Nasihat Kecil untuk Para 'Biterhamen'

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Inspiratif
dipublikasikan 13 Agustus 2017
Nasihat Kecil untuk Para 'Biterhamen'

Jika kebahagiaan adalah sebuah rumah dengan banyak pintu untuk memasukinya, konon salah satu kunci pembukanya adalah bersikap jujur dan adil kepada diri sendiri.

Namun, seringkali kita berpikir terlalu banyak untuk melakukannya. Rasa takut dan khawatir yang terlalu besar tentang banyak hal sering justru membuat kita memilih untuk mengorbankan perasaan sendiri. Takut tidak disukai, takut menyakiti perasaan orang lain, takut tindakan kita memperburuk keadaan, terlalu khawatir tentang ini dan itu…

Saya ingat kisah seorang seniman yang karyayanya dihancurkan temannya sendiri. Seniman ini punya rumah tangga yang hampir hancur, perceraian sudah di depan mata. Di saat bersamaan, ia sedang mempersiapkan sebuah karya seni yang ia banggakan karena akan dipamerkan di sebuah galeri terkemuka.

Sudah hampir setahun ia bekerja untuk mempersiapkan karya seni yang ia sebut ‘masterpiece’ itu, ditemani sahabatnya yang hampir seminggu sekali selalu datang ke workshopnya untuk sekadar mengobrol atau memberi pendapat.

Suatu hari, seniman ini mulai menceritakan rencana perceraiannya dengan istrinya. “Apa saranmu agar pernikahanku bisa diselamatkan?” Tanyanya.

Sahabatnya sudah tahu sejak lama bahwa sang seniman punya masalah dalam rumah tangganya. Tetapi ia hanya mendengarkan saja, sesekali memberi saran. Namun, mendengar rencana perceraian ini ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. “Aku pikir, masalah utamanya karena kalian tidak adil pada pikiran dan perasaan satu sama lain.” Ujar Sang Sahabat.

Sang Seniman terkesiap, “Aku tidak mengerti,” ujarnya.

“Istrimu sering marah karena kamu sering pulang malam dan lupa makan. Aku pikir, marahnya bukan karena ia ingin marah kepadamu apalagi membencimu. Ia marah karena ia begitu meyayangimu. Aku pikir, ia tidak jujur pada dirinya sendiri. Jika sayang, seharusnya ia memilih ekspresi sayang. Bukan ekspresi benci.”

Seniman itu mengangguk-angguk ketika sahabatnya berusaha menjelaskan situasi yang tengah ia hadapi.

“Tapi, kamu pun begitu,” sambung Si sahabat. Sang seniman mulai mengubah posisi duduknya, mendengarkan apa yang akan sahabatnya katakan, “Aku tahu kamu menyiapkan karya ini untuk istrimu, seperti sering kamu ceritakan kepadaku. Tetapi, mengapa kamu tak pernah mengatakannya kepada istrimu? Gengsi?”

Sang seniman terdiam. Sahabatnya melanjutkan—

“Seandainya istrimu tahu bahwa sebenarnya kamu sibuk dan mencurahkan seluruh tenaga dan waktumu untuk karya ini karena kamu ingin mendedikasikannya kepada istrimu, mungkin ia akan jauh lebih mengerti. Sayangnya, kamu lebih sering memilih tidak jujur kepada perasaanmu. Saat kamu ingin marah, kamu memendamnya karena takut marahmu menyakiti istrimu. Saat kamu kecewa, kamu mengelola emosimu sendirian. Saat kamu sedih, kamu berusaha pura-pura kuat.” 

Sang seniman diam saja mendengar nasihat sahabatnya. Ia merasa segalanya masuk akal. Tak lama, sang sahabat berjalan mendekati karya seni sang seniman yang sudah dikerjakan hampir setahun penuh… Tanpa diduga, ia mengambil sebuah kapak dan menghancurkan karya seni itu.

Sang seniman kaget luar biasa, ia bangkit dari duduknya dan segera merebut kapak tadi dari sahabatnya, “Apa kau sudah gila?” Bentaknya.

Sang sahabat tersenyum, “Apa kau sudah gila?” Sang sahabat mengulangi kalimat itu dengan nada sinis.

“Karya ini sudah ditawar 300 juta oleh seorang kolektor!” Sang seniman tak bisa menyembunyikan amarahnya kepada sahabatnya.

“Karya ini kau persiapkan hampir setahun. Seluruh dirimu kau berikan di sini. Karya ini merekam bahagiamu, sedihmu, kecewamu, kesalmu, cemasmu, impianmu, idealismemu dan apapun saja. Semua yang ketika jadi satu seseorang bisa mengaguminya dan menghargainya hingga 100 juta rupiah! Tetapi semua itu bisa hancur dengan sebuah ayunan kapak saja, bukan?”

Sang seniman terdiam, dadanya masih sesak, bahunya naik turun.

“Pernikahanmu lebih besar dan lebih agung dari karya ini. Kau pahat bertahun-tahun dengan semua warna pikiran dan aneka perasaan kau tanamkan di sana. Semua yang menyenangkan dan memuakkan. Semua yang baik dan buruk. Semua yang masuk akal atau bisa membuatmu gila. Semua yang ketika jadi satu mungkin saja orang lain melihatnya sebagai sesuatu yang luar bisa. Tapi kau memilih untuk menghancurkan semua itu dengan satu kata ‘cerai’? Apakah pernikahanmu lebih murah harganya dari 100 juta rupiah? Apakah kau sudah gila?”

Tiba-tiba seniman tadi menangis. Tangannya bergetar. “Lebih baik aku kehilangan karya itu daripada aku kehilangan pernikahanku.”

Sang sahabat tersenyum lalu merangkul seniman itu.

Banyak kejadian yang mirip dengan kasus seniman tadi. Rumah tangga yang dibangun dengan ekspresi pikiran dan perasaan yang palsu hanya akan menimbulkan malapetaka belaka. Belajarlah untuk bersikap lebih jujur dan adil kepada pikiran dan perasaan sendiri.

Caranya? Jika sedih, menangis. Jika bahagia, tersenyum. Jika ingin, ungkapkan. Jika kecewa, jelaskan. Jika rindu, tuntaskan. Jika lapar, makan. Jika haus, minum. Jika bosan, jalan-jalan! Berhentilah bersikap palsu, tak usah terlalu banyak berpikir dan menafsirkan segala sesuatu sendirian. Komunikasikan segalanya dengan baik…

Apa kau sudah gila mau mengorbankan kebahagiaanmu yang lebih besar hanya untuk menjaga stabilitas-stabilitas kecil yang sepele belaka? Apa kau mau terus-menerus menyakiti dirimu sendiri sebagai seorang ‘biterhamen’?

Jangan pernah menjadi seorang ‘biterhamen’, bibir tersenyum hati menangis, bibir tersenyum hati menjerit.

 

Jakarta, 13 Agustus 2017

FAHD PAHDEPIE