Dari Ramalan Seorang Istri

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Inspiratif
dipublikasikan 22 Agustus 2017
Dari Ramalan Seorang Istri

Februari 2010, dua bulan setelah pernikahan, di sebuah rumah kontrakan kecil di daerah Muncul, Serpong, saya ingat waktu itu hanya punya uang Rp. 20.000 saja di saku celana. Tabungan di rekening tinggal Rp. 130.000,- lagi dan tak bisa ditarik dari ATM. Sore itu saya pulang kerja dengan langkah gontai, berstatus CPNS dengan gaji hanya dibayarkan 80% saja sementara tanggal gajian masih seminggu lagi.

Di rumah, istri saya, Rizqa, memasak tempe goreng dan sayur bayam. Setelah makan, sambil duduk di atas karpet kecil di tengah rumah kontrakan kami dengan perabotan yang kosong, saya terus terdiam sambil memendam perasaan seorang suami yang kalah—individu yang tak ragu apakah jalan yang saya ambil adalah pilihan yang tepat.

Usia saya 23 tahun waktu itu, seorang pemuda keras kepala dengan ego yang begitu besar, yang dua bulan sebelumnya merasa yakin dan mampu mempersunting gadis yang dicintainya. Usianya masih 22.

“Aku punya kabar baik,” ujar Rizqa waktu itu. Saya menoleh ke arahnya yang sedang tersenyum. Melontarkan kata apa hanya melalui tatapan mata saja. “Aku menikahimu karena aku tahu suatu hari kamu akan sukses. Kamu bisa jadi menteri atau bahkan presiden? Apapun itu, aku percaya kamu akan jadi orang yang didengar banyak orang ketika berbicara dan bepergian keliling dunia.” Sambung Rizqa.

Mendengar semua itu, saya hanya terdiam. Lalu balas tersenyum. Saya tak tahu sejak kapan Rizqa belajar meramal. Tetapi bukan ‘ramalan’-nya betul yang penting. Kata-kata yang dilontarkannya langsung masuk ke dalam diri saya dan tinggal di dalam pikiran dan perasaan saya untuk waktu yang lama.

Sekarang bayangkan, waktu itu saya hanya seorang pemuda yang merasa hidup memaksanya bekerja terlalu berat dan dia mulai berpikir untuk tidak sanggup melakukannya lagi. Tetapi, ada seorang perempuan yang rela saya bawa hidup susah, mengatakan kepada saya bahwa suatu saat saya akan berbicara pada banyak orang, bahkan keliling dunia?

Baiklah, barangkali Rizqa memang bisa meramal dan kini kata-katanya terbukti: Kini saya sudah berbicara kepada begitu banyak orang, jutaan orang, melalui tulisan maupun seminar-seminar saya. Dan saya sudah bepergian ke banyak negara untuk melakukan berbagai hal yang tak bisa saya bayangkan sebelumnya.

Namun, bagi saya bukan itu yang terpenting, buka tentang pencapaian apa saja yang sudah saya dapatkan. Yang terpenting dan paling berharga buat saya adalah apa yang Rizqa katakan kepada saya lebih tujuh tahun yang lalu, semua yang ia ungkapkan kepada saya waktu itu, telah menjadi navigasi yang memandu saya untuk terus bergerak dan melangkah. Kata-katanya bukan hanya menyemangati saya, tetapi sekaligus melindungi saya dari rasa kalah dan putus asa.

Dari semua yang saya capai sejauh ini, dari semua yang sudah saya dapatkan dan bisa saya kumpulkan ke dalam diri dan hidup saya, semua selalu bermula dari sebuah kegagalan dan kekalahan-kekalahan besar dalam hidup saya. Barangkali memang orang harus gagal secara luar biasa, untuk bisa bertindak dan bergerak mengerahkan apapun yang dimilikinya agar bisa keluar dari kegagalan itu.

