Pribumi dan Non-Pribumi di Mata Bang Tato

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Renungan
dipublikasikan 18 Oktober 2017
Pribumi dan Non-Pribumi di Mata Bang Tato

Sebelum Anda terlanjur jauh membaca, izinkan saya memberikan sebuah klarifikasi di awal: Tulisan ini sama sekali tak akan membahas soal pidato gubernur DKI di malam inagurasinya. Juga tak akan mempersoalkan tepat atau tidaknya penggunaan kata ‘pribumi’ dalam pidato politik Anies Baswedan itu. Biarlah itu jadi bahasan para cerdik pandai. Saya tak ikut ambil bagian… 

Tulisan singkat ini saya buat semata-mata karena kata ‘pribumi’ (dan non-pribumi) menyelinap ke dalam hiruk pikuk percakapan keseharian kita belakangan ini, baik di warung kopi atau di media sosial. Penyebabnya tentu Anda sudah tahu. Namun, buat saya pribadi, riuh rendah perdebatan tentang pribumi-non-pribumi ini segera mengingatkan kepada Bang Tato. Untuk Anda yang kerap membaca tulisan saya, mungkin sudah tahu siapa Bang Tato ini. Yang belum, nanti saya perkenalkan.

Suatu hari, saat Pilkada DKI Jakarta sedang memanas, Bang Tato pernah menulis begini di status Facebooknya: “Kalau sampai meletus kerusuhan kayak 98, yang bakal gue bakar pertama kali adalah toko-toko para penjajah itu!” Dengan mudah Anda bisa menduga arah dan maksud status ini. Siapa para pemilik toko yang dimaksud? Mengapa Bang Tato mengasumsikan para pemilik toko itu sebagai penjajah? Siapa yang dijajah? Dan seterusnya…

Sebagian dari Anda barangkali menganggap status itu biasa saja. Saat itu, toh banyak yang menuliskannya. Namun, tunggu sampai saya memperkenalkan kepada Anda siapa Bang Tato.

Singkatnya, Bang Tato adalah seorang preman insyaf yang memilih jalan ‘hijrah’ untuk meninggalkan masa lalunya yang keras dan gelap. Nama aslinya Lalan Maulana. Untuk memberikan gambaran cepat kepada Anda seperti apa masa lalu Lalan, banyangkan saja seorang preman dengan masa lalu penuh catatan kekerasan (dan sesekali kriminal). Dipanggil Bang Tato, karena banyak tato di sekujur tubuhnya.

Yang menarik adalah saat ia memutuskan untuk berhijrah… Berubah untuk menjadi individu yang lebih baik. Kata Bang Tato, kalau ada hal yang bisa menghapus masa lalunya, apapun akan ia kerjakan. Apapun. Wajar kalau para peneliti dan aktivis radikalisme atau terorisme khawatir pada orang-orang seperti Bang Tato ini. Jangan sampai ‘hijrah’-nya dimanfaatkan jaringan atau kelompok tertentu untuk melakukan brainwashing tentang jihad yang salah kaprah.

Dan memang di sanalah masalahnya. Saat orang seperti Bang Tato berhijrah, seringkali mereka justru pindah dari satu ekstrem ke ekstrem yang lain, tanpa dibarengi proses transisi yang cukup. Diperparah dengan persepsinya tantang baik-buruk yang cenderung hitam-putih.

Maka, bacalah status Bang Tato tadi sekali lagi. Buat orang dengan catatan tindakan kekerasan panjang di masa lalunya, dengan cara berpikir yang hitam-putih, muslim-kafir, pribumi-non-pribumi, kawan-musuh, dibumbui dengan semangatnya untuk membela agama di masa-masa hijrahnya, status itu adalah sebuah ancaman serius!

Bang Tato adalah contoh nyata tentang betapa orang-orang dengan cara berpikir yang dipenuhi prasangka dan stereotipe masing banyak di sekeliling kita. Sekaligus betapa bahayanya cara berpikir semacam itu jika diletakkan dalam konteks tertentu… Apalagi diperparah dengan tansi politik, kesenjangan ekonomi dan lainnya. Bukan hanya percakapan media sosial yang akan memanas, konflik di dunia nyata juga mungkin meletus. 

