Semua Akan ke Pegadaian Pada Waktunya

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Inspiratif
dipublikasikan 23 Agustus 2017
Semua Akan ke Pegadaian Pada Waktunya

Mungkin semua suami itu sama. Tapi, hanya mereka yang pemberani yang pergi ke pegadaian!

Saya ingat nasihat itu saya katakan kepada seorang junior yang hendak menikah. Sebelum dia bertanya dengan penuh keheranan, “Lho, kenapa, Mas?”

Saya hanya tersenyum. “Pada saatnya kamu akan mengerti. Mulai sekarang, cari tahu aja bagaimana caranya menjadi nasabah pegadaian.” Jawab saya.

Junior saya itu tertawa. Sambil berkilah, “Nggak segitunya kali, Mas.” Ujarnya.

Beberapa bulan kemudian, beberapa bulan setelah pernikahannya juga, ia kembali mendatangi saya dengan wajah yang kusut. Saya memintanya bercerita ketika ia mulai curhat tentang ini-itu, tentang betapa banyak pengeluaran dalam rumah tangga yang tidak ia antisipasi sebelumnya, tentang gengsi sebagai seorang suami, tentang harga diri seorang anak yang tak ingin membebani lagi ornagtuanya, tentang apa saja hingga akhirnya pembicaraan itu berakhir pada satu permohonan pribadi… “Mungkin, Mas Fahd bisa bantu?” Tanyanya.

“Pergilah ke pegadaian. Belajarlah menyelesaikan masalah tanpa masalah.” Jawab saya.

Mendengar apa yang saya katakan, ia terkaget, barangkali karena teringat nasihat saya beberapa bulan yang lalu. “Jadi, Mas Fahd serius?”

Saya mengangguk. “Serius.” Ujar saya. “Semua suami itu sama. Dalam pernikahan, kita akan sampai pada persoalan-persoalan seperti ini, saat segala sesuatu berjalan sedikit di luar rencana dan kendali kita. Sementara tagihan listrik harus tetap dibayar, kompor tak mungkin dibuat mati, dan kita tak tega melihat istri menggulung kemasan pasta gigi lebih jauh lagi. Itulah sebabnya, hanya mereka yang pemberani yang datang ke rumah gadai.” Saya tertawa.

Teman saya tadi terdiam. “Dulu, Mas Fahd juga gitu?”

Saya mengangguk. “Sebelum semua ini,” Tangan saya menunjukkan sebuah tempat usaha yang baru saya renovasi, ia tahu ini usaha saya yang kesekian, waktu itu ia menemui saya di sana, “Segalanya bermula dari mas kawin saya untuk Rizqa yang bolak-balik saya sekolahkan ke Pegadaian. Hingga jadi profesor doktor!” Canda saya.

Teman saya nyengir. “Oh gitu, ya, Mas?” Ujarnya, “Tapi malu ngomong ke istri kalau mau pinjam perhiasan mas kawin untuk digadaikan.”

“Nah, itulah sebabnya ini hanya untuk mereka yang pemberani.”

Junior saya tadi mengangguk-angguk.

“Saat kita mendatangi istri kita untuk meminta bantuannya, termasuk dengan meminjam mas kawin yang kita berikan kepadanya untuk kita gadaikan sebentar, di sana kita sedang melatih diri melembutkan ego kita sebagai seorang laki-laki. Di sana kita membuat sebuah pengakuan bahwa kita juga punya sisi lemah yang tak bisa kita tawar. Bahwa kita pada saatnya memerlukan bantuan istri kita untuk membantu menghadapi hal-hal yang tak bisa kita selesaikan sendirian saja.

“Saat kita meminjam mas kawinnya, misalnya, kita juga sedang menguji apakah ia rela menyerahkan hal terbaik yang dimilikinya, yang begitu ia sayangi, untuk membantu meringankan beban kita dan berjuang bersama-sama. Jika ia mengangguk setuju, jika ia mengizinkan, lihatlah di sana terdapat begitu besar cintanya yang tulis. Cinta yang penuh kerendahatian dan pengorbanan. Cinta yang luar biasa.

“Kamu mungkin bisa memintanya pergi ke pegadaian sendirian, tetapi kamu tak akan tega membuatnya berjalan sendirian ke sana, kan? Pergilah ke sana untuk mengantarkan perhiasan berharga itu dengan tanganmu sendiri, sehingga kamu tahu betapa berharganya benda itu. Dan saat kamu menyerahkannya kepada petugas pegadaian, di sanalah momen paling penting, kamu akan membuat semacam janji pada dirimu sendiri bahwa suatu hari kamu akan menebusnya lagi hingga terbayar semua rasa sedihmu saat itu.”

“Mbak Rizqa nggak marah, Mas?” Tanya teman saya tadi.

Saya menggeleng. “Setelah pengalaman pertama, sering bahkan dia yang menawarkan bantuan semacam itu. Selanjutnya, kita bahu membahu untuk berkal-kali mengantarkan dan menjemput mas kawin itu dari tempat sekolahnya.” Cerita saya.

Teman saya tadi tertawa. “Oh, gitu ya.” Ia mengangguk-angguk. Telunjuknya memainkan janggut tipisnya.

“Tahu nggak? Suatu hari, saya berkumpul dengan sejumlah senior yang sudah sukses di bidangnya masing-masing. Ada yang direktur di perusahaan besar, ada yang calon profesor di perguruan tinggi, bahkan beberapa yang nama dan wajahnya sering kita lihat di televisi atau media massa. Entah bagaimana waktu itu mereka bicara tentang bagaimana mereka mengelola aset mereka dan sampailah obrolan itu pada soal pegadaian…” Teman saya masih memerhatikan, “Ternyata mereka semua punya pengalaman yang sama tentang menitipkan barang di pegadaian, untuk menyambung hidup yang kadang-kadang tak baik-baik saja!” Sambung saya.

Wajah teman saya yang tadinya datang begitu kusut, kini tampak lebih bersemangat dan penuh energi. Tampaknya ia melihat satu kenyataan yang menggelikan tentang pegadaian ini.

Hari-hari ini, setiap kali saya dan Rizqa menyetir atau bepergian dan kebetulan melewati sebuah tempat bercat hijau dengan logo pegadaian, kami biasanya tersenyum atau tertawa, sambil bercerita satu sama lain tentang bagaimana degdegannya, rikuhnya, malunya, penuh harapnya, dan segala yang kami rasakan ketika membuka pintu tempat itu…

“Paling males kalau pas antre!” Ujar Rizqa.

Saya tertawa. “Aku biasanya nunggu dulu di luar. Pas kosong baru masuk dan langsung ke juru taksir!”

Rizqa tertawa. “Pokoknya berapa aja. Yang penting berhasil!” Ah, betapa tega jika suatu hari saya bisa mengkhianati perempuan seindah ini?

Kami tertawa. Kadang hidup ini berat. Kadang hidup ini lucu. Kadang harapan harus disambung di pegadaian! Namun, percayalah, selama kita punya banyak cinta untuk menjalaninya: Semua akan ke pegadaian (eh, indah) pada waktunya.

Jangan lupa pilih yang syariah! Hehehe



Jakarta, 23 Agustus 2017

FAHD PAHDEPIE