Maka, jangan takut untuk gagal. Jangan menyerah menghadapi kegagalan dan kekalahan besar dalam hidup ini. Ada sebuah tes IQ kuno yang dimaksudkan untuk menguji kecerdasan kita untuk bisa menarik garis melalui sembilan buah titik dalam tiga kolom tanpa sekalipun mengangkat penanya… Satu-satunya cara untuk menyelesaikan teka-teki itu adalah dengan cara menarik garis sampai keluar, melewati sebuah titik. Jangan takut untuk keluar dari batas-batas kewajaran, jangan takut untuk keluar dari zona nyaman.

Bermimpilah yang besar. Bayangkan apa saja yang bisa digambarkan imajinasi dengan warna-warna indah yang menyenangkan. Tetapi ingat, tetapkan tujuan-tujuan. Sebab impian tanpa serangkaian tujuan-tujuan hanyalah lamunan belaka. Dan itu hanyalah bahan bakar yang sempurna bagi rasa kecewa.

Sejak kecil saya terbiasa bergerak dengan impian dan peta tujuan. Sejak Rizqa membacakan ‘ramalan’-nya untuk saya, saya mulai menyusun tujuan-tujuan mingguan, bulanan, tahunan, dan yang lebih panjang lagi. Dan memahami bahwa tujuan-tujuan itu seringkali bukanlah perkara-perkara mudah, saya harus selalu memiliki stamina yang cukup, disiplin yang bisa diandalkan, dan konsesitensi yang tak pernah kendur.

Itulah sebabnya saya bekerja keras setiap hari, saya rencanakan apapun saja dalam hidup saya. Sebab saya tahu yang membuat seseorang gagal bukanlah ketika semua rencana yang ia buat gagal, tetapi ketia ia gagal membuat rencana-rencana dalam hidupnya. Di atas semua itu, biarkan kerja keras yang membuat rencana-rencana itu bergulir dan menemukan kaki-kakinya untuk berlari.

Jika sebuah rencana sudah terbuat, teruslah bergerak untuk mewujudkan semua itu. Selesaikan apa yang sudah direncanakan. Melakukan banyak hal dalam hidup tidak sama dengan menyelesaikan banyak hal dalam hidup. Jangan salah memahami antara hidup untuk terus bergerak dan bekerja keras dengan hidup untuk mencapai tujuan-tujuan dan menuntaskan rencana-rencana. Kita bisa terus bergerak dan bekerja keras tetapi sebenarnya hanya jalan di tempat, bukan?

Di sanalah nasihat tentang ‘apapun yang bisa kau impikan akan kau dapatkan’ bisa menemukan relevansinya. Tebuslah dengan tekad dan usaha. Tebuslah dengan memberikan apapun yang terbaik dari diri kita. Dan saat Anda sudah mencapai hal baik yang Anda rencanakan, saat Anda sudah merasakan buah manis dari kerja keras Anda, kembalilah ke belakang… Ajak orang lain untuk sukses! Itulah yang akan membuat kita punya impian dan daya juang lebih hebat lagi. Tolonglah sebanyak mungkin orang, hidup kita akan jauh lebih bermakna saat kita bisa membuat banyak orang lebih berdaya.

Jangan egois. Jangan bercita-cita untuk bisa sukses dan membuat hidupmu sendiri bahagia. Bercita-citalah lebih besar lagi, buatlah perbedaan, bercita-citalah untuk bisa membuat banyak orang bahagia.

Tepat hari ini, 22 Agustus 2017, saya menginjak usia 31: Dan saya masih terus bergerak. Saya masih menjadi orang yang sama dengan ‘ramalan’ seorang istri di dalam dirinya. Bedanya, hari ini saya tak punya uang Rp. 20.000. Saya tak punya masalah untuk mearik sejumlah uang dari ATM. Dan saya tidak hanya berpikir bagaimana bisa membuat hidup saya sendiri, hidup orang-orang di sekeliling saya, bisa aman dan baik-baik saja. Saya berada dalam sebuah rangkaian rencana besar untuk bisa membuat hidup banyak orang, minimal puluhan orang yang bekerja di aneka perusahaan saya, lebih berdaya dan berbahagia.

FAHD PAHDEPIE