Orangtua yang Mengajarkan Anak-anaknya Berwirausaha

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Enterpreneurship
dipublikasikan 20 Juli 2017
Orangtua yang Mengajarkan Anak-anaknya Berwirausaha

Pagi ini grup WhatsApp keluarga saya diramaikan oleh sebuah diskusi mengenai entrepreneurship alias kewirausahaan. Pasalnya, Zikra, sepupu saya yang baru duduk di kelas 3 SD, memutuskan untuk berjualan agar-agar dan slime (mainan anak-anak bertekstur lembut terbuat dari lem atau tepung kanji yang dicampur beberapa bahan lain serta pewarna) di hari pertamanya bersekolah. Pertanyaannya, apakah orangtua mengizinkan anaknya berjualan adalah sebuah keputusan yang bijaksana? 

Beberapa anggota keluarga kami begitu khawatir mengenai keputusan ini. Takut Zikra tidak konsentrasi belajar dan kelelahan karena harus berjualan di sekolah. Belum lagi jika kita mengingat bagaimana citra anak sekolah yang berjualan telah terbangun secara salah di benak masyarakat kita: Anak-anak yang berjualan di sekolah, atau sepulang sekolah dan masih mengenakan baju seragam, seperti sering kita lihat di berbagai tayangan sinetron dan FTV, kerap dipersepsikan sebagai anak yang berasal dari keluarga kurang mampu dan menderita batinnya karena ‘terpaksa’ harus berjualan. Apakah Zikra juga demikian? 

Rupanya, keinginan untuk berjualan itu datang dari Zikra sendiri. Sementara kondisi ekonomi keluarganya baik-baik saja. Sehari sebelum waktu sekolah tiba, Zikra mengontak teman-temannya yang ingin memesan agar-agar nutrijel darinya, “Mau rasa apa?” Katanya. Juga untuk slime-nya, “Mau yang warna apa?” Ia mencatat semua nama lengkap dengan pesanannya. Tentu saja ia menyiapkan semua barang jualannya dengan ceria, memasukkannya ke dalam tempat yang nyaman untuk ditenteng, memasang label harga, untuk keesokan harinya pergi sekolah dengan semangat karena calon pembelinya sudah menunggu pesanan. Zikra melakukan semua itu dibantu ibunya.

Saya menangkap semangat yang luar biasa dari anak ini. Bagi saya, sebagai anak SD yang baru duduk di bangku kelas tiga, ia memiliki imajinasi, inisiatif, kreativitas, serta keberanian yang luar biasa. Semua itu adalah modal yang penting dimiliki seorang entrepreneur untuk sukses di kemudian hari. Konon, selama bulan puasa kemarin, Zikra juga berjualan agar-agar di depan rumahnya. Bahkan hingga memiliki beberapa “karyawan”, teman-teman sepermaiannya, yang membantunya memasarkan agar-agar itu kepada orang-orang yang lewat.

***

Saya jadi ingat masa kecil saya. Waktu SD saya berjualan gambar untuk diwarnai. Strateginya, saya membeli poster bergambar Dragon Ball (pada saat itu di tahun 1995-1996 begitu populer) lalu menjiplaknya di kertas HVS. Hasil jiplakan itu kemudian ditebalkan memakai spidol, lalu difotokopi agar siap untuk dijual. Modal untuk memfotokopi hanya Rp. 25,- per lembar. Artinya dengan uang jajan Rp. 250,- saja, saya bisa mendapatkan 10 lembar. Kelak, gambar itu dijual seharga Rp. 100,- per lembar. Jika laku semuanya saya akan mendapatkan Rp. 1000,-.