Syukurlah Bang Tato kini sudah berubah. Pengalaman nyata bersinggungan dengan yang ‘berebeda’ membuat cara pandangnya berubah. Termasuk terhadap apa yang sebelumnya dia sebuat sebagai ‘para pemilik toko penjajah’ itu. Saya menceritakan perubahan persepsi dan sikap Bang Tato ini dalam sebuah novel, berdasarkan kisah nyata, yang saya beri judul ‘Hijrah Bang Tato’. Terbit bulan depan di Bentang Pustaka.

Buat Bang Tato, hijrah bukan sesuatu yang mudah. Meski mulia, karena ia ingin hidup lebih tenang dan memberikan rejeki yang halal untuk anak istrinya, hijrah ini membawanya pada situasi yang begitu berat. Biasa mendapatkan uang gampang dari ‘malak’ dan ‘nato’ (mentato orang, karena ia juga seorang tattoo artist), setelah hijrah ia memilih meninggalkan semua itu. Tanpa skill yang cukup, sekaligus terjebak dalam stigma masyarakat tentang orang bertato, ia jelas susah mendapatkan pekerjaan. Hijrah membuatnya jatuh miskin…

Perjalanan waktu membawanya bertemu dengan saya. Lebih setahun lalu, saya mendorongnya untuk menjadi seorang barista dan mempercayainya untuk mengelola sebuah barbershop yang dilengkapi kafe. Kini, sudah hampir setahun Lalan berada di sana, menjadi orang pertama yang menyapa setiap pelanggan yang datang dan menjadi orang terakhir yang melepas para pelanggan itu pergi.

Menariknya, barbercafe yang dikelola Lalan ini terletak di sebuah kawasan yang banyak dihuni oleh orang yang mungkin setahun lalu ia sebut sebagai ‘non-pribumi’, mereka yang pernah dilabeli Lalan sebagai ‘penjajah’. Saya ingat suatu kali ia pernah berkomentar, “Dulu saya kira mereka itu menjajah kita. Ternyata setelah banyak ngobrol dan berinteraksi dengan mereka, mereka itu sebenarnya sama aja kayak kita, ya? Punya masalah yang mungkin sama. Punya kegelisahan. Ketakutan. Sama aja kayak kita… Nggak sedikit juga yang susah.” Katanya.

Dari perjalanan dan interaksi saya dengan Bang Tato, saya banyak belajar. Tentang perbedaan-perbedaan di sekeliling kita, misalnya perbedaan agama, etnis, atau lainnya, mungkin tak bisa kita hindari atau sergamkan. Namun, cara pandang kita terhadap perbedaan-perbedaan itu yang bisa diubah. Ketika kita tidak mengenal satu sama lain, saat kita sibuk dengan asumsi masing-masing, di sanalah masalah bermula dan potensi konflik akan muncul. Prasangka dan stereotipe membuat tembok pemisah di antara kita hanya semakin tebal saja… Saat tembok makin tebal, kita makin tak mengenal satu sama lain. 

Melalui Hijrah Bang Tato saya ingin mengajak kita semua untuk berpikir, bersikap dan bertindak melampaui label-label dan stereotipe yang ada. Bang Tato sendiri adalah orang yang berjuang dengan stereotipe bahkan stigma yang disematkan orang terhadap dirinya… Banyak masyarakat hanya melihatnya dari penampilan fisik saja. Bahwa yang bertato bukan orang baik-baik, sekalipun sebenarnya Lalan sudah berhijrah. Namun, di saat bersamaan, ia juga harus berjuang melawan cara berpikirnya sendiri terhadap dunia luar, terhadap orang lain, yang terlanjur dipenuhi dengan stereotipe yang salah. Termasuk di antaranya kepada mereka yang ia sebut sebagai non-pribumi penjajah tadi.

Beberapa bulan lalu, setelah banyak perjalanan dan interaksi dengan aneka perbedaan ia lalui, tentang rencananya ikut terlibat dalam kerusuhan melawan para pengusaha pertokoan yang berbeda etnis dengannya, kepada saya Bang Tato mengatakan sesuatu yang berbeda, “Ternyata dulu saya salah. Kita mungkin berbeda. Tetapi kita bersaudara. Setidaknya sebagai sesama manusia…

Perjalanan seperti apa yang sebenarnya sudah dilalui Lalan? Apa yang mengubah Bang Tato? Apa yang memengaruhi jalan pikirannya? Saya akan menceritakan semuanya dalam Hijrah Bang Tato.

  

Jakarta, 18 Oktober 2017

FAHD PAHDEPIE