Balada Ustadz Felix dan Abu Janda

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Politik
dipublikasikan 06 Desember 2017
Balada Ustadz Felix dan Abu Janda

Lihatlah apa yang dikatakan, jangan melihat siapa yang mengatakan.” 

Di tengah hiruk pikuk dan banjir opini di media sosial, rasanya nasihat mulia ini semakin relevan untuk kita jadikan perisai diri. Entah bagaimana kita jadi cenderung mengikuti pendapat seorang individu, mengamininya, membelanya mati-matian, hanya karena individu tersebut berada satu kubu dengan kelompok yang kita bela. Hasilnya, kemampuan kita dalam memisahkan apa yang dikatakan dari siapa yang mengatakan menjadi lemah sekaligus rancu.

Sudah kita pahami bersama bahwa jagat media sosial kita saat ini terbagi. Menjadi terkotak-kotak, menjadi hitam putih. Berawal dari soal pilpres 2014, berlanjut ke Pilkada DKI, kemudian makin memanas menyusul aksi 212 dan beragam turunannya. Masalahnya, cara orang berdebat jadi semakin tidak sehat saja, masalah politik terus meluber ke berbagai percakapan keseharian. Lebih celaka lagi, olok-olok dan kenyinyiran menguasai panggung pertunjukan: Mulai soal sorban hingga kecebong sekolam! 

Ketika kubu-kubu ini memunculkan tokoh dan pahlawannya masing-masing, semua hal termasuk pernyataan dari mereka menjadi pusat-pusat persoalan baru. Tokoh-tokoh pun dilabeli secara tidak adil. Para ustadz , selebriti, ilmuwan atau siapapun yang tidak setuju pada Ahok dan membela 212 secara serampangan dianggap berusaha membajak Pancasila atau anti-NKRI? Pun sebaliknya, sebagian pejuang keyboard yang merasa Islam terus disudutkan dan para ulama dikriminalisasi, kadang juga melihat kubu lawannya tak ada benarnya saja. 

Semalam saya menonton ILC (Indonesia Lawyers Club). Ada perdebatan menarik antara Ustadz Felix Siauw dan Permadi Arya alias Abu Janda. Memang menggelikan sekali jika segala sesuatu, semua isu, aneka persoalan bangsa harus dibuat saling berlawanan, harus ada siapa versus siapa. Namun, saya tak ingin melebar ke sana, saya ingin memberi pendapat pada kesalahan berfikir yang fatal yang ditunjukkan oleh Abu Janda yang gagal melihat persoalan yang kompleks hanya dari kacamata kesinisan yang tak punya basis argumen yang kokoh. 

Dalam sebuah pernyataannya saat berusaha mendebat balik Ustadz Felix, Abu Janda mengatakan bahwa lawan bicaranya melakukan logical fallacy. Padahal, sepanjang perdebatan, jika saya boleh menjadi juri, Abu Janda lah yang paling banyak melakukan logical fallacy. Lebih parah lagi, ia kadang mengambil kesimpulan atau melemparkan asumsi dari data yang kelak akan dia anulir sendiri karena bukan bagian dari kapasitas atau pengetahuannya.

Apa yang dipertontonkan Abu Janda adalah kegagalan melihat kebenaran dari kubu yang ia lawan. Seolah segala yang datang dari lawan bicaranya harus salah karena secara ideologi (atau sebenarnya pemahaman atau tafsir terhadap ideologi) berbeda dengannya. Ia bahkan berusaha menyerang argumen Ustadz Felix dengan secara sembrono mengatakan bahwa hadits yang dipakai Ustadz Felix tak bisa dipakai sebagai landasan karena baru muncul 200 tahun setelah Nabi Muhammad wafat?

Jelas itu senjata yang salah. Senjata makan tuan. Abu Janda yang selama ini berlindung di balik Banser, kelompok underbow Nahdlatul Ulama, dan ‘merasa’ mewakili suara NU justru memunculkan argumen yang pasti ditentang oleh para ulama NU sendiri. Dan ternyata benar, Prof. Mahfud MD, bagian sahih dari keluarga besar NU, menentang pernyataan Abu Janda itu—sambil secara eksplisit mengatakan bahwa Abu Janda harus merujuk pada studi-studi dalam tradisi pesantren. Bukankah Abu Janda selama ini mengklaim dekat dengan dunia pesantren?