Saat itu saya duduk di bangku kelas empat. Anak-anak kelas empat sudah malas mewarnai gambar semacam itu, tentu saja, mereka sudah pindah ke keasyikan yang lainnya. Maka saya mencari strategi pemasaran lainnya: Saya meminta bantuan dua adik saya, Farah dan Futih, yang masing-masing duduk di bangku kelas 3 dan kelas 1 untuk memasarkannya kepada teman-teman sekelas mereka. Semua berjalan baik karena gambar saya bersaing dengan gambar yang dijual Abang-abang yang biasanya hanya Doraemon, Mickey Mouse atau Donald Duck… Jika saya dapat untung Rp. 750 per hari, saya bisa membagi Rp. 150 ke Farah dan Rp. 100 ke Futih sebagai ‘marketing fee’. Saya memulai perjalanan bisnis saya dari sana.

Di SMA, saya menjalankan bisnis lainnya: Jual beli komputer rakitan. Saya mendapatkan ilmu merakit komputer karena sering merusak komputer saya sendiri di rumah. Ayah beberapa kali mengajak saya ke tempat service komputer di dekat kantornya, dua atau tiga kali saya diantar ayah ke sana dan selalu memerhatikan bagaimana tukang reparasi komputer membereskan masalah komputer saya. Mulai dari membongkar hardware-nya, memasang ulang, dan akhirnya menginstall ulang software-nya.

Saking seringnya saya bolak-balik ke tempat reparasi komputer, saya belajar ilmu merakit komputer. Suatu hari saya terpaksa membongkar komputer saya sendiri untuk kemudian saya pasang asal-asalan dan saya bawa ke tukang reparasi… Ketika melihat komputer saya, tukang reparasi sampai bingung, “Ieu komputer dikumahakeun?” Katanya bertanya dalam bahasa Sunda, apa yang sudah saya lakukan sampai berantakan begini? Saya nyengir dan memintanya merakit ulang saja komputer itu di depan saya. Untuk saya catat step-stepnya dan saya tanyakan jika ada yang tidak saya mengerti. 

Waktu itu saya sekolah di sebuah pesantren di Garut. Karena aktif di IPM, semacam OSIS, waktu itu kami diberi dana untuk membeli komputer sekretariat. Melihat kesempatan emas itu, saya yakinkan teman-teman untuk merakit sendiri saja, daripada membeli langsung. Harganya akan jauh lebih murah dengan spesifikasi yang lebih bagus. Teman-temanpun setuju dan saya mulai membelanjakan uangnya ke Jaya Plaza di Bandung untuk membeli beberapa hardware dan software. 

Saya merakitnya di sekretariat IPM, disaksikan beberapa teman lain. Dan, voila, semua berjalan sesuai harapan! Sejak saat itu, orang mengetahui keahlian saya di bidang komputer dan kerap dimintai bantuan ke kantor kepala sekolah atau ke ruang guru untuk menyelesaikan masalah komputer yang seringnya sepele saja.

Di sanalah saya melihat peluang untuk ‘menjual’ komputer rakitan kepada teman-teman saya dan beberapa guru. Saya melihat knowledge gap yang bisa dikonversi menjadi bisnis. Tak banyak yang mengerti komputer dan spesifikasinya, orang-orang di sekeliling saya pada saat itu hanya user saja yang tahu komputer jadinya saja. Bermodal kesempatan itu, saya mulai menawarkan komputer dengan harga yang lebih murah dan spesifikasi yang lebih baik… Tak diduga, sejak saat itu, saya kebanjiran banyak order!

Pernah dalam satu bulan di tahun 2003 saya bisa mendapat keuntungan bersih hingga Rp. 15.000.000,- dengan omzet lebih dari 60 juta. Saat itu, saya bahkan punya dua orang ‘karyawan’, teman dekat yang saya ajarkan merakit komputer dan menemani saya belanja, yang saya gaji per project setiap unit yang berhasil dirakit dan dijual.  

