Mimpi-mimpi Bang Tato (10)

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Inspiratif
dipublikasikan 10 Juli 2017
Hijrah Bang Tato (Edisi Snackbook)

Hijrah Bang Tato (Edisi Snackbook)


Versi snackbook Hijrah Bang Tato ini adalah 10 tulisan yang saya tulis selama bulan Ramadan 2017 tentang Bang Tato. Kini 10 tulisan itu sudah menjadi bagian dari versi yang lebih panjang dari novel terbaru saya berjudul Hijrah Bang Tato (Oktober, 2017). Versi buku berisi 25 bab.

Kategori Roman

25.8 K Hak Cipta Terlindungi
Mimpi-mimpi Bang Tato (10)

Libur lebaran telah usai. Lalan kembali bekerja dengan penuh semangat. Tahun ini ia tidak kemana-mana, di rumah saja menghabiskan waktu bersama keluarga, membuatnya tak sabar ingin segera masuk kerja lagi. Hari kedua ia masuk kerja, kami baru bertemu. Saya baru sempat menengok Father & Son Barberspace lagi— 

“Jadi, bener-bener nggak kemana-mana lebaran kemarin, To?” Tanya saya, memastikan saja.

Ia mengangguk, “Di sekitar sini aja, A. Silaturahmi ke keluarga di sini aja. Paling jauh ziarah ke Serang,” Jawabnya sambil sibuk merapikan meja bar di tempatnya biasa membuat kopi.

Saya mengangguk-angguk.

“Sama ngajak Istri dan anak-anak main ke Pasar Cicangkal, paling…” Sambungnya. Tersenyum.

“Alhamdulillah,” timpal saya. “Gimana? Seneng mereka?”

“Iya, A. Alhamdulillah istri seneng banget. Tahun ini bisa beli baju. Bisa ngasih ke mertua. Bisa ngasih ke keluarga Lalan. Sampai-sampai bisa ngasih ke anak-anak yatim segala. Uang baru, lima ribuan…” Ia nyengir. “Padahal harusnya jangan dulu, ya, A? Belum juga apa-apa...” Sambungnya.

“Ya, nggak apa-apa. Bagus kalau sudah bisa berbagi.” Jawab saya. Sebagai laki-laki yang menjadi kepala keluarga, yang ingin membuktikan sesuatu kepada istrinya, saya mengerti suasana batin Tato.

Ia tersenyum lega, “Iya, A. Kemarin istri juga seneng banget bagi-bagi uang lima ribuan ke anak-anak kecil, tetangga sama anak-anak yatim. Rasanya gimana gitu. Malem sebelumnya kita ngobrol. Kata istri, ‘A, orang-orang tahunya Bang Tato udah sukses, lho’.” Tato bercerita dengan antusias. Saya menyimak dengan saksama, “Terus kata Lalan, ‘Masak, Neng? Terus gimana?’. Kata istri, ‘Malu atuh kalau nggak ngasih angpau’. Ada rasa sombong juga sih, A. Besoknya Lalan langsung nukerin duit lima ribuan. Dari situ bisa ngasih-ngasih ke anak-anak yatim sama tetangga deket…”

Saya tertawa. “Nggak apa-apa, To. Malah bagus kalau bisa berbagi…”

Dia nyengir. “Iya, A. Tapi, sekarang back to basic. Habis lebaran pusing lagi… Berjuang lagi.” Dia tertawa.

Ha. Rupanya itu yang membuat dia semangat bekerja.

Saya kira hal yang sama tidak terjadi pada Tato saja. Lebaran bukan hanya menyedot banyak energi, tetapi sering juga menghisap pundi-pundi ekonomi. Kalau tidak bijak benar, pengeluaran ketika lebaran bisa mengacaukan banyak hal. Mata hati seringkali digelapkan oleh perasaan-perasaan ingin dilihat orang, ingin dipuji orang, ingin dinilai sudah hebat dan bisa berbagi sebanyak-banyaknya… Banyak yang benar-benar bisa melakukannya, namun banyak pula yang berpura-pura sambil mengerahkan segala daya dan upaya. Yang sebenarnya tidak perlu… Kalau tidak ingin ‘kacau’ di masa setelah lebaran.

“Sekarang kacau?” Tanya saya. Meminjam istilah Tato untuk menyebut instabilitas ekonomi dalam keluarganya.

“Insya Allah aman, A.” Dia nyengir. “Tapi sampai sebulan kedepan mungkin makan telor terus.” Sambungnya. Nyengir.

Saya tertawa. “Kok bisa?”

“Di kampung ada juragan telor, punya peternakan. Tiap kali istri Tato beli telor di situ, uangnya ditolak terus, A. Mungkin karena dulu Tato menjaga keamanan di situ… Jadi diterima aja. Telor gratis seumur hidup.” Ia menjelaskan. Istilah ‘menjaga keamanan’ di sini harus dipahami bukan menjadi petugas sekuriti, tentu saja. “Kalau pas bosen telor, masih bisa kasbon ke warung Alim, A.” Sambungnya.

Saya mengangguk-angguk.

***

“A, udah dua malem istri mimpi hamil dan punya anak…” Ujar Tato. “Lihat di Google sih artinya bagus.” Sambungnya.

Saya tersenyum. “Iya. Biasanya bagus, To.” Sahut saya. “Bakal dapat rejeki.”

“Iya, A.” Matanya berbinar-binar. “Nanya ke mertua juga, ke Pak Haji, katanya bakal dapat rejeki mendadak.”

“Aamiin…”

“Tapi apa ya, A?” Wajahnya berubah bingung. Matanya menerawang ke langit-langit.

Saya tertawa. “Ya nggak tahu, To. Berdoa aja sambil berusaha…”

Dia nyengir. Setelahnya tampak sungguh-sungguh berpikir.

“Doain aja, A. Kemarin ada langganan barber yang minta dicariin tanah buat kos-kosan. Mudah-mudahan Lalan dapet. Lumayan kalau dapet…”

“Wah, mudah-mudahan. Siapa tahu rejekinya dari sana.” Ujar saya. “Kamu juga harus mulai berpikir punya impian yang lebih besar, To. Mungkin nggak selamanya kamu akan jadi kasir atau barista.” Sambung saya.

Tato tampak berpikir. “Iya, A. Cita-cita mah pengen punya usaha clothing. Punya distro yang ada tempat cukur dan kopinya. Bahagiain istri dan anak-anak.” Dia tersenyum.

“Wah bagus itu. Mudah-mudahan suatu saat bisa terwujud.” Ujar saya.

“Tapi sekarang belajar dulu di sini, A. Biar usahanya nggak kacau.” Dia nyengir.

Saya mengangguk. “Kita harus punya impian yang besar agar bisa terus berusaha dengan penuh semangat. Mimpi itu yang akan terus menarik kita untuk bergerak.” Ujar saya. Saya selalu merasa bahagia bertemu siapapun yang menceritakan impian dan cita-citanya. Di sana selalu ada energi luar biasa yang bisa saya rasakan, termasuk saat itu, ketika Tato menceritakan mimpi-mimpinya.

“Siap, A.” Sahutnya. Sigap.

***

“Tadi kamu cerita soal istrimu mimpi hamil dan punya anak,” Saya membetulkan posisi duduk saya. Tato mungkin menyadari nada bicara saya sedikit berubah lebih serius.

Ia memerhatikan saya lebih saksama. “Iya, A?” Wajahnya bertanya-tanya.

“Saya ke sini juga untuk menyampaikan sesuatu. Terkait mimpi juga…” Ujar saya.

Tato memasang kedua telinganya baik-baik.

“Semalam saya mimpi. Mimpinya bagus. Dan entah kenapa saya lihat kamu di mimpi itu…”

“Gimana, A?” Ia semakin penasaran.

“Saya mimpi membagi-bagikan makanan kepada banyak orang. Isinya nasi dan ayam. Di akhir, tinggal tiga orang lagi yang mendapatkan bagian makanan itu dari saya, kamu salah satunya. Jelas betul di mimpi itu saya menghampiri kamu dan mengambil ayam dari piring yang kamu bawa, saya mengambil sebagiannya lalu melemparkannya ke udara dan potongan ayam itu jatuh ke tanah. Kamu buru-buru mengambilnya lagi lalu membersihkannya dan menyimpan itu di piring. Nggak marah. Tak lama saya punya visi kamu naik ke atas sebauh pohon yang daunnya lebat sekali. Ternyata di sana banyak burung-burung kecil, seperti burung pipit atau burung gereja.

“Kamu memberi makan burung-burung itu dengan nasi yang sejak tadi kamu bawa, rasanya nasi itu tak habis-habis, bahkan menjadi beras dan gandum. Karena burung-burung itu senang kamu beri makan, sebagian di antara mereka menyingkap daun lebat di belakang kamu. Saya masih berdiri memerhatikan dari bawah. Ternyata di balik daun-daun itu banyak sekali buah-buahan. Seperti buah mangga tetapi agak besar seperti pepaya. Di sana ada satu buah yang paling matang, keemasan, lalu kamu mengambilnya.

“Dengan buah itu di tangan, kamu melompat. Saya melihat kamu meringis kesakitan setelah mendarat di tanah. Tapi tidak apa-apa. Lalu kamu buka buah itu dengan dua tangan. Di dalamnya, buah itu bercangkang hijau dengan isi berwarna kuning seperti nangka. Tak lama, kamu memberikan isi buah itu kepada saya.”

“Kayaknya mimpinya bagus, A.” Sahut Lalan.

Saya tersenyum. “Saya juga ngerasa gitu, meski nggak tahu artinya. Ketika saya bangun, ada perasaan bahagia. Dan isnting saya mengatakan bahwa saya harus bertemu kamu untuk menceritakan ini…”

“Apa ya, A, artinya?”

Saya menggelengkan kepala. “Apapun itu, mudah-mudahan baik buat kamu, juga buat saya.”

Lalan mengangguk.

“Saya punya perasaan yang baik tentang ini.” Ujar saya, “Mudah-mudahan kamu bisa mencapai impian-impian yang kamu cita-citakan.”

“Amin, A. Beberapa malam lalu ngobrol sama istri. Gara-gara tulisan-tulisan Aa di Facebook, di kampung banyak yang sekarang nganggap Tato udah sukses. Padahal, ya belum…” Dia nyengir. “Kata istri, harusnya ending ceritanya saya udah punya mobil, rumah megah, perusahaan, dan lainnya. Kayak buku Chairul Tanjung…”

Saya tertawa. “Ya, nggak gitu juga kali, To…” Ujar saya.

Lalan nyengir.

“Sekarang aja udah bagus. Minimal kamu sukses menginspirasi banyak orang. Nggak perlu kaya dulu seperti Chairul Tanjung untuk bisa memberikan kebaikan buat orang lain, kan…”

Dia mengangguk. “Iya, ya, A?”

“Yang penting kita bersyukur dengan apa yang sudah kita punya sekarang. Banyak orang yang mungkin punya impian setidaknya ingin seperti kamu… Dan kayaknya tulisan-tulisan saya soal kamu akan saya bukukan, To. Banyak yang merasa tidak punya harapan dalam hidupnya. Padahal kesempatan untuk berhasil dan bahagia itu selalu ada. Hidup selalu memberikan kita kesempatan kedua.”

“Jadi buku, A?” Wajahnya berbinar. Sumringah. “Wah!”

“Mudah-mudahan semuanya lancar. Kalau bukunya terbit, sebagian royaltinya saya niatkan untuk pendidikan anakmu, Qia.”

Tato tersenyum. Matanya sedikit berkaca-kaca. “Terima kasih, A.” Ujarnya. Saya melihat Impian-impian berlesatan dari kepalanya. "Sama sekali nggak nyangka."

Semantara saya masih bertanya-tanya, apa arti mimpi saya itu?

 

Pamulang, 5 Juli 2017

FAHD PAHDEPIE

(BERSAMBUNG)

PS. Ini adalah bagian terakhir dari serial tulisan saya tentang Hijrah Bang Tato yang saya bagikan di Facebook dan inspirasi.co. Cerita Bang Tato masih berlanjut, tentu saja. Namun, sampai jumpa di bukunya nanti… Oktober 2017 buku ini diterbitkan oleh Bentang Pustaka. Mudah-mudahan pada saatnya bisa jadi film juga. :)


  • Nia Asniawati
    Nia Asniawati
    8 hari yang lalu.
    Ditunggu filmnya bang, gk sabar dan menginspirasi sekali. Terima kasih dan sukses selalu

  • Ali Imran
    Ali Imran
    8 bulan yang lalu.
    Satu kata......keren

  • Masniwati Marunduri
    Masniwati Marunduri
    10 bulan yang lalu.
    Aku baca sampai akhir,, suka sekali. Tak ada yang tak mungkin jika ada usaha yang sungguh-sungguh...
    semoga juga bisa segera difilmkan,,, aamiin

  • Maya Maztreeandi
    Maya Maztreeandi
    1 tahun yang lalu.
    Ditunggu banget, Kang Fahd, bukunya. Semoga juga bisa difilmkan. Aamiin...