Surat Kecil untuk Tuhan: Film yang Berpijak Pada Konteks

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Lainnya
dipublikasikan 21 Juni 2017
Surat Kecil untuk Tuhan: Film yang Berpijak Pada Konteks

Selasa malam (20/6), atas undangan Falcon Pictures, saya berkesempatan turut menyaksikan gala premiere film terbaru Fajar Bustomi berjudul Surat Kecil Untuk Tuhan (2017). Film yang dibintangi Bunga Citra Lestari dan Joe Taslim ini berusaha mengangkat sejumlah persoalan serius menyangkut eksploitasi dan perdagangan anak di Indonesia. Diputar serentak menjelang lebaran tahun ini, bagi saya film ini adalah sedikit dari film Indonesia yang dibuat secara ‘sadar konteks’.  

Tak banyak film Indonesia yang cerita dan pengemasannya berpijak pada konteks sosial yang terjadi di sekeliling kita. Atas nama pasar, industri perfilman Indonesia lebih banyak diisi oleh cerita-cerita yang hanya mengutamakan aspek hiburan belaka. Bahwa film yang menghibur, dalam pengertian yang paling luas, lebih laku dan penting untuk mendorong industri perfilman tanah air, itu soal lain. Namun, bagi saya, kita juga memerlukan lebih banyak produser dan film-maker yang berani mengambil ‘resiko’ untuk meng-address isu-isu sosial yang penting untuk diperbincangkan secara lebih serius dan mendalam. 

Saya akan sedikit mengulas pengalaman dan kesan saya menonton film Surat Kecil Untuk Tuhan dari aspek social commentary-nya. Secara umum, social commentary bisa dipahami sebagai sebuah tindakan dengan menggunakan medium tertentu, seperti cerita atau film, untuk membawa sebuah isu ke tengah medan percakapan masyarakat. Hal ini biasanya dilakukan untuk mengubah suatu gagasan menjadi ajakan atau promosi untuk melakukan perubahan penting di tengah masyarakat yang didorong oleh keinginan untuk menegakkan nilai-nilai keadilan. Saya tak akan berusaha membahas film ini dari sudut pandang artistik, karena bukan keahlian saya. 

Paling tidak, ada tiga permasalahan sosial penting yang berusaha disampaikan film Surat Kecil Untuk Tuhan untuk kita renungkan dan cari solusinya bersama-sama. Pertama, soal anak jalanan dan praktek-praktek eksploitasi pekerja anak di bawah umur. Kedua, soal perdagangan anak (human trafficking) yang termasuk di dalamnya praktek-praktek ilegal jual beli organ. Ketiga, soal masyarakat yang abai terhadap masa depan dan hak-hak anak.   

Dalam rangka meng-address isu pertama, film ini berkisah mengenai perjalanan kakak-beradik yatim-piatu bernama Angel dan Anton yang terpaksa harus kabur dari rumah paman mereka karena kerap mendapatkan perlakuan kasar dan abusive. Karena usia mereka masih sangat belia, masalah tentu tidak selesai begitu saja setelah mereka kabur dari rumah. Mereka justru harus terjebak dalam kerasnya kehidupan jalanan. 

Di sanalah mereka terperangkap dalam jaringan yang mempekerjakan dan mengeksploitasi anak-anak jalanan di bawah umur. Mereka harus menukar ‘nasi, atap dan alas tidur’ dengan bekerja keras siang-malam untuk memberi setoran kepada Om Rudi, pemimpin jaringan itu, yang tak segan-segan menyiksa mereka jika setorannya kurang.

Pada scene di mana Anton dan Angel harus mengamen di tengah hujan, takut pulang karena setoran mereka belum cukup, saya terdiam lama. Saya membayangkan berapa banyak anak-anak jalanan yang kerap saya temui selama ini yang punya nasib seperti Angel dan Anton? Berapa banyak anak-anak kecil yang harus menukar ‘nasi, atap dan alas tidur’ dengan bekerja berjam-jam di segala cuaca di tengah kejamnya jalan-jalan kota?