***

Pada saatnya, saya terus tumbuh menjadi entrepreneur dengan berbagai jenis dan bidang usaha yang saya tekuni. Ada yang berhasil, banyak pula yang gagal. Tetapi keasyikan menjadi seorang wirausahawan adalah tentang mengeksekusi ide dan imajinasi menjadi sesuatu yang bisa ‘dibeli’ orang lain. Saat kita menjual sesuatu, makanan atau barang, jangan bayangkan orang membeli barang atau makanan itu… Sebab sesungguhnya mereka sedang membeli ide den imajinasi kita di dalamnya. Itu yang mengasyikkan.

Jika dihitung sejak tahun 1995 saya mulai berjualan gambar yang dijiplak, hingga kini tak terasa saya sudah bergelut dengan dunia ini hampir 22 tahun. Tak pernah sekalipun saya merasa ‘berjualan’ sebagai sesuatu yang hina atau pilihan yang dibuat hanya karena saya butuh uang saja. Saya menjalankan semua itu dengan hati yang riang, meski kadang harus murung juga saat menderita kerugian bahkan bangkrut.

Kini, saya sudah memiliki empat perusahaan yang bergerak di bidang yang berbeda-beda. Saya pun mempekerjakan beberapa karyawan. Saya tahu, jika saya tak melewati masa-masa belajar berwirausaha ketika kecil, ketika masih sekolah, saya tak mungkin punya keberanian, determinasi, dan persistensi yang kuat untuk mengejar cita-cita dan menggapai impian-impian saya.

Ketika hari ini saya melihat foto Zikra bersiap berangkat sekolah dengan dagangan di sampingnya, saya tersenyum mengingat masa kecil saya, betapa anak ini nanti akan menghadapi cibiran dan pertanyaan dari banyak orang. Betapa anak ini nanti akan menghadapi cara pandang masyarakat yang menganggapnya tengah melakukan sesuatu yang salah… Karena mereka terlanjur percaya bahwa belajar berwirausaha sejak kecil, dengan cara berjualan, bukan sesuatu yang wajar. 

Namun, jika Zikra berhasil melewati semua itu, saya yakin ia akan tumbuh sebagai entrepreneur yang luar biasa suatu hari nanti. Ia akan punya cukup latihan untuk mengasah bakatnya sebagai seorang pengusaha sukses. Meski semua itu harus ia selalu tambahi dengan daya imajinasi yang lebih luas, cara berpikir kreatif yang lebih terasah, serta keberanian, daya tahan, dan konsistensi yang terus harus dilatih.

Dukungan dari orangtua dan lingkungannya juga tentu akan sangat penting. Ia harus lebih sering bertemu dengan orang-orang yang bisa ia jadikan teladan, yang dari mereka ia bisa belajar bukan hanya cara untuk sukses—tetapi juga cara bangkit lagi dari setiap kegagalan.

Akhirnya, apakah orangtua mengizinkan anaknya berjualan adalah sebuah keputusan yang bijaksana? Saya kira jawaban ini tergantung pada konteks dan kondisi yang dihadapi masing-masing individu dan keluarga. Tetapi, mengajarkan semangat berwirausaha sejak kecil pada anak-anak adalah sebuah ide luar biasa yang patut dicoba siapa saja. Mungkin tidak semua orang akan menjadi pengusaha, tetapi setiap orang perlu belajar memupuk mentalitas seorang pejuang yang kreatif menciptakan peluang dan tak mau menyerah dalam mewujudkan apa yang dicita-citakannya.

Selamat berjuang, Zikra. Kamu sudah memulai sebuah kemewahan yang luar biasa. Tak semua orang di dunia ini punya imajinasi dan gagasa, lebih sedikit lagi yang punya kemampuan dan keberanian untuk mengekseskusi gagasan-gagasan itu menjadi kenyataan. Tapi, yang paling sedikit adalah yang bisa mengubah semua itu menjadi peluang dan uang… Untuk setelahnya memberdayakan banyak orang.

 

Jakarta, 20 Juli 2017

FAHD PAHDEPIE

  • view 1.9 K