kalky pun suka ikut pindah kalau Kemi pindah. Belakangan ini sering saya dan Rizqa terbangun, tiba-tiba sudah ada Kalky dan Kemi di ranjang kami terlelap.  Kalau sudah begitu, kami sering tak tega membangunkan mereka—jadi kami biarkan saja. Kalau tersadar ketika mereka menyusup ke balik selimut, biasanya kami bujuk dulu untuk kembali ke kamar mereka, tapi seringkali gagal.

Dalam satu minggu biasanya ada satu hari di mana kami tidur bersama, memang sengaja. Rutinnya hari Sabtu. Jika hari itu tiba, Kalky dan Kemi girang luar biasa. “Asyik tidur sama Papi dan Mami!” Katanya. Kemi pun ikut bersorak dan berjoget. Mereka melompat-lompat di atas ranjang. 

Kemarin saya tanyakan pada Kalky, apa sih enaknya tidur bareng sama Papi dan Mami? Kalky menjawab sederhana, sambil senyjm-senyum. “Enak aja.” Katanya, “Bikin seneng.”

Mendengar jawaban itu, sayapun tersenyum. Mungkin ada yang tak bisa dilogikakan tentang anak-anak yang tidur di ranjang orangtuanya: Persaan mereka. Mungkin ada yang luput dari ilmu parenting moderen: Tentang kebersamaan dan rasa saling melindungi. 

Sekarang, mungkin saya dan Rizqa harus mencari ranjang yang lebih besar, karena kadang terasa sempit. Mudah-mudahan ada. Mungkin saya harus mulai menaruh sofa di kamar tidur utama. Ha!

 

Ciputat, 7 Desember 2017

FAHD PAHDEPIE
 

  • view 1.2 K