Balada Suami yang Sering Pulang Malam

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Inspiratif
dipublikasikan 05 Februari 2016
Kata, Rasa, Tanya

Kata, Rasa, Tanya


Sekumpulan tulisan lepas Fahd Pahdepie di berbagai media online.

Kategori Spiritual

150.9 K Hak Cipta Terlindungi
Balada Suami yang Sering Pulang Malam

Jika ada yang ingin saya ubah dari kebiasaan saya, hal itu pasti tentang pulang larut malam. Saya ingin setiap hari bisa tiba di rumah sore hari, sehingga bisa menghabiskan lebih banyak waktu bermain bersama anak-anak, berbincang bersama istri, bercengkrama dengan mereka semua.

Tapi, saya adalah suami yang sering pulang malam. Dengan satu dan lain alasan, pekerjaan dan aktivitas itu saya di hari kerja tak memungkinkan saya untuk bisa pulang sore. Apalagi pekerjaan dan aktivitas saya dihabiskan di kota seperti Jakarta. Macet selalu menghabat saya untuk bisa pulang cepat. Belum lagi jika pekerjaan padat merayap.

Dulu, ketika saya belum seperti sekarang, baik dari segi pekerjaan maupun padatnya aktivitas, saya selalu bisa pulang sore. Tapi waktu itu, saya selalu mengandaikan bisa punya pekerjaan yang lebih menjanjikan dan aktivitas yang lebih ?menghasilkan?. Kini, saya sudah punya dua hal itu, tapi ternyata itu membuat saya kehilangan waktu! Sekarang, sebagai manusia biasa, saya ingin dua-duanya, tentu saja! Sayangnya, saya belum bisa memiliki dua-duanya.

Dan sekarang, saya terpaksa mengorbankan waktu. Tak enak, memang. Sangat tak enak, tapi karena satu dan lain alasan, saya harus menempuh jalan ini. Saya harus menuntaskan pilihan ini.

Setiap kali pulang malam, seperti malam ini, pertama-tama saya selalu membayangkan istri saya, Rizqa. Ia tipe istri yang tak bisa tidur sebelum suaminya pulang. Tentu itu membuat saya merasa sangat bersalah? Meski Rizqa selalu bilang, ?Nggak apa-apa, aku ngerti, kok. Kita masih berjuang.? Tapi tetap saja saya merasa kasihan kepadanya. Lalu bayangan anak-anak menambah kesedihan saya, apa yang biasanya mereka lakukan di sore hari? Apa yang mereka kerjakan selepas magrib atau Isya? Betapa bahagia para ayah yang bisa memiliki banyak waktu bersama anak-anak mereka.

Suatu hari saya membicarakan masalah ini bersama Rizqa. Apakah dia keberatan dengan semua ini?

?Bagaimana lagi?? Ia balik bertanya, ?Aku ngerti, kok. Asal kamu nggak pulang malem karena main-main aja?? Nadanya sedikit mengancam.?

Saya tersenyum. Sambil menggeleng-gelengkan kepala, ?Enggak dong,? jawab saya, ?Kalau main-main, mending main-main sama anak-anak!?

Rizqa tersenyum. ?Pada waktunya, kamu akan punya banyak waktu, kok. Tapi, jangan salahkan anak-anak jika saat itu tiba, mereka yang nggak punya waktu.?

Jawaban Rizqa semakin membuat saya tertohok. Di satu sisi saya ingin mengakhiri siklus ini, semua pekerjaan dan aktivitas yang menyita waktu saya. Tapi di sisi lain, saya juga tak bisa melepaskannya begitu saja?

?Gini aja,? Rizqa tampaknya ingin mengajukan sebuah usul. Saya berusaha mendengarkannya dengan saksama. ?Aku nggak keberatan kok kamu pulang malem. Toh, aku juga tidurnya malem. Tapi kamu harus bangun pagi banget, usahakan main sama anak-anak selepas subuh sampai pagi. Bisa, kan?? Sambungnya bersemangat.

Saya mengangguk. ?Bisa,? jawab saya.

Rizqa tersenyum. Usulnya sedikit mengobati rasa bersalah saya.

?Satu lagi,? ujar Rizqa, ?Selarut apapun kamu pulang, aku akan nungguin kamu. Mudah-mudahan itu bikin kamu pengen cepet pulang, jika memungkinkan. Kita ngobrol. Seperti janji kita, minimal 2000 kata. Ngobrol apa saja. Sebab setiap hari, yang aku tunggu cuma kesempatan itu, saat aku bisa ceritain semuanya sama kamu??

Saya hanya bisa terdiam mendengarnya. Dan menganggukkan kepala.

Sampai saat ini, saya belum punya jalan keluar yang lebih baik dari konsekuensi atas semua pekerjaan dan aktivitas yang saya jalani setiap hari. Usul Rizqa adalah satu-satunya cara untuk sedikit memperbaiki semuanya? Sepulang kerja, selelah apapun, saya akan berbincang dengannya?meski hanya mendengarkan cerita-ceritanya.

Lalu saya akan masuk ke kamar anak-anak, mencium atau memeluk atau membetulkan selimut mereka. Lalu setelah semua selesai, saya kembali ke diri saya lagi: Membersihkan diri lalu beristirahat.

Besok pagi, saya berusaha bangun lebih dulu. Menunggu Kalky dan Kemi, dua putra saya, bangun. Lalu saya akan bermain bersama mereka berdua, sementara Rizqa mempersiapkan bekal sekolah anak pertama saya, Kalky. Biasanya kami punya dua jam atau dua setengah jam untuk semua itu? Hingga Kalky berangkat sekolah dan saya bersiap berangkat kerja.

Demikianlah, saat ini saya terjebak dalam siklus seperti ini. Entah untuk berapa lama. Mungkin hingga semua berjalan seperti rencana dan membuat saya punya banyak waktu luang untuk menikmati hidup?saat saya bisa menyeka keringat setelah semua kerja keras yang saya lakukan.

Jika hari itu tiba, semoga Rizqa selalu bersemangat dengan cerita-ceritanya. Semoga anak-anak masih terus bahagia bermain bersama ayahnya.

Dan saya akan tetap menjadi laki-laki yang sama, yang menyimpan keluarga di daftar nomor satu prioritas saya, tapi dengan cara yang lebih baik lagi. Cara yang bukan sekadar mengkhususkan akhir pekan hanya tentang dan untuk kebahagiaan mereka? Cara yang lebih memungkinkan saya untuk bisa lebih banyak bersama-sama mereka, tentu saja!

Jika ada yang ingin saya ubah dari kebiasaan saya, hal itu pasti tentang pulang larut malam. Tapi, begitulah, hidup ini seringkali harus kita jalani dengan cara yang ironis: Kadang kita harus mengambil sebuah pilihan agar bisa membahagiakan keluarga kita, tetapi di saat bersamaan pilihan itu membuat kita kehilangan waktu bersama mereka....

?

Pamulang, 5 Februari 2016

FAHD PAHDEPIE


*Gambar diambil dari sini.


  • Indah Yuniar
    Indah Yuniar
    8 bulan yang lalu.
    So sweet bang,,, ☺

  • Niko Arwenda
    Niko Arwenda
    1 tahun yang lalu.
    jadi makin membalada karena posisi yang bukan hanya sering pulang malam, bahkan pulang seminggu sekali..

  • Yudhi Hendratmoko
    Yudhi Hendratmoko
    1 tahun yang lalu.
    kalau saya sering pulang malam malah inginnya bisa ngobrol dengan istri saya. Tapi anak dan istri saya sudah pada tidur. Istri saya seorang guru sdit yg full time ngajar dari pagi sampai sore jadi sudah capek duluan. Malah saya yang bangunkan istri saya hanya untuk sekedar ngobrol, tanya tentang peristiwa yang terjadi setiap harinya.

  • Cahyono Ananta Toer
    Cahyono Ananta Toer
    1 tahun yang lalu.
    tulisan berdaging juga inspiratif bagi pembaca. keren bang

  • TrishNa 
    TrishNa 
    1 tahun yang lalu.
    Dilema manusia perkotaan