Jangan Jerumuskan Ustadz yang Kita Sayangi

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Agama
dipublikasikan 20 September 2017
Jangan Jerumuskan Ustadz yang Kita Sayangi

Saya menyambut gembira dengan kehadiran para ustadz yang memiliki ilmu yang luas dengan pemahaman yang mendalam pada beberapa hal yang spesifik.

Video-video kajian mereka yang tersebar di berbagai kanal media sosial pun memberikan banyak pencerahan dan pengetahuan. Namun, pretensi para ustad untuk menjawab 'semua jenis persoalan' yang diajukan jamaah menurut saya perlu dikurangi. 

Para ustadz harus berani membatasi diri pada bidang dan bagian apa ia bisa menjawab persoalan-persoalan yang diajukan jamaahnya... jika tidak relevan,abaikan saja pertanyaannya. Jangan memaksakan diri.

Belakangan, menurut saya kecenderungan untuk menanyakan apa saja kepada para ustadz jadi agak mengkhawatirkan. Segala hal ditanyakan apakah ada hukumnya atau tidak, bagaimana status kehalalan atau keharamannya, hingga bagaimana cara melakukan ini atau itu.

Pernah saya melihat tayangan sebuah kajian, si penanya tampak begitu gelisah, dan hal yang ditanyakan betul-betul mencengangkan: Usatdz, apa hukum naik angkot? Apakah naik angkot itu halal atau haram?

Saya bisa menebak arah pertanyaan mahasiswa yang gelisah ini. Ia barangkali punya kekhawatiran berliebihan bila, katakanlah, bersentuhan atau duduk rapat dengan penumpang perempuan yang bukan muhrimnya. Namun, bagi saya pertanyaan itu konyol, Islam jadi terasa begitu kolot, kaku dan gagap menghadapi dinamika zaman yang melingkupinya. Untunglah Sang Ustadz memilih menjawab pertanyaan itu dengan diplomatis dan setengah berkelakar: Bahwa masalah ada di sang mahasiswa, bukan di angkotnya. 

Bayangkan jika ustadz itu memilih menjawab dengan pendekatan yang lebih fiqhiyah, dengan tendensi memberi fatwa. Salah-salah, jawabannya justru bisa memunculkan wajah dan nuansa Islam yang keliru—meskipun katakanlah jawabannya secara fiqh bisa punya nilai kebenarannya juga. Toh ijtihad bila benar mendapatkan dua pahala dan bila salah mendapatkan satu pahala. Masalahnya, apakah ilmu dan kapasitas semua ustadz sudah sekelas mujtahid? 

Ingat kasus ustadz yang berbicara masalah kesehatan tetapi salah secara ilmu kedokteran, meskipun semangat sang ustadz baik hendak mengatakan bahwa ajaran Islam juga memuat pesan-pesan yang memiliki kebenaran saitifik? Kita sepakat, tentu yang salah bukan Islamnya, tetapi pemahaman sang ustadz yang belum sempurna dan penyampaiannya yang keselip lidah.

Ingat seorang dai yang menyatakan ada ‘pesta seks’ di surga setelah salah memahami makna dari hadits ihwal bidadari-bidadari surga? Yang salah tentu bukan haditsnya, tetapi bagaimana hadits itu dipahami secara benar dan sesuai. Bukan dengan penafsiran yang mengikuti hawa nafsu belaka disertai retorika yang sekadar ingin mencari perhatian saja.

Munculnya para ustadz yang berilmu mumpuni dan kajiannya selalu dipenuhi jamaah barangkali membuat sebagian ‘ustadz’ lain harus berpikir keras untuk tampil lebih menarik, lebih beda, dan kalau bisa lebih digandrungi. Ada masalah besar di sini.

Kemunculan ustadz-ustadz baru yang ‘asal beda’ menjadi fenomena yang menggelikan. Dengan semangat marketing ‘lebih baik sedikit lebih beda daripada sedikit lebih baik’ maka beberapa ustadz berlomba-lomba menemukan diferensiasi masing-masing. Mereka pun tampil di depan publik dengan nama-nama yang membuat kita geleng-geleng kepala. Jangan sampai nanti muncul Ustadz Maju Mundur Cantik untuk menyaingi Ustadz Kece Badai, atau Ustadz Ungu untuk menyaingi Ustadz Orange, bahkan Ustadz Gareng-Dawala untuk mengimbangi kehadiran Ustadz Cepot?

Sudah saatnya kita menyelamatkan para ustadz ini dengan tiga cara. Pertama, hargailah para ustadz karena kapasitas keilmuannya yang mumpuni—bukan karena penampilan atau selebrasinya di ruang publik. Jika kita memberi ruang untuk lebih menghargai ustadz karena penampilannya, karena popularitasnya, karena unsur hiburan dalam dakwahnya, jangan salahkan para ustadz juga jika ada di antara mereka yang berlomba-lomba mengejar semua itu. 

Kedua, jangan menganggap semua ustadz memiliki kapasitas keilmuan yang sama. Sebagian dari para ustadz yang kita kenal boleh jadi punya kapasitas keilmuan yang mumpuni, dididik dan ditempa bertahun-tahun untuk mendalami ilmu agama bersama para syaikh di kampus atau institusi-institusi pendidikan terkemuka. Mereka boleh jadi ‘punya ilmunya’ untuk membahas dan menjawab pertanyaan seputar tafsir, hadits, atau problem-problem fiqh yang kompleks.

Tetapi, kita juga harus ingat bahwa ada sebagian ustadz lain yang tidak memiliki posisi keilmuan yang mendalam. Misalnya karena mereka memang fokus pada ilmu tahfidz dan qiraah Quran saja, atau bahkan ada beberapa ustadz yang memang berposisi sebagai da’i atau penyampai saja—bukan ulama apalagi mufti (pemberi fatwa). Di sini, tentu saya menggunakan kata ‘ustadz’ dalam konteks Bahasa Indonesia, bukan dalam pengertian bahasa Arab atau gelar tertentu yang mensyaratkan level keilmuan tertentu. 

Ketiga, kita harus mengerti bahwa para ustadz ini bukan ‘mesin pembuat fatwa’. Untuk kita yang belajar kepada mereka, kita harus bisa menahan diri untuk tidak menanyakan segala hal kepada para ustadz. Juga memberi ruang toleransi bahwa para ustadz ini memiliki keterbatasan tertentu dalam keilmuan dan pemahamannya. Tentu mereka tidak mengetahui segala sesuatu.

Apalagi jika niat bertanya hanya untuk menguji ilmu sang ustadz, atau membanding-bandingkan jawaban satu ustadz dengan ustadz lain (fatwa shopping).

Untuk para ustadz, mereka juga harus berani membatasi diri dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan jamaah. Jangan memaksakan diri. Lebih baik mengatakan tidak tahu daripada memaksakan diri menjawab sesuatu. Pernah dalam suatu masa, Imam Malik mendapatkan 48 pertanyaan yang diajukan kepadanya. Dan tahukan Anda? Terhadap 32 pertanyaan di antara yang 48 itu, Imam Malik menyatakan keterbatasan pengetahuannya dengan memberikan jawaban pendek yang penuh kerendahhatian, “La adri.” Saya tidak tahu.

Sebelum mengakhiri tulisan singkat ini, sekali lagi saya ingin katakan: Saya menyambut gembira dengan kehadiran para ustadz yang memiliki ilmu yang luas dengan pemahaman yang mendalam pada beberapa hal yang spesifik.

Namun, kita perlu melindungi mereka. Jangan jerumuskan ustadz-ustadz yang kita sayangi ini dengan hal-hal yang tidak perlu—termasuk pertanyaan-pertanyaan yang bisa membuat mereka terselip lidah atau bermain-main di wilayah abu-abu yang tak pasti mereka tahu.

  

Pamulang, 20 September 2017

FAHD PAHDEPIE