Sumpah Pemuda: Imajinasi, Narasi, Kolaborasi

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Sejarah
dipublikasikan 28 Oktober 2017
Sumpah Pemuda: Imajinasi, Narasi, Kolaborasi

89 tahun lalu, tepat 28 Oktober 1928, sekelompok anak muda mengikrarkan tiga bait ‘imajinasi’ yang kelak turut menjadi simpul penting dalam rangkaian ‘narasi’ bernama Indonesia. Dengan menanggalkan narasi kesukuan masing-masing, Soegondo Djojopuspito, Mohamad Yamin, dan kawan-kawannya melebur identitas Jong Java, Jong Aceh, Jong Ambon, dan seterusnya menjadi satu nama saja: Indonesia.

Selepas Kongres Pemuda Dua di Batavia itu, ada tiga hal penting yang mereka ikrarkan. Pertama, mereka ‘mendaftarkan’ diri ke dalam sebuah tanah air imajiner bernama Indonesia. Sebuah ‘imajinasi’ yang berusaha mereka bayangkan dengan segenap ‘tumpah darah’. Perlu diingat, momen Sumpah Pemuda ini berjarak 17 tahun sebelum Indonesia merdeka. Artinya, boleh dibilang pada saat itu Indonesia belum jelas ada… Atau paling tidak, belum jelas bentuk legal-formalnya. Negara Indonesia masih sebatas imajinasi belaka.

Kedua, imajinasi tentang tanah air bernama Indonesia itu kemudian mereka perluas lagi dengan membayangkan sebuah kounitas bersama yang di sana orang-orang memiliki identitas dan rasa bangga yang sama: Ihwal kebangsaan. Di sinilah segala bentuk identitas kesukuan dilebur menjadi satu untuk ditampung dalam sebuah komunitas yang terbayangkan, atau meminjam istilah Ben Anderson ‘an imagined community’, bernama Indonesia.  

Ketiga, didorong oleh kesadaran bahwa identitas itu harus terartikulasi ke dalam satu format dan strategi kebudayaan, mereka kemudian membayangkan sebuah bahasa persatuan: Bahasa Indonesia. Tentu saja, saat itu, Indonesia belum punya bahasa nasional. Jangankan bahasa nasional, Indonesia sebagai negara-bangsa (nation-state) saja belum terbentuk. Apalagi jika kita lihat fakta sejarah bahwa Kongres Bahasa Indonesia pertama baru digelar 10 tahun sejak peristiwa Sumpah Pemuda, sekitar bulan Oktober 1938.

Imajinasi 

Itulah mengapa sejak awal saya memakai kata ‘imajinasi’ untuk menjelaskan Sumpah Pemuda ini. Bisa dikatakan, Sumpah Pemuda memang dokumen pertama yang menyatakan secara jelas apa dan bagaimana imajinasi kolektif kita sebagai sebuah negara-bangsa. Sejarah pergerakan kemerdekaan boleh jadi dimulai lebih jauh dari momen ini, termasuk lahirnya Boedi Oetomo tahun 1908. Namun, format imajinasinya belum sejelas apa yang dibayangkan mereka yang merumuskan Sumpah Pemuda dengan tiga poin penting di atas.

Jika ditanya apa yang perlu kita refleksikan dalam mengenang 89 tahun Sumpah Pemuda? Barangkali hal paling mendasar adalah soal imajinasi ini. Apakah saat ini, 72 tahun setelah merdeka, kita memiliki imajinasi yang lebih baik tentang tanah-air-tumpah-darah sekaligus bangsa bernama Indonesia ini? Atau jangan-jangan imajinasi kita sebagai sebuah bangsa telah tercerai berai atas nama kepentingan kelompok dan golongan masing-masing?

Menyedihkan jika kita melihat kenyataan bahwa saat ini Indonesia terfragmentasi ke dalam bagian-bagian atau kelompok-kelompok yang seolah enggan bersatu atas nama luka batinnya masing-masing. Saat ini, imajinasi kita sebagai sebuah bangsa seolah terfragmentasi ke dalam kotak-kotak yang dinding-dinding pemisahnya terus dibangun tinggi-tinggi oleh satu sama lain.

Sialnya, di dalam kotak-kotak itu ada pihak yang terus menjelekkan pihak lain, ada satu kelompok yang merancang rencana jahat untuk mencelakakan kelompok lain, ada satu kubu yang menyiapkan aneka stretegi untuk membajak NKRI, ada orang-orang yang atas nama nafsu kekuasaan tega mengimpor kebencian dan permusuhan sambil mengkhianati Pancasila dan UUD 1945. Di tengah semua itulah imajinasi tentang tanah-air-tumpah-darah, tentang identitas kebangsaan yang sama, tentang bahasa persatuan, harus terlupakan dan terkorbankan.

Barangkali, inilah saatnya kita merumuskan kembali imajinasi kolektif kita sebagai sebuah bangsa. Berpijak pada konteks permasalahan yang kita hadapi saat ini, rasanya perlu kita meneguhkan lagi semangat Sumpah Pemuda, menajamkan lagi visi dan imajinasi kita tentang Indonesia. Negara seperti apa yang sedang kita bayangkan saat ini dan di masa depan? Indonesia yang bagaimana yang sedang kita susun balok-balok dan batu bata kemajuannya?
 

