Surat Penting untuk Afi Nihaya Faradisa

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Tokoh
dipublikasikan 11 Juli 2017
Surat Penting untuk Afi Nihaya Faradisa

Afi yang baik,

Perkenalkan nama saya Fahd Pahdepie. Saya adalah seorang penulis yang pertama kali menerbitkan bukunya ketika kelas dua SMA. Kurang lebih seusia kamu, waktu itu… Kini, 14 tahun kemudian, saya sudah menulis banyak buku. Beberapa di antaranya disukai pembaca hingga menjadi best-seller. Tapi, banyak dari pembaca saya sekarang yang tak tahu bahwa dulu saya pun pernah menjadi seorang plagiat!

Ketika banyak orang memperbincangkan tulisan dan videomu yang menjiplak karya orang lain, ketika mereka terus merisakmu meskipun kamu sudah meminta maaf, saya hanya tersenyum. Seandainya mereka tahu bahwa semua penulis pernah berada di fase menjadi seorang plagiat, mungkin mereka tak akan melakukannya. Atau paling tidak, tak akan menghinamu secara berlebihan.

Afi yang baik,

Saya yakin semua penulis pernah meniru bahkan menjiplak karya orang lain, meskipun ketika membaca kalimat ini akan banyak penulis yang membela diri dan menolaknya mentah-mentah (bahkan mungkin saja kemudian membuli saya. Ha!). 

Saya yakin betul semua 'kreator' pada mulanya adalah seorang 'plagiator'. Bahkan menjadi seorang plagiat adalah fase yang sangat penting bagi seorang (calon) penulis. Perhatikan ini, deh: Ketika kita punya keinginan untuk memiliki karya orang lain yang kita anggap bagus, di sana artinya kita sudah punya selera dan bisa memilih mana karya yang bagus atau tidak, kan? Dan itu tentu proses yang penting dalam memulai sebuah kerja kreatif. Selanjutnya, tentu saja ada orang yang menjiplak secara terang-terangan, ada juga yang sembunyi-sembunyi. Saya tidak ingin mengatakan bahwa ‘ada yang ketahuan’ dan ‘ada yang nggak ketahuan’, lho! Hehehe.

Kata Austin Kleon, semua kreator membuat karya mereka dengan cara memodifikasi barang-barang ‘curian’. Karena menurut dia, nggak ada yang baru di dunia ini… yang ada adalah sintesis dari hal-hal yang sudah ada sebelumnya. Dia bahkan berani menyebut bahwa setiap kreator adalah pencuri! Bedanya, ada pencuri yang lihai alias profesional, ada pencuri yang amatiran. Baca deh bukunya, judulnya ‘Steal Like an Artist’ (2012).

Apa sih bedanya pencuri profesional dan pencuri amatir?

Pencuri amatir akan menjual hasil curiannya kepada penadah secara apa adanya. Tentu saja, ketika dia berusaha menjual barang curian itu, perasaannya akan tidak tenang karena takut ketahuan. Si pencuri juga akan menjual barang curian itu dengan harga yang relatif murah, yang penting laku saja. Di pasar loak pun nggak apa-apa. Namanya juga amatiran.

Cara ini tentu saja berbeda dengan cara yang dipakai pencuri profesional. Para pencuri profesional pertama-tama akan menimbun barang-barang curiannya di sebuah gudang, lalu memisahkan yang bagus dari yang jelek-jelek. Setelah itu, mereka memodifikasi barang-barang bagus dengan cara dirakit-ulang bersama barang-barang bagus lainnya agar mendapatkan bentuk baru… Misalnya kalau si pencuri ini spesialis mencuri sepeda motor, ia akan mengganti beberapa bagian dari sepeda motor itu sebelum dia jual lagi. Mungkin ban-nya diganti, body-nya diganti, mesinnya dibongkar-pasang dengan onderdil baru, dan lainnya.

Ketika sepeda motor curian yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa itu hendak dijual, si pencuri profesional akan relatif lebih ‘tenang’ ketika menjualnya. Harga jualnya pun biasanya lebih tinggi. Bahkan bisa jadi hasil modifikasi itu jauh lebih bagus daripada barang curian aslinya semula. Masuk akal, kan?

Afi yang baik,

Tadi saya ceritakan di awal bahwa dulu saya juga pernah plagiat. Bahkan mungkin lebih parah dari kamu dan nggak secanggih kamu ketika memodifikasi tulisan orang lain. Bedanya saya dan kamu mungkin sepele saja, tapi berefek luar biasa. Dulu, ketika saya masih plagiat, hanya orang-orang terdekat saya saja yang tahu karya saya. Di antara mereka ada yang akhirnya tahu saya plagiat, ada juga yang nggak tahu sampai sekarang…

Yah, namanya juga proses belajar. Saat orang mengetahui saya menjiplak, perasaan saya langsung nggak enak, merasa bersalah, malu, dan seterusnya. Tapi, untungnya mereka memaafkan saya. Dan saya terus belajar menulis agara tulisan saya jadi lebih baik dan bertanggung jawab, sebisa mungkin semua kata yang saya reka adalah buatan saya sendiri… Karena terus belajar, terus menulis, pada akhirnya saya merasa tak ada pentingnya untuk menjiplak karya orang lagi. Saat itu saya tahu, ternyata rasanya luar biasa ketika karya yang kita upayakan sendiri secara sungguh-sungguh dan jujur diapreasi dengan baik oleh orang lain.

Sialnya, kamu sekarang hidup di era media sosial. Di mana kamu terhubung dengan terlalu banyak orang yang tak benar-benar kamu kenal, apalagi dekat. Jadi saat kamu melewati proses belajar melalui meniru karya orang lain, kamu keburu dihina dan diejek habis-habisan. Mungkin ada di antara mereka yang memaklumimu, tetapi lebih banyak orang yang lupa bahwa kamu sedang berada dalam sebuah proses.

Ya, tentu saja, sialnya banyak orang juga yang doyan men-judge orang lain padahal orang lain itu sebenarnya sedang dalam proses. Sedang mem-belum. Dan sedang terus belajar.

Afi yang baik,

Saya menuliskan surat ini buat kamu tidak untuk menggurui. Mudah-mudahan kamu tidak merasa digurui. Nggak ada orang yang suka digurui, kan?

Saya hanya ingin berbagi cerita saja… Bahwa kamu tidak sendirian, kok. Bukan kamu saja yang pernah melalui proses ini. Saya pun pernah berada di situasi seperti kamu, 14 tahun lalu saat saya masih remaja SMA yang jatuh cinta pada buku-buku self help macam ‘Chicken Soup’ atau ‘7 Habits’, terbelalak membaca puisi-puisi terjemahan karya remaja Amerika atau Eropa yang kurang ajar bagusnya, terpesona pada kata-kata indah yang entah bagaimana caranya terasa ‘ini gue banget’.

Dulu saya sering menyalin kalimat atau tulisan-tulisan bagus itu untuk saya simpan di buku catatan saya. Saya baca berulang-ulang. Saya endapkan ke dalam diri. Nggak mustahil mungkin saja ada kalimat atau frasa yang keluar saat saya menulis dan saya lupa cantumkan sumbernya… Tapi, karena latihan bertahun-tahun, kalimat dan tulisan-tulisan hebat itu mengendap dalam pikiran dan perasaan saya untuk pada akhirnya keluar sebagai sintesis yang berbungkus rasa bahasa dan gaya ungkap saya sendiri.

Poin saya di sini, Afi, nikmatilah semua proses ini. Tapi ingat, ini hanya proses, bukan akhir dari segalanya, dan setiap proses harus dilalui untuk beranjak ke proses selanjutnya. Teruslah berlatih menulis hingga kamu bisa menjadi rendah hati dengan kata-kata, pikiran dan perasaanmu sendiri.

Afi yang baik,

Sebentar lagi saya akan mengakhiri surat saya ini. Surat ini mungkin akan sampai kepadamu dan kamu baca atau juga tidak. Tapi, mudah-mudahan ada yang bisa membantu saya menyampaikannya kepadamu. Di bagian akhir ini saya ingin memberimu sebuah tip sederhana, menulislah dengan semangat seperti sebuah kalimat yang pernah ditulis Chairil Anwar pada sebuah puisinya: “Bukan buat ke pesta!” (Oh iya, Chairil Anwar yang hebat itu pun pernah kena kasus plagiarisme lho! Setuju atau tidak, dia pernah plagiat juga sepertinya.) Sekarang, saya ingin memodifikasi kalimat itu: Menulislah bukan buat ke pesta!

Saat kita menulis ‘buat ke pesta’, mungkin ada perasaan ingin dipuji orang lain, mungkin ingin terkenal, mungkin ingin terlihat hebat. Sesekali tak apa-apa melakukan itu jika kita percaya diri dan bisa menjadi diri sendiri ketika melakukannya. Terpenting, menulislah dengan jujur dan bertanggung jawab untuk menemukan kehebatan kita sendiri.

Saya ingat nasihat Ali bin Abi Thalib tentang amsal cahaya dan sumber cahaya. Bahyak orang mencari cahaya tetapi melupakan sumber cahayanya, padahal cahaya hanyalah efek dari adanya sumber cahaya. Buat saya, popularitas itu cahaya, sementara karya adalah sumber cahaya. Mereka yang mencari popularitas akan berada di terang dunia, tetapi selama tak berkarya dengan baik, mereka tak menguasai sumbernya!

Akhirnya, Afi yang baik,

Teruslah berkarya. Teruslah berproses. Kamu remaja yang luar biasa. Untuk sementara, lupakan orang-orang yang merisakmu. Berilah waktu untukmu sejenak melanjutkan proses kreatifmu di ruang yang lebih sunyi dan lebih pribadi. Yang kamu butuhkan sekarang adalah orang-orang terdekat yang menyayangimu dan mengerti kamu.

Pada saatnya, keluarlah dengan semua hal hebat yang sudah kamu modifikasi melalui proses-proses sintesis yang panjang. Saat itu, tentu kamu sudah menjadi seorang profesional (Welcome to the club!).

Ingatlah semua ini akan terasa menggelikan saat kamu bisa memberi tahu penulis muda di bawahmu yang sedang berada di proses menjadi seorang plagiat. Kamu akan mengatakan kepadanya sambil mengutip Picasso, “Good artist copy, great artist steal!

Jika ia meminta nasihat yang lain, sodorkan saja kalimat perancang Yohji Yamamoto, “Start copying what you love. Copy copy copy copy. At the end of the copy you will find yourself.

 

Salam baik, 

FAHD PAHDEPIE

Pencuri profesional

 

PS: Afi, saya sengaja membuat surat ini jadi surat terbuka. Semata untuk membuktikan bahwa orang yang benci akan tetap ada, apapun alasannya, dan perisak (bully) ada di mana-mana. Kita lihat saja. :)

Oh ya, by the way, plagiarisme tetaplah tindakan yang tidak baik. Saat karya kita dijiplak orang, rasanya tidak enak juga. Tapi, kita yang sudah melewati proses itu akan maklum karena orang yang memplagiat karya kita juga mungkin sedang menjalani sebuah proses. Tulisan saya pernah dijiplak mentah-mentah dan di-klaim oleh seorang anak SMA bahkan dibacakan gurunya di TV nasional. Waktu itu saya menulis surat untuk anak itu. Isinya kurang lebih sama dengan yang saya katakan kepadamu... 


  • Shanti Agustiani
    Shanti Agustiani
    2 bulan yang lalu.
    Dari hati nurani paling dalam, saya tetap bangga pada remaja Afi Nihaya Fatadisa dan ikut berduka pada pem-bully yang luar biasa mematahkan jiwa seorang pencari jati diri seperti Afi! Terima kasih atas dukungan bang Fahd Pahdepie!

  • Hilmi Robiuddin
    Hilmi Robiuddin
    2 bulan yang lalu.
    Setuju Kak,
    Menurut saya, meniru adalah sifat dasar setiap orang...

  • Kartini F. Astuti
    Kartini F. Astuti
    2 bulan yang lalu.
    Aku pikir Fahd terlalu nekat: bunuh diri dengan mengakui diri pencuri. Tapi yah, kalau udah Fahd yang ngomong, semua orang bakal punya keberanian yang sama untuk jujur. Salut! Aku harus terusin surat ini ke Afi pakai paket super kilat.

    • Lihat 2 Respon

  • Niken Prahastiwi
    Niken Prahastiwi
    2 bulan yang lalu.
    saya pun seorang plagiator, khusus untuk makalah yang hanya akan dibaca dosen saya.