Apa yang kita saksikan dari drama ini adalah contoh nyata dari kegagalan seorang Abu Janda merealisasikan ‘undzur ila maa qaala wa laa tandzur ilaa man qaala’ yang terjemahannya saya tuliskan di bagian awal artikel ini. Bahkan ketika kelabakan, Abu Janda menyerang personalitas dan identitas Ustadz Felix, menekankan kata ‘Kokoh’ untuk mengekspos bahwa Felix Siauw beretnis Cina. Sesuatu yang secara implisit justru memperlihatkan betapa bias cara pendangnya terhadap etnisitas seseorang, betapa bermasalahnya sebutan itu ketika dipakai untuk menyerang lawan dengan nuansa otoritatif ingin mengatakan ‘kamu siapa sih?’. Bukankah selama ini ia mengaku membela toleransi dan kebhinekaan?

Dalam kontestasi gagasan ini, saya tidak hendak membela Ustadz Felix, tetapi harus kita akui bahwa argumen-argumennya jernih dan bisa dipertanggungjawabkan—meskipun tidak semua detailnya bisa disetujui. Apalagi, menarik jika kita mendengarkan bagian akhir dari pernyataan Ustadz Felix dalam perdebatan itu yang mengatakan bahwa bisa jadi apa yang ia dan teman-temannya lakukan memuat sesuatu yang belum baik dalam pandangan orang lain, sehingga harus menjadi koreksi buatnya agar lebih baik lagi di kemudian hari.

Inilah sikap yang perlu kita miliki yang mungkin sudah kian hilang dari diri kita sebagai bangsa: Kebijaksanaan untuk mengoreksi diri sendiri. Ketidaksetujuan kita kepada orang lain, kesalahan yang kita temukan pada orang lain karena tidak sesuai dengan kebenaran yang kita yakini dan seterusnya, seharusnya bukan menjadi bahan untuk menyerang atau mengolok-olok. Namun menjadi ruang untuk membuka pintu dialog, percakapan yang adil, menghargai satu sama lain.  

Secara pribadi, banyak yang tidak saya setujui dari pendapat-pendapat Ustadz Felix Siauw selama ini, terutama mengenai politik dan sistem pemerintahan. Tetapi, lebih banyak darinya yang bisa saya dengar dan ambil ilmunya tentang berbagai hal lain, mulai dari sejarah, hikmah, dan seterusnya. Ketidaksetujuan saya pada sesuatu dari dirinya tidak serta merta membuat saya tidak menyetujui segala sesuatu darinya, apalagi hingga tidak menyukainya. Ini juga yang saya terapkan kepada tokoh-tokoh lain, toh kita tidak perlu menyetujui segala sesuatu dari seseorang, bukan? Tetapi kita bisa mengambil apa saja yang baik dari orang lain, siapapun dia.

Melalui tulisan ini, saya ingin mengajak untuk mulai melakukan dua hal. Pertama, kita perlu bersikap adil saat melihat atau mendengarkan argumen seseorang, siapapun dia dan apapun afiliasinya. Lihatlah apa yang dikatakan, jangan melihat siapa yang mengatakannya. Kata Ibnu Arabi, sekalipun keluar dari dubur ayam, bukankah telur tetap bisa kita makan? Kedua, keberanian dan kebijaksanaan untuk siap melakukan autokiritik adalah sesuatu yang harus kita tumbuhkan lagi. Autokritik akan membuat percakapan publik kita makin maslahat.

Terakhir, nasihat pertama yang saya kutip dalam tulisan ini berasal dari Imam Ali bin Abi Thalib, ayahnya Hasan dan Husain, cucu Rasulullah dari putri kesayangannya Sayyidah Fatimah. Jangan pula yang terkait dengan keluarga Nabi, dengan ahlul bait, sedikit-sedikit dikaitkan dengan isu Syiah... Mari kita bersikap adil sejak dalam pikiran. 

Tabik!

  

Ciputat, 6 Desember 2017

FAHD PAHDEPIE