Narasi 

Hanya jika kita sudah selesai dengan persoalan imajinasi itulah, maka kita bisa bergerak membangun narasi besar (grand narrative) sebagai sebuah bangsa. Narasi besar itu bisa sesuatu bertema pembangunan, kemajuan teknologi, kekuatan ekonomi, kesejahteraan yang berkeadilan sosial, pemerataan pendidikan atau apapun. Setiap pemerintahan melalui kepala negaranya bisa menginisiasi sebuah narasi besar semacam itu. Namun, narasi besar itu hanya akan berbunyi, berfungsi, dan bekerja dengan baik saat semua elemen bangsa memiliki level imajinasi dan pemahaman yang sama. 

Saat Sumpah Pemuda digulirkan, grand narrative yang sedang dimainkan adalah soal kebangkitan nasional. Indonesia harus merdeka sebagai sebuah negara, bangsa Indonesia tak boleh terjajah di bawah siapapun. Di sanalah para penulis, aktivis, intelektual, dan lainnya berjuang menerjemahkan narasi besar itu menjadi narasi-narasi kecil di level praktis. Melalui narasi-narasi kecil inilah gagasan tentang Indonesia yang merdeka dioperasionalisasikan di level teknis.

Kini, pertanyaannya, narasi besar apa yang sedang kita mainkan sebagai sebuah bangsa? Jangan-jangan kita tak memilikinya? Jangan-jangan kita hanya bergerak di level narasi-narasi kecil yang tidak berhubungan satu sama lain? Dari sini, kita bisa melihat, kegagalan kita dalam merumuskan imajinasi sebuah bangsa, diikuti dengan ambiguitas narasi besar yang dimainkannya, akan berdampak serius sampai ke level-level teknis—unit-unit terkecil dalam masyarakat.
  

Kolaborasi

Peran pemuda seperti apa yang perlu dikontribusikan untuk Indonesia saat ini? Barangkali kita bisa merumuskan kembali ‘imajinasi’ dan ‘narasi besar’ yang ingin kita bangun dalam konteks Indonesia hari ini, berdasarkan harapan dan tantangan yang dimilikinya. Tidak perlu membuat Sumpah Pemuda yang baru, tentu saja, namun kita bisa membuat semacam extension (kepanjangan) dari tiga butir penting dalam sumpah pemuda itu.

Pertama, kita perlu meneguhkan kembali komitmen kita terhadap NKRI. Dengan menyadari sepenuhnya bahwa Indonesia merupakan negara dengan kodrat keragaman dan keberagaman yang takterelakkan. Sebagai pemuda, kita perlu berperan aktif terus memelihara harmoni dan persatuannya.

Kedua, kehidupan berbangsa kita wajib dijalankan di atas sebuah konsensus bahwa dalam buku bernama Indonesia ini, sejak halaman pertama kita adalah saudara sebangsa-senegara. Identitas-identitas lain yang bersifat melekat pada profil personal atau kelompok hanya lampiran atau catatan kaki belaka, yang haram hukumnya memecah-belah persatuan Indonesia. Hanya dengan kesadaran semacam inilah maka kerja kolaboratif atas nama kemajuan bangsa dan negara kelak bisa dilakukan. 

Ketiga, kepedulian terhadap budaya dan bahasa Indonesia adalah syarat untuk menjaga kehormatan bangsa ini. Tanpa budaya dan bahasa Indonesia, identitas kita sebagai sebuah bangsa akan kehilangan bentuk. Pemudalah yang harus menjaga budaya dan bahasa ini, sebab mereka bukan hanya hidup di masa kini, tetapi sekaligus mewarisi masa depan.

Dengan tiga gagasan utama itulah, di level praktis, para pemuda saat ini harus mengkolaborasikan narasi-narasi kecil yang mereka kerjakan untuk sebanyak-banyaknya, seluas-luasnya, sebesar-besarnya manfaat bagi seluruh rakyat Indonesia. Para pendidik perlu berkolaborasi dengan pelaku teknologi, para petani menjalin kerjasama dengan ilmuwan, para penulis menggerakkan literasi dibantu para pebisnis, dan seterusnya.

Saya kira, itulah gagasan Sumpah Pemuda masa kini yang perlu kita gaungkan dan realisasikan saat ini.

Sebuah Tawaran  

Akhirnya, di sinilah barangkali rumusan komitmen pemuda Indonesia yang dibacakan sekelompok pemuda di Istana Bogor bersama Presiden Jokowi pada 28 Oktober 2017 bisa menemukan urgensinya. Jika sulit disepakati sebagai sebuah konsensus bersama, paling tidak, komitmen itu bisa dilihat sebagai sebuah tawaran untuk menentukan lagi titik tolak dan titik tuju kita sebagai bangsa. Para pemuda memulainya sejak dari level imajinasi, narasi, hingga kolaborasi. 

Kami Pemuda Indonesia,

Di atas segala perbedaan, kami bersyukur dan bersatu untuk menjaga keragaman dan kekayaan tanah air Indonesia.

Dengan semangat dan rasa bangga sebagai bangsa Indonesia, kami bersumpah menjaga dan mempertahankan persatuan Indonesia.

Atas nama rasa cinta pada sejarah dan masa depan Indonesia, kami berjuang untuk menjunjung tinggi budaya dan bahasa Indonesia.

Untuk kemajuan dan kehormatan Indonesia, kami bekerja sekuat tenaga untuk berkarya memberikan yang terbaik bagi seluruh rakyat Indonesia.

Kami pemuda Indonesia,

Kita Tidak Sama, Kita Kerja Sama.

 

Jakarta, 28 Oktober 2017

FAHD PAHDEPIE

  • view 501