Saya kira, di titik ini film Surat Kecil untuk Tuhan berhasil membawa sebuah tema penting untuk kita rumuskan bersama solusi-solusi nyatanya. Apalagi, berdasarkan survey the Walk Free Foundation pada tahun 2016, Indonesia masuk ke dalam daftar 10 besar negara dengan tingkat perbudakan modern tertinggi di dunia (Sumber).

Tak berhenti di sana, ternyata Om Rudi (diperankan oleh Lukman Sardi) juga merupakan bagian dari sindikat perdagangan anak. Anak-anak jalanan yang selama ini ia ‘asuh’ itu, konon sedang dipersiapkan saja untuk pada saatnya bertemu dengan orangtua angkat mereka. Namun, nyatanya, mereka tak benar-benar diadopsi, mereka justru diperjualbelikan. Bahkan, di bagian akhir dari film ini, Anda akan diantarkan kepada sebuah problema yang lebih pelik lagi dari sekadar praktek perdagangan manusia (human trafficking), sesuatu yang lebih sadis dan kejam yang sayangnya sungguh-sungguh terjadi di dunia kesehatan di Indonesia.

Terlepas dari gaya bercerita, penggarapan, dan pencapaian artistiknya, bagi saya film Surat Kecil Untuk Tuhan ini menjadi penting untuk ditonton semua kalangan karena berpijak pada konteks sosial yang tak bisa kita abaikan. Berdasarkan data Laporan Perdagangan Orang 2016 dari Kedutaan Besar Amerika Serikat, Indonesia menempati tingkat dua sebagai negara dengan tingkat perdagangan manusia yang memprihatinkan—termasuk di dalamnya perdagangan anak (child trafficking) yang dipaksa bekerja dengan perlakuan-perlakuan kasar, korban perdagangan seks dan lainnya (Sumber). Bahkan, pada tahun 2014 saja, diperkirakan lebih dari 100 ribu anak Indonesia menjadi korban perdagangan anak setiap tahunnya (Sumber).

Tak kalah penting, film ini juga mengingatkan kita untuk lebih peduli pada masa depan dan hak-hak anak di Indonesia. Selama ini, masayarakat kita telah begitu abai pada hak-hak anak, bahkan dunia hiburan pun tak menyediakan tontonan dan konsumsi yang layak untuk mereka. Di televisi, selain kartun-kartun impor, hampir sulit untuk menemukan tayangan yang ramah anak. Industri musik entah mengapa berhenti memproduksi dan mempromosikan lagu-lagu anak. Bioskop juga sepi oleh film-film tanah air yang bisa ditonton anak-anak.

Seolah sadar pada konteks dan kebutuhan itu, Falcon Pictures mengemas film ini bukan hanya layak ditonton anak-anak, tetapi juga membawa moralé of story yang hendak mengatakan bahwa sudah saatnya kita menaruh perhatian lebih kepada generasi penerus bangsa. Sepanjang cerita, aneka lagu-lagu anak terbaik tanah air menjadi lagu latar (soundtrack) film ini, mulai dari Bintang Kecil, Ambilkan Bulan Bu, sampai Tik Tik Tik Bunyi Hujan yang seluruhnya dinyanyikan oleh anak-anak dalam nuansa orkestra yang megah.

Akhirnya, film ini merupakan film yang layak untuk kita tonton pada Lebaran tahun ini. Film ini akan membuat kita bertanya, merenung, mengucap syukur, sekaligus mengajak kita untuk mulai bertindak nyata menyelamatkan dan berbagi kepada sesama.

Selamat untuk Falcon Pictures, selamat menonton untuk Anda. 
 

FAHD PAHDEPIEPenulis, anggota Monash Global Leaders

  • view 543