Rindu Terbentang dari Cilengkrang ke Makkah Al-Mukaramah

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Inspiratif
dipublikasikan 29 Agustus 2017
Rindu Terbentang dari Cilengkrang ke Makkah Al-Mukaramah

Minggu lalu, ayah saya bertolak ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Tahun ini, ia bertugas menjadi pembimbing ibadah untuk beberapa rombongan. Dari jauh hari, sebenarnya kami anak-anaknya sudah bersepakat untuk mengantar ayah. Namun, dua hari sebelum keberangkatan Ayah menelepon kami satu per satu, termasuk saya—

Teu kedah ka Bandung, bilih carape. Du’akeun weh.” Katanya, tak perlu ke Bandung, takut kami capek. Mohon doanya saja.

Di telepon, saya berusaha meyakinkan Ayah bahwa jarak Bandung – Jakarta tak terlalu jauh. Bukan masalah besar kalau kami perlu ke Bandung untuk mengantar kepergiannya. “Wios. Engke weh ka Bandung lebaran,” tak apa, nanti saja ke Bandungnya saat lebaran haji, katanya, “Biar Ii nggak kesepian…”

“Kalau gitu bagaimana kalau bertemu di Bandara?” Tanya saya lagi.

Namun ayah tetap menolak. Katanya ayah harus mendampingi jamaah, dan memastikan semuanya baik-baik saja. “Bisi sesah kedah kaluar heula mah, bilih teu kabujeng…” katanya, ia khawatir akan kesulitan jika harus keluar masuk terminal, takut waktunya tak cukup. “Du’akeun weh…” Berkali-kali ia minta didoakan saja. Tentu saja kami anak-anaknya akan mendoakannya. 

Begitulah Ayah kami. Ia selalu berpikir agar kami anak-anaknya tak kecapekan, tak kerepotan, dan tak terbebani dengan hal-hal yang hanya menyangkut dirinya saja. Akhirnya, keberangkatan ayah untuk menjadi pembimbing ibadah haji tahun ini dilakukan dengan cara yang sangat sederhana… Pagi-pagi, masing-masing anak-anaknya melakukan video call. Kami saling ‘menitipkan’, termasuk saling menitip doa. 

Di video call pagi itu, saya sempat bertanya pada Ii, setengah bercanda menanyakan apakah ibu saya tak mau ikut, “Ii teu hoyong ngiring?” 

Sambil tersenyum Ii menjawab, “Ah wios, engke weh. Nu ayeuna mah ayahna tugas.” Katanya, nanti saja, sekarang kan ayah berangkat untuk bertugas.

Meski tersirat, saya masih bisa menangkap sedikit kesedihan di wajah Ii. Bagaimanapun sebagai seorang istri yang akan ditinggalkan suaminya untuk waktu yang cukup lama, apalagi ke tanah suci, pasti ada keinginan di hati Ii untuk bisa ikut bersama… Namun, di saat yang sama, ia pun tahu tak ingin merepotkan suaminya ketika mengerjakan tugas. 

Hari itu, ayah di antar oleh adik ipar saya menuju titik keberangkatan di Bandung. Setelah itu, praktis kami hanya berkomunikasi di grup WhatsApp keluarga saja. Di awal-awal, ayah selalu memberikan update sedang apa dan sudah di mana… “Mau boarding,” Tulisnya suatu ketika. Lalu, “Alhamdulillah sudah di Jeddah…” Lalu, “Nitip Ii, nya…” Ia meminta kami anak-anaknya menengok dan menjaga Ii. Lalu setelah itu menghilang untuk dua hari… Mungkin ayah belum mengaktifkan paket data Internet di sana, pikir saya.

Dan kamipun kembali larut dalam kesibukan masing-masing…

Sampai suatu sore, Ii mengirimkan pesan yang begitu mengejutkan di grup WhatsApp keluarga. “Punteeeen… Pangnaekeun galon, seep eueut.” Tulisnya, maaf tolong naikkan galon, kehabisan minum. Diakhiri emoticon menangis di ujungnya.

Membaca pesan itu, seketika grup WhatsApp keluarga kami jadi ramai. Adik laki-laki saya menawarkan diri untuk segera ke Bandung sore itu juga dari Depok. Istri saya terbaca begitu merasa bersalah. Adik-adik saya yang lain segera mencarikan solusi mulai dari hendak menelepon tukang galon dekat rumah, mengirim air minum kemasan yang siap minum, membelikan dispenser baru yang tak perlu mengangkat galon, dan lainnya.

Tapi Ii justru menolak, “Ah teu kedah,” Tak usah, katanya. “Engke weh pami aya Pak RT ngalangkung bade nyuhunkeun tulung pangangkatkeun.” Nanti saja kalau Pak RT lewat, ia mau minta tolong untuk mengangkat galonnya.

“Sekarang udah minum?” Tanya adik perempuan saya.

“Alhamdulillah, baru buka puasa,” jawab Ii. Waktu itu maghrib.

Lalu Ii mengirimkan foto dua gelas tupperware yang diisi air minum, “Ayeuna mah naheur weh,” katanya, sekarang rebus air dulu saja, sambil diakhiri tanda senyum di ujungnya.

Kami tahu, ‘aksi demonstrasi’ Ii ini setengah serius dan setengah bercanda. Ia sedang ingin menunjukkan sesuatu… Sebenarnya bukan bahwa ia butuh sekali air minum, toh banyak solusi lain yang bisa dilakukan untuk soal minum ini. Memang sih, biasanya ada Ujang, yang stand by di rumah kami untuk membantu segala keperluan Ayah dan Ii. Sayangnya, sekarang Ujang juga sedang tidak ada di rumah. Karena dikuliahkan oleh Ayah dan Ii, kebetulan di bulan yang sama dengan keberangkatan Ayah ke Makkah, Ujang juga sedang giliran KKN. Namun, meski tak ada Ujang, sebetulnya solusi lain masih tersedia…

Tampaknya Ii ingin menunjukkan betapa kangen Ia kepada Ayah. Ayah yang biasanya selalu ada di rumah dan memenuhi semua kebutuhan Ii, sekarang sedang tidak ada. Dan itu begitu berefek serius pada keseharian Ii… Bahkan untuk urusan air minum yang kecil itu.

Malam itu, di grup WhatsApp kami bernostalgia tentang bagaimana dulu Ii begitu bersedih ketika Ayah bertugas membimbing haji pertama kali di tahun 1999. Waktu itu ayah juga berangkat sendirian, untuk pertama kali ia ke sana. Karena satu dan lain hal,  Ii taj bisa diajak, rasanya pernah saya ceritakan juga, Ii kecewa luar biasa kepada Ayah karena sebelumnya ayah berjanji hanya akan ke tanah suci bersama Ii… Waktu itu Ii sampai menulis surat yang diselipkan di koper. Ketika di Madinah ayah membaca surat itu, hatinya hancur berkeping-keping oleh rasa bersalah.

“Wah kalau ayah baca curhat galon ini, pasti sedih.” Ujar adik saya.

“Iya,” yang lain menimpali.

Ii mengirim emoticon tertawa. 

Kapungkur mah ayah lééh ku surat, ayeuna mah bakal ku galon.” Tulis saya, dulu ayah leleh karena surat Ii, sekarang ia akan leleh karena masalah galon. Saya memasng emoticon tertawa juga.

Malam itu grup whatsapp keluarga kami menjadi riuh. Kami semua berusaha menghibur Ii meski dari jarak jauh. Di rumah, ada adik perempuan saya yang bungsu yang terus berusaha menggambarkan betapa menyedihkannya sekarang suasana di rumah… Tentu dilebih-lebihkan. “Ah, dimarukena weh ti enjing-enjing da tariris,” katanya, dari pagi seharian ini ia dan Ii terus memakai mukena karena kedinginan. Tetapi ia mengakhiri kalimat itu dengan emoticon tertawa… Lalu mengirim foto keduanya memakai mukena.

Kami semua tertawa.

Waktu berlalu, satu jam, dua jam, keesokan harinya grup WhatsApp itu sepi kembali. Sampai kemarin sore, ketika Ayah mengirim sebuah emoticon saja… Emoticon menangis.

Lalu mengirim foto beberapa tahun lalu ketika Ayah dan Ii berhaji berdua. Katanya, “Mudah-mudahan nanti bisa ke Masjidil Haram lagi sama Ii…”

Tersebab tragedi galon... Hari itu, saya tahu, cinta, doa dan rindu terbentang dari Cilengkrang ke Makkah Al-Mukaramah.

Demikianlah cinta ayah dan ibu saya, sederhana namun begitu dalam: Seperti sepasang suami istri di usianya menjelang 60 tahun, sang suami mengangkat galon untuk mengganti air di dispenser sementara istrinya menunggu sambil tersenyum dengan gelas kosong di tangannya… Semoga kami semua mewarisi cinta seindah itu.  

Tahun lalu, saat kami sekeluarga menunaikan ibadah umrah bersama. 

  

Jakarta, 29 Agustus 2017

FAHD PAHDEPIE

  • view 886