Impian Kecil Istri Bang Tato (9)

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Inspiratif
dipublikasikan 22 Juni 2017
Impian Kecil Istri Bang Tato (9)

Suatu hari Lalan datang ke kantor saya sambil membawa sebuah proposal.

“A, kalau Lalan ngasih proposal nggak apa-apa?” Tanyanya ragu.

“Proposal apa?”

“Kelulusan anak-anak TPA, A.” Ia menjelaskan. “Istri di rumah bikin pengajian anak-anak gratis setiap sore. Bulan ini mau kelulusan, katanya pengen agak spesial. Tapi nggak ada dananya.” Dia nyengir. “Saya bantu istri buat proposal ini.” Sambungnya sambil menunjukkan proposal yang tadi ia bawa.

Saya mengambil proposal itu dan membolak-balik halamannya. Proposal yang begitu sederhana. Hanya berupa gambar-gambar dan beberapa kalimat sederhana. Di bagian terakhir, ada kebutuhan biaya untuk acara kelulusan santri TKA dan TPA. Biaya yang dibutuhkan hanya Rp. 1.500.000 untuk sewa panggung dan sound system.

“Alhamdulillah kalau konsumsi dari warga, A. Orangtua anak-anak yang ngaji mau patungan buat snack sama minuman. Ustadnya juga nggak perlu dibayar, mertua sendiri,” Ia menjelaskan lagi.

Saya tersenyum. Baru kali ini saya mendapatkan proposal sesederhana ini. Dengan ekspektasi yang juga apa adanya.

“Acara ini beneran?” Saya mencoba skeptis.

“Beneran, A. Nanti Aa diundang juga buat sambutan.” Ujarnya.

Saya tertawa. “Apa hubungannya? Kok saya sambutan?” Tanya saya. Masih menahan tawa.

Lalan menggaruk kepalanya. “Nggak tahu, A. Kata istri, Aa sambutan aja. Sebagai orang yang berjasa pada kami…”

Saya menggelengkan kepala, kali ini tersenyum saja. “Ya udah. Insya Allah saya ikutan buat bayar panggung dan sound system. Tapi, saya nggak bisa sambutan.” ujar saya.

“Serius, A?” Air muka Lalan berubah girang, “Alhamdulillah.” Ujarnya.

***

Seminggu berselang. Lalan datang lagi membawa laporan penyelenggaraan acara. Ia tunjukkan kepada saya foto-foto acara. Saya tersenyum melihat anak-anak yang bahagia di hari kelulusan mereka dari madrasah. Masing-masing tampil di atas panggung. Mereka menyebutnya ‘imtihan’.

“Sayang A Fahd nggak bisa hadir,” ujar Lalan, “Padahal ditungguin warga, A. Katanya pengen tahu…”

Saya tersenyum. “Kemarin ada acara lain, To.” Ujar saya. Agak berbohong, sebenarnya. Saya hanya merasa tak perlu hadir saja ke acara tersebut.

“Oh iya, A. Ada videonya juga.” Ujar Lalan. Ia berusaha mencari file di handphone-nya. Tak lama, lalu menujukkan sebuah video kepada saya.

Di video tersebut. Anak-anak kecil berusia 5-12 tahunan berbaris membentuk saf yang rapi. Anak-anak yang tinggi berdiri di belakang. Anak-anak yang lebih kecil berjejer di depannya. Setelah dikomando dengan hitungan satu sampai tiga, saya bisa mendengar suara Lalan yang mengomando mereka, anak-anak itu berteriak serentak, “Terima kasih untuk dokter Fahd Pahdepie, jazakallahu khairan katsira…" 

Saya tertawa, lalu mengonfirmasi kepada Lalan, “Kok saya jadi dokter, To?” Tanya saya.

Lalan tertawa. “Iya, A. Abisnya bingung. Kata istri, Aa kayak dokter. Jangan-jangan dokter… Udah, dokter aja.” Ujarnya.

Tawa saya makin keras lagi. 

***

Tampaknya, pernikahan bukan hanya telah mengubah hidup Lalan. Istrinya, Nurmah namanya, juga menjadi sosok penting dalam perjalan hijrah Bang Tato. Sejak pertama kali saya bertemu dengannya, ia kerap membanggakan istrinya. Sosok yang menurutnya begitu sabar… Yang mau menerima dirinya apa adanya. Putri seorang ustadz yang bahkan rela terus mengaji di saat lapar, alih-alih mengeluh kepada suaminya yang sedang tidak punya uang, padahal saat itu Nurmah sedang hamil.

“Tapi, saya belum bisa mewujudkan impian istri saya, A.” Keluhnya di hari yang lain.

Saya memerhatikan wajahnya yang tiba-tiba murung, “Istri saya pengen makan di Bupé, A. Waktu itu kita lagi lewat sana. Dia bilang, ‘Suatu saat kita makan di sini ya?’. Lalan cuma iya-in aja. Tapi belum bisa ngewujudin. Insya Allah suatu saat pasti bisa.” Ceritanya.

Di daerah Serpong, ada sebuah restoran keluarga bernuansa alam bernama Bumi Pelayangan. Orang-orang menyingkatnya dengan sebutan Bupé. Saya cukup terkejut mendengar tempat itu begitu diimpikan oleh istri Lalan. Sementara bagi saya dan banyak orang, mungkin makan di tempat seperti itu merupakan hal yang biasa saja… Tak ada yang sangat istimewa.

“Serius mau makan di Bupé, To?” Tanya saya, masih agak heran. Tiba-tiba rasa bersalah menguasai saya.

“Iya, A. Itu cita-cita istri. Tapi, pasti harganya kacau.”

Saya mengangkat telepon dan mencari sebuah kontak. Setelah dapat, saya segera melakukan panggilan, “Bang Blek, nanti kalau ada staff saya ke Bupé, tolong dijamu, ya?”

Lalan hanya bengong melihat saya membuat panggilan itu. Saya menelepon Andre Sumanegara, General Manager Bumi Pelayangan… Teman baik yang sudah saya kenal cukup lama. Saya biasa memanggilnya Bang Blek. 

“Bupé itu punya temen saya, To. Kapan-kapan kamu ke sana ajak istri, makan sepuasnya…”

***

Kemarin, saya menemui Lalan di Father & Son Barberspace untuk menyerahkan THR. Ia begitu sumringah saat menerimanya. Belakangan, saya membaca status Facebooknya tentang ini, ia menulis: “Untuk para pengusaha warung dam lainnya di wilayah Cicangkal Rumpin dan sekitarnya, saya tahun ini gak akan datang minta THR kok, tenang, saya sudah punya pekerjaan, maafkan saya jika dahulu minta THR nya kasar.” Status itu diakhiri beberapa tanpa senyuman dan sepasang tangan menangkup.

“THR mau dipakai buat apa, To?” Tanya saya.

“Buat ngajak istri buka di McD… Sama buat beli baju lebaran istri dan anak, A.” Ia tersenyum lebar. “Dari kemarin cemberut terus nanyain kapan beli baju lebaran?”

Saya tersenyum. “Sekarang udah bisa beli baju lebaran.”

“Iya, A. Alhamdulillah.” Sahutnya, “Kemarin pulang kerja Lalan ke ITC lihat-lihat. Pas pulang ke rumah, istri nanya, ‘Dari mana dulu?’ Saya jawab, dari ITC. Wah istri saya langsung girang banget sampai ngelonjak, A! ‘Abis beli baju buat eneng, A?’ Katanya. Tapi, saya jawab, ‘Bukan. Cuma survey’. Dia langsung cemberut lagi.” Ceritanya.

Saya tertawa.

“Sekarang mau ke sana, bukan cuma survey.” Sambungnya.

“Ajak istri, To.” Ujar saya.

“Pasti, A. Itu cita-cita dia…” Katanya.

Tak banyak suami yang mendengarkan dan merekam baik-baik semua impian dan cita-cita istrinya. Bagi saya, Lalan termasuk di antara yang sedikit itu. Jika ia konsisten dengan doa dan kerja, ia akan termasuk di antara para suami yang selalu berusaha membahagiakan istrinya… Yang hanya akan dibalas Tuhan dengan kebahagiaan-kebahagiaan lainnya yang lebih besar dalam hidupnya.

(Bersambung)

 

Ciputat, 27 Ramadan 1438 H

FAHD PAHDEPIE

 

PS. Tulisan ini merupakan bagian kedelapan. Anda bisa membaca bagian sebelumnya dari serial Hijrah Bang Tato